
"Bibi mau jalan kemana dulu." tawar Mala dengan senyum yang tulus.
"Lhoh, kok jadi bertanya ke bibi sih non. Kita mah ngikut non Mala saja." ucap bibi dan menyenggol lengan teman sejawatnya.
"Bibi mau lihat-lihat baju dulu ngga?" tawar Mala kemudian, ia tahu jika ketiga asisten rumah tangganya pasti malu jika harus menunjuk sesuatu.
"Mahes ayo kita ke store baju." ucap Mala kemudian. Dan mereka pun berjalan menuju gerai yang dimaksud.
"Bibi bisa pilih baju yang mana yang kalian sukai. Nanti Mala yang bayarin."
"Hah, serius non?"
Sekali lagi Mala mengangguk yang diiringi senyuman.
"Terima kasih non." ucap bibi kompak.
Mereka pun segera memilih baju.
"Mahes, kamu juga silahkan pilih baju."
"Saya masih punya baju banyak kok non. Non Mala saja yang pilih."
"Kok kamu malah menyuruhku balik sih?" Mala menatap Mahes, dan tentunya diiringi senyum tipis.
Wanita itu memang murah senyum. Apalagi kepada orang-orang yang baik dan sangat berjasa padanya.
"Karena biasanya wanita akan bilang begini saat pergi, 'kok aku ngga punya baju sih'. Padahal kenyataannya bajunya sudah bertumpuk-tumpuk di almari." kekeh Mahes.
"Ah, Mahes. Kamu bisa saja." tanpa sadar Mala mendaratkan sebuah cubitan ke perut Mahes. Tangannya segera di pegang Mahes, dan keduanya saling beradu pandang.
__ADS_1
Tanpa sengaja, Doni yang juga ada di gerai itu membulatkan matanya ketika melihat wanita dan laki-laki yang saling beradu pandang penuh cinta.
"Mala?" gumamnya.
"Dia bilang aku selingkuh, nyatanya dia juga selingkuh. Teganya."
Doni segera mendekati mereka.
"Lepaskan istriku." ucap Doni sambil melepaskan kedua tangan Mahes dan Mala. Yang membuat mereka terkejut.
"Mas Doni." gumam Mala, ia dan Mahes mengernyitkan dahi melihat kedatangan Doni yang tiba-tiba.
"Kamu menuduhku selingkuh. Lalu kamu dan laki-laki ini apa namanya?"
"Jangan asal bicara kalau tidak tahu kebenarannya." Mahes berkata datar.
"Halah, ngga usah munafik. Di depan saja kelihatan baik, tapi di belakang," ucap Doni.
Doni yang melihat perilaku ibunya, menepuk jidatnya karena malu. Lalu bergegas mendekatinya. Mala dan Mahes pun ikut mendekat.
"Ibu!" ucap Doni yang membuat kedua wanita itu berhenti tarik menarik baju.
"Kenapa berisik sih? Ngga di rumah, ngga disini, sama saja." Doni meluapkan kekesalannya.
"Jangan nyalahin ibu dong. Ibu kan mau ambil baju ini, tapi diserobot sama tuh orang. Lagian orang seperti dia, mana mampu beli baju semahal ini. Pasti deh dia kesini cuma mau mencuri." cibir Bu Mirna.
"Astaghfirullah, anda kelewatan sekali. Menuduh saya seperti itu" bibi mengusap dadanya.
"Maafkan bibi non, sudah buat keributan. Tapi yang ibu itu katakan tidak benar. Niat saya tadi ambil baju ini karena mau mencoba. Tapi ibu ini datang dan menarik baju ini. Otomatis saya melawan." jelas asisten nya Mala.
__ADS_1
"Benar apa yang ibu ini katakan bu?" tanya Doni pada ibunya.
"Tentu tidak benarlah. Ibu sudah jelaskan sama kamu tadi kan?"
Tanpa bibi menjelaskan, Mala tentu lebih percaya dengan asistennya. Karena mereka tinggal bersama, tidak hanya satu atau dua hari.
"Berapa harga baju itu bi?" ucap Mala.
"Tiga ratus ribu non."
"Serahkan saja pada ibu itu. Kita cari baju yang harganya lebih mahal dari itu."
"Tapi non, ini baju yang paling murah di toko ini. Bibi ngga enak kalau beli yang harganya mahal." ucap bibi sambil menunduk.
"Tidak apa-apa bi. Bibi pantas kok memakai barang yang mahal. Ayo bi."
Bibi lantas menyerahkan baju itu pada Bu Mirna. Tapi karena Bu Mirna diam saja. Akhirnya dia menaruhnya kembali pada tempatnya.
"Oh, jadi begini kelakuan menantu cacat ku. Pembantunya dibelikan barang mahal. Tapi mertuanya sendiri, di suruh beli yang murah. Pakai uang sendiri pula." Bu Mirna menatap tajam ke arah Mala sambil melipat kedua tangannya.
"Tidak hanya itu saja bu. Dia ngatain aku selingkuh, tapi ternyata dia sendiri juga melakukan hal yang sama." imbuh Doni.
"Kenapa teriak-teriak mas?" ucap Siska yang ternyata sudah berdiri di samping Doni.
Ia menelisik penampilan orang-orang yang tengah berhadapan dengan suami dan mertuanya. Matanya berbinar ketika melihat Mahes yang sangat tampan dan penuh wibawa. Walaupun baju yang dikenakan terlihat biasa, tapi memiliki harga yang tak biasa.
"Tuh, istri Doni. Cantik kan? Dan yang jelas, tidak cacat. Jadi tidak menyusahkan kami. Dia juga tekun bekerja." ucap Bu Mirna menyombongkan Siska. Padahal keduanya sempat beradu mulut sebelum berangkat.
"Ini istri pertama kamu mas?" tanya Siska dengan mimik wajah mencemooh.
__ADS_1
"Sebentar lagi, akan menjadi mantan sayang. Karena kamu hanyalah satu-satunya yang ada di hatiku." ucap Doni sembari merangkul bahu Siska. Keduanya berpelukan mesra.