Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
47. Rahasia Mahes


__ADS_3

Mala mendongakkan kepalanya sembari mencerna ucapan Doni.


"Kenapa kamu mendoakan Mahes seperti itu? Siapa yang kamu maksud dengan karyawan?" tanya Mala penuh selidik.


Mahes benar-benar tidak siap jika penyamarannya terbongkar. Sedangkan Doni tersenyum sinis karena berhasil menarik perhatian Mala.


"Katakan Don."


"Akan aku katakan yang sebenarnya, tapi ada syaratnya. Kita tidak boleh bercerai."


"Lebih baik aku mencari tahu sendiri." tegas Mala sambil menatap Mahes.


Doni tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Mahes sudah memejamkan matanya. Bersiap untuk menerima konsekuensinya jika Mala tahu yang sebenarnya tentang dirinya.


"Asal kamu tahu, Mahes adalah satu-satunya pewaris di perusahaan Sadewa textile. Dia yang telah memecat ku dari perusahaannya, dan menjadikan aku sebagai seorang pengangguran. Dia itu manusia yang pintar bersandiwara." jelas Doni sambil menatap Mahes dengan senyum liciknya.


"A-apa yang dikatakan oleh Doni itu benar, Mahes?" ucap Mala dengan penuh selidik.


"Bolehkah aku meminta waktu berdua pada nona untuk menjelaskan semua ini?"


Mala tidak menjawab, tapi dengan di bantu Bu Ningrum ia berjalan menjauh dari kerumunan para asisten rumah tangganya dan Doni.


Para asisten rumah tangga yang paham tentang situasi yang tengah terjadi, bubar. Kembali ke tempat kerjanya masing-masing.


"Lhololoh, kok aku jadi di tinggal? Harusnya Mala kan bersimpati padaku. Mengajaknya ke dalam, menawari makanan dan minuman." gumam Doni sambil garuk-garuk kepala.


"Mala, tunggu." ucap Doni sambil berjalan mengejar Mala.

__ADS_1


"Pak satpam, usir dia." tandas Mala. Lalu kembali di dorong Bu Ningrum menuju kamarnya.


"Lhoh, kenapa aku tetap di usir sih."


"Sudah, jangan banyak tanya. Lebih baik kamu tidak usah balik kesini. Non Mala itu cocoknya sama mas Mahes. Satunya cantik, satunya tampan. Sholih dan sholihah pula."


"Pretttt. Sholih dan sholihah dari mana? Belum nikah saja, sudah tinggal serumah." Doni mencibir.


"Mas Mahes kan bekerja disini. Tentu saja tinggal di sini, seperti kami. Lagian kamar kita juga beda-beda. Kamu ngga lihat, rumah non Mala sebesar ini?"


"Awas, jangan sampai balik kesini lagi." ucap security mengingatkan sambil mendorong Doni keluar dari gerbang. Dan buru-buru mengunci agar Doni tidak bisa masuk.


Sementara itu, Mahes mengejar Mala.


"Bu Ningrum, biar saya saja yang mendorong non Mala."


"Kalau begitu ibu pamit dulu ya. Harus balik ke kantor." Bu Ningrum menjauh dari keduanya. Lalu Mahes beralih mendorong kursi rodanya menuju ke kamar Mala.


Sesampainya di kamar, Mala mendorong kursi rodanya menuju ke dekat jendela. Ia menatap pemandangan di luar sana dengan mata berkaca-kaca. Kenapa semudah itu ia di tipu laki-laki.


"Non Mala." ucap Mahes memecah keheningan.


Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan-pelan. Ia berdoa dalam hati agar Mala mau menerima penjelasannya.


Lalu memutar kursi roda Mala, agar bisa berhadapan dengannya.


"Non, jika boleh meminta. Lebih baik saya ditakdirkan menjadi pembantu di rumah ini saja agar bisa selalu dekat dengan non Mala."

__ADS_1


"Apakah hanya itu yang ingin kamu ceritakan padaku? Siapa kamu sebenarnya? Apa benar kata Doni tadi?" tukas Mala.


"Benar apa yang dikatakan Doni. Saya adalah pewaris tunggal Sadewa textile dan juga rumah sakit Kasih Bunda. Dimana kita di rawat."


"Ka-kamu pernah di rawat di rumah sakit itu? Lalu kalau kamu orang kaya, kenapa justru bekerja padaku. Yang hanya mendapat gaji recehan?"


"Non Mala pasti ingat, kejadian kecelakaan dua bulan lalu."


"Kenapa kamu bisa tahu?" Mala menatap Mahes serius.


"Karena kedua orang tua saya juga meninggal dalam kecelakaan itu."


Mala membekap mulutnya yang menganga karena tak percaya. Bahkan matanya juga terlihat membulat.


"Mobil kita berdua mengalami kecelakaan hebat. Kedua orang tua dan juga sopir meninggal di tempat. Hanya kita yang selamat.


Di rawat di tempat yang sama, membuat saya tahu bagaimana sikap Doni dan ibu mertua non Mala. Bukan maksud menjelekkan keduanya, tapi saya juga memiliki bukti rekaman jika non Mala tak percaya.


Di mulai dari hal itulah, saya ingin menjaga dan merawat non Mala sebaik mungkin. Memastikan non Mala bahagia. Barulah saya memikirkan kehidupan saya sendiri.


Sudah selayaknya, laki-laki itu melindungi perempuan, bukan? Tapi semakin kesini, perasaan saya pada non Mala...terasa berbeda. " tutur Mahes sambil menunduk, dan di akhir kalimatnya justru terdengar lirih. Ia malu mengatakan perasaannya pada Mala.


Air mata luruh dan semakin deras mengalir, membanjiri pipi Mala yang mulus. Ia tak menyangka jika laki-laki yang berada di dekatnya selama ini adalah korban kecelakaan, sama seperti dirinya.


Mala berpikir, jika korban kecelakaan itu juga tidak bisa berjalan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Ia terlihat sehat, kuat, dan justru merawatnya selama ini.


Dengan spontan Mala memeluk Mahes, membuat laki-laki itu tergeragap dan membulatkan matanya tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2