Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
86. Mengetahui penyakit Doni


__ADS_3

"Sabar, Bu." ucap para tetangga, sambil mengusap punggung Bu Mirna yang menangis tersedu dan terduduk di lantai.


Melihat mayat Doni yang telah rusak, karena menjadi santapan hewan kecil, membuat mereka merasa kasian sekaligus iba.


Beberapa orang yang tidak tahan akan bau tubuh Doni yang menyengat, berlari keluar hingga muntah. Dan ada yang segera melaporkan kejadian itu pada ketua RT setempat.


Hanya dalam hitungan menit, kabar meninggalnya Doni yang tak lazim, telah menyebar ke seluruh desa tempatnya tinggal.


Warga segera berdatangan ke rumah Bu Mirna. Untuk menyaksikan sendiri apakah berita itu benar atau tidak. Dan sekaligus membantu mengurus jenazahnya.


Semua terhenyak dan hanya sebagian yang berani mendekat. Lainnya hanya melihat dari ambang pintu yang dibuka lebar.


Meskipun mereka sudah menggunakan masker yang berlapis, tetap saja baunya masih terasa menyengat.


Kenapa bisa anaknya meninggal dan ibunya yang setiap hari di rumah tidak segera mengetahui akan hal itu.


Apakah hidungnya tidak bisa mengendus? Ataukah ada hal yang membuat ibu dan anak itu menjadi tidak dekat?


Padahal para tetangganya saja tidak tahan akan bau itu. Dan itulah yang menjadi pertanyaan besar para tetangga.


Namun walau bagaimana pun juga, yang namanya hidup bermasyarakat harus lah saling tolong menolong.


Maka dari itu semua tetangga membantu mengurus prosesi penguburan jenazah. Agar bisa dikebumikan secara layak.


Untuk mengungkap kematian Doni yang penuh misteri, seorang tetangga yang kebetulan bekerja di rumah sakit, segera mengundang team forensik untuk mengotopsi jenazah Doni terlebih dahulu.

__ADS_1


Hampir satu jam team dokter mengecek tubuh Doni. Setelah selesai, barulah jenazah siap dikebumikan.


Tidak banyak yang hadir melayat jenazah Doni. Hanya warga sekitar saja. Karena memang Doni putus hubungan dengan teman kantornya sudah cukup lama. Selain itu ia juga tidak memiliki kerabat dekat.


Bu Mirna tak henti-hentinya meneteskan air mata. Bahkan ia sempat pingsan. Karena membayangkan kisah hidup anaknya yang sungguh tragis.


Ia baru menyadari jika semua itu karena ulah dirinya. Yang lebih mengutamakan harta dibandingkan ketulusan cinta.


Ternyata karena ambisinya untuk menjadi orang kaya justru membawa mala petaka bagi anaknya.


Harta boleh dan wajib di cari, karena itu sumber penyambung hidup kita selama di dunia. Tapi kita juga perlu mengingat, bahwa kita tidak boleh tamak. Apalagi sampai menimbun harta. Karena itu yang akan menjadi bahan bakar ketika dihukum di akhirat.


Dan kini setelah Doni meninggal, bu Mirna baru menyesali semua itu.


Jenazah Doni mulai diangkat oleh beberapa warga menuju tempat pemakaman umum. Bu Mirna dengan langkah tertatih ikut mengantarkan putranya ke peristirahatan terakhirnya.


Beberapa ibu-ibu yang ikut mengantarkan jenazah, mengajak Bu Mirna pulang, karena hari sudah hampir gelap.


Setelah selesai tetangga sekitar pulang ke rumah masing-masing untuk membersihkan tubuh dan mengerjakan sholat Maghrib.


Saat itu team forensik memberi tahu pada Bu Mirna bahwa, anaknya meninggal karena penyakit Gonore, atau penyakit kelamin.


Mendengar hal itu Bu Mirna semakin terisak. Ia tidak merawat anaknya yang sakit. Karena anaknya tidak pernah memberitahukan akan hal itu padanya. Ia menyimpan penyakitnya itu dan berjuang seorang diri.


Hanya ada penyesalan dan penyesalan di hati Bu Mirna.

__ADS_1


Ba'da Isya' beberapa tetangga dekat kembali ke rumah Bu Mirna. Mereka hendak menggelar doa bersama untuk jenazah Doni.


Sedangkan ibu-ibu sekitar membawa cemilan dan membuatkan minuman. Agar bisa di makan setelah acara yasinan selesai.


Setiap lantunan ayat suci yang di dengar Bu Mirna, semakin membuat dirinya terisak. Hingga matanya bengkak. Ia sadar telah melalaikan Tuhannya selama ini. Ia tidak pernah melaksanakan kewajibannya.


**


Seminggu sudah kematian Doni. Berita yang beredar mengenai penyebab kematiannya santer beredar.


Para tetangga tak menyangka jika Doni bisa sampai mengidap penyakit seperti itu. Mereka terus menduga-duga, apa yang pernah dilakukan Doni semasa hidupnya.


Sejak kematian Doni, Bu Mirna tak pernah keluar rumah. Ia hanya duduk di sofa depan televisi dengan pandangan yang nanar.


Para tetangga hanya sesekali datang mengunjunginya. Untuk memberinya makanan. Karena mereka tahu jika Bu Mirna sedang sangat terpuruk.


**


Di lain tempat, Mala tengah menikmati kebahagiaannya sebagai pengantin baru.


Setelah melewati serangkaian acara pesta pernikahan, ia dan Mahes berangkat ke tanah suci untuk melakukan umrah.


Disana, keduanya berdoa untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal. Mendoakan kebaikan untuk orang-orang terdekatnya, yang telah mendukungnya saat keadaan keduanya sedang terpuruk.


Berdoa agar bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berwawasan, sholih, sholihah, taat agama dan senantiasa terus menyebar kebaikan bagi sesamanya.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2