
Mata Mala melotot ke arah suaminya. Semenjak menikah, ternyata laki-laki itu berubah menjadi lebih agresif.
Mungkin, karena keduanya sudah halal. Jadi merasa lebih bebas untuk melakukan apa saja. Jauh berbeda seperti yang dulu, saat menjadi asisten di rumah nya.
Pria itu bahkan membuang muka saat melihatnya tak memakai jilbab. Saat menyentuh tangannya pun gemetaran. Sedangkan sekarang, menyentuh tubuh Mala, bagai candu.
**
Sudah tiga hari, Mala di rawat di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik. Ia dan anaknya sudah diijinkan pulang oleh dokter. Hal itu membuat mereka senang.
Dua orang perawat merapikan barang-barang Mala dan bayinya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka pun keluar dari ruang perawatannya.
Mahes mendorong kursi roda yang di pakai Mala. Sedangkan perempuan itu sendiri menggendong putra mereka. Dua orang perawat tadi juga turut berjalan dibelakangnya sambil membawakan barang-barang direkturnya.
Dengan hati-hati Mahes membantu Mala masuk ke dalam mobil. Setelah itu, perawat menyerahkan bayi pada Mala. Dan Mahes pun masuk ke dalam mobil.
"Okay, kita pulang sekarang ya." ucap Mahes sambil mengurai senyum, lalu mulai melajukan mobilnya.
**
Sesampainya di rumah, para asisten rumah tangga menyambut kedatangan majikannya dengan penuh suka cita.
Mereka memuji ketampanan bayi majikannya. Setelah bercakap-cakap sejenak, mereka pun masuk ke kamar dengan menaiki lift pribadi.
"Bi, terima kasih ya sudah dibawakan barang-barangnya." ucap Mahes saat sudah berada di depan kamarnya.
"Sama-sama, den. Kalau begitu kami permisi mau ke bawah dulu."
__ADS_1
"Iya, bi."
Mahes membuka pintu kamarnya, agar para asisten rumah tangga bisa memasukkan barang-barang bawaan mereka. Setelah itu, mereka berlalu pergi.
"Nah, kita sudah sampai di kamar kita sayang. Nanti malam bobok yang nyenyak ya." ucap Mahes pada anaknya.
Mala mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan. Kamar yang beberapa hari lalu mereka tinggalkan, karena harus berjuang melahirkan anak di rumah sakit.
Ada yang berbeda di dalam ruangan itu. Yakni, sebuah box bayi yang sangat mewah, terletak di samping tempat tidur mereka.
Box itu terbuat dari kayu yang di ukir di bagian sisi-sisinya. Sedangkan kain penutupnya berwarna gold. Sehingga menambah kesan mewah.
"Apa kamu suka sayang?"
"Suka sekali mas. Aku rasa anak kita juga pasti suka."
Lalu ia membuka tirai jendelanya, agar sinar mentari bisa masuk menghangatkan ruangan.
"Oh iya, mas. Kita belum memberi nama bayi kita. Kira-kira kamu akan memberikan nama apa?" Mala menatap suaminya, yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kalau kamu, akan memberikan nama apa yang cocok untuk anak kita?"
Mahes berjongkok di depan Mala, lalu kedua tangannya bertopang di paha wanitanya. Terlihat istrinya itu terkekeh kecil.
"Kenapa kamu malah bertanya balik mas? Aku setuju jika kamu memberikan nama yang bagus untuk anak kita."
"Ini anak kita berdua, bikinnya juga berdua. Harusnya yang memberi nama juga orang dua dong. Bukan hanya satu saja."
__ADS_1
"Kamu curang. Aku sudah melahirkan dia lho, dan kamu ngga mungkin melahirkan dia kan, mas? Jadi urusan nama ku serahkan semuanya sama kamu."
"Hem, begitu ya." Mahes menghela nafas panjang.
"Kamu tahu kisahnya nabi Adam dan hawa?" tanya Mahes.
"Cerita saja, biar anak kita ikut mendengarnya. Iya kan, sayang?" Mala memegang hidung mancung putranya.
"Siti Hawa di ciptakan dari tulang rusuk nabi Adam sebelah kiri. Keduanya hidup bahagia di surga. Hingga suatu hari, karena godaan syaitan, mereka melanggar larangan Allah.
Keduanya dihukum oleh Allah, dengan di turunkan ke muka bumi. Nabi Adam diturunkan di daerah India, yang sekarang berubah nama menjadi Srilangka. Sedangkan Siti Hawa diturunkan di daerah Jeddah.
Keduanya menjadi manusia pertama yang menghuni bumi ini. Mereka menjalani hari seperti manusia pada umumnya. Harus mencukupi kebutuhannya sendiri. Jauh berbeda ketika tinggal di surga. Yang apa-apa serba ada.
Di dalam kesunyian dan kesepian, karena tidak ada seorang pun yang menemani, keduanya terus memohon ampun pada Allah, dan memohon agar bisa dipertemukan dengan pasangannya.
Melihat keteguhan keduanya, akhirnya Allah mengabulkan permohonan keduanya. Sang pencipta mempertemukan keduanya di sebuah bukit, yang bernama Jabal Rahmah.
Dan tempat itu kini menjadi salah satu tempat yang terkenal di dunia ini. Banyak orang yang ingin kesana. Untuk melihat langsung, seperti apa tempat yang telah menjadi saksi bisu pertemuan kedua insan yang telah lama terpisah.
Dari kisah itu kita bisa belajar, tentang nilai kepatuhan pada Allah, tidak mudah berputus asa dalam memohon ampunan sampai Allah memaafkan, juga tentang kisah cinta sejati. Jika Allah berniat menjodohkan kita dengan seseorang, walaupun berpisah sejauh apapun, tetap akan bertemu kembali.
Nah, aku ingin kelak putra kita menjadi seorang laki-laki yang patuh pada perintah Sang Pencipta. Memiliki rasa optimis yang tinggi, bahwa apa yang menjadi cita-citanya suatu saat pasti akan terkabul. Juga berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Maka dari itu, aku ingin memberi nama anak kita Adam Nabhan. Artinya laki-laki yang memiliki kepatuhan pada Allah. Apakah kamu setuju?"
"Aku setuju, mas." Mala menyunggingkan senyum, sambil membelai lembut pucuk kepala putranya.
__ADS_1