
"Berapa totalnya?" tanya Mahes pada Siska.
Kebetulan Siska yang menunggu kasir. Doni baru buang air kecil.
"Enam puluh ribu, mas."
Mahes pun mengeluarkan selembar uang merah, dan menyerahkan pada Siska.
"Ambil saja kembaliannya."
"Ha?" Siska mendongakkan kepalanya.
"Tidak bisa begitu. Tunggu sebentar." Siska bergerak cepat mengambil dua lembar uang berwarna hijau. Lalu menyerahkan pada Mahes.
"Ini kembaliannya. Terima kasih sudah mengunjungi tempat ini." Siska bahkan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, sambil menganggukkan kepalanya.
"Hem, sama-sama." balas Mahes singkat, sedangkan Mala, sejak tadi ia memang diam saja.
"Semoga persalinannya nanti lancar. Ibu dan bayinya sehat, tak kurang suatu apapun." doa Siska pada Mala dan bayi dalam kandungannya, yang terdengar tulus.
"Aamiin. Terima kasih doanya." lirih Mala, lalu menggandeng lengan suaminya. Buru-buru mengajak pergi.
Siska menatap dua sejoli itu berjalan meninggalkan kedai. Senyum di wajahnya melengkung indah, ketika menyaksikan kebahagiaan keduanya. Setelah dulu pernah terjadi angin ****** beliung dalam rumah tangganya.
Siska kembali bersedih, jika mengingat Doni. Untuk meminta maaf pun rasanya sudah terlambat. Karena suaminya itu telah meninggal.
'Bu Mirna. Apa aku harus bertemu dengannya? Tapi dia sangat galak. Aku takut dimarahi di hadapan umum. Tapi, jika tidak bertemu dengannya. Aku harus bertemu dengan siapa lagi? Bukan kah mas Doni hanya memiliki ibunya seorang?' batin Siska. Ia hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
"Mbak, nasi ayam crispynya dua ya. Sambalnya sedikit saja ya. Takut perut mules. Minumnya es lemon tea dan susu putih." ucap seorang pembeli, pada Siska.
"Baik, mbak. Tunggu sebentar ya." balas Siska dengan tersenyum ramah.
Si pembeli berjalan menuju tempat duduknya. Sedangkan Siska segera membuatkan pesanan untuk pembelinya. Doni sendiri juga melakukan hal yang sama.
Tak lama kemudian, pesanan pembeli telah siap. Siska mengantarkannya.
"Permisi. Ini pesanannya. Nasi ayam crispy dua porsi, minumnya es lemon dan susu coklat ya." ucap Siska menjelaskan.
"Lhoh, mbak. Saya pesannya es lemon tea dan es susu putih. Bukan coklat. Terus saya juga minta sambalnya sedikit saja, takut nanti sakit perut. Kenapa ini justru di kasih banyak? Sengaja mau bikin saya sakit perut ya?" ucap pembeli, dengan nada suara sedikit tinggi.
Siska tergeragap, bagai orang yang tersadar dari tidur panjangnya.
"Ma-maafkan saya, mbak." balas Siska dengan sedikit menunduk.
Doni yang melihat hal itu, segera mendekati dan menenangkan perdebatan yang terjadi.
"Permisi mbak. Maaf kan atas kesalahan yang kami perbuat ya mbak. Bisa dijelaskan ulang, apa pesanannya? Nanti akan kami ganti, gratis. Sebagai tanda permintaan maaf kami." ucap Doni sopan pada pembelinya.
"Hem, Okaylah. Saya pesan nasi ayam crispynya dua, sambalnya sedikit saja. Minumnya es lemon tea dan es susu putih."
"Oh, baik. Saya akan segera membuatkannya. Tolong tunggu sebentar ya. Siska, ayo ke belakang." ucap Doni.
Pandangannya beralih antara pembeli dan Siska. Gadis itu mengangguk, lalu berjalan mengekor bos nya.
"Kamu minum atau makan saja dulu. Biar aku yang menghandle pembeli." titah Doni.
__ADS_1
Siska merasa serba salah. Masa iya, dirinya yang menjadi karyawan malah duduk santai, sedangkan bosnya yang sibuk melayani pembeli.
Tapi jika tidak dituruti, masa iya dirinya menjadi karyawan yang pembangkang. Gadis itu mendengus kesal. Kenapa hari itu rasanya sulit untuk berkonsentrasi kerja.
Ia sudah berusaha untuk menyingkirkan bayangan orang-orang dari masa lalunya, tapi tetap saja sulit.
**
Hari sudah sore, stok ayam sudah habis. Itu tandanya kedai akan segera tutup. Siska dan Doni segera beres-beres.
Membawa piring dan gelas kotor ke tempat cuci piring. Merapikan dan membersihkan meja dari sisa makanan. Merapikan persediaan sayur yang masih sedikit. Dan beberapa pekerjaan lainnya.
Siska mengangkat piring dan gelas yang sudah di cuci Doni, lalu di bawa menuju rak. Entah bagaimana ceritanya, Siska terpeleset dan jatuh.
Piring yang ia bawa pecah seketika. Dan pecahannya mengenai tangannya.
Arghhh....
Erangnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Doni yang melihat hal itu, segera mencuci tangannya, lalu mendekatinya.
"Aku lihat lukamu sebentar." pinta Doni, sambil menarik pelan tangan Siska.
Pecahan piring itu berukuran sangat kecil, dan menancap tetap di telapak tangannya. Siska tampak meringis kesakitan.
"Kamu tahan dulu ya. Biar aku ambil pecahan piringnya."
Doni menatap Siska, seolah meminta persetujuannya. Gadis itu hanya bisa mengangguk sambil meringis menahan sakit.
__ADS_1
Laki-laki itu memperhatikan telapak tangan Siska dengan serius, sebelum akhirnya mencabut perlahan pecahan piring.