Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
151. Pulang


__ADS_3

Bu Mirna di rawat selama tiga hari di rumah sakit. Kini keadaannya sudah membaik. Dan kini sedang bersiap-siap pulang. Siska lah yang merapikan barang-barangnya.


Selama tiga hari di rawat di rumah sakit, memang Siska lah yang menemaninya. Gadis itu merawatnya dengan sepenuh hati, selayaknya ibunya sendiri.


Setelah pulang dari kedai, Doni juga selalu menyempatkan diri mampir ke rumah sakit. Membawakan makanan dan apa saja yang dibutuhkan oleh keduanya.


Siang itu, setelah menyelesaikan urusan kedai, Doni menjemput bu Mirna di rumah sakit. Siska dan Bu Mirna duduk berdua di jok belakang.


Menempuh hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah kontrakan Bu Mirna. Doni membantu memapah Bu Mirna turun dari mobil, sedangkan Siska membawakan barang-barangnya.


Siska membersihkan tempat tidur Bu Mirna, sebelum dipakai untuk istirahat, agar lebih nyaman.


"Nak Doni, Siska, terima kasih ya. Selama ibu sakit, kalian dengan tulus merawat ibu. Semoga Allah membalas kebaikan kalian."


"Aamiin, terima kasih Bu untuk doanya." balas Doni dan Siska bersamaan.


"Siska, ibu sudah sehat. Kalau kamu mau kerja, ibu tidak keberatan kamu tinggal."


"Tidak bu, biarkan Siska sementara waktu disini dulu. Untuk menemani ibu sampai benar-benar sehat seperti sedia kala." ucap Doni.


Pria itu tahu, jika Bu Mirna adalah orang yang akhir-akhir ini disayangi dan diperjuangkan oleh Siska. Ia sengaja memberi waktu dan ruang pada keduanya agar bisa lebih berlama-lama.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Bu. Mau ke kedai dulu."


"Iya, hati-hati ya nak." Bu Mirna mengurai senyum pada Doni. Dan pria itu pun membalasnya.

__ADS_1


"Siska antar mas Doni sampai ke depan dulu ya Bu."


Bu Mirna menganggukkan kepalanya. Lalu gadis itu beranjak berdiri dan berjalan mengikuti Doni.


"Terima kasih ya mas, kamu sudah memberiku waktu libur yang lebih lama. Sehingga bisa merawat Bu Mirna."


"Iya, nanti malam aku akan kesini untuk menjemputmu."


"Siska ingin menginap disini, sampai Bu Mirna sehat mas."


"Baiklah, aku dukung apapun keputusan mu. Aku pamit ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Semoga kedainya hari ini laris dan banyak pesanan mas."


Setelah bayangan mobil Doni tidak lagi terlihat, barulah Siska masuk ke rumah. Ketika ia kembali ke kamar, Bu Mirna sudah tidur kembali.


Daripada duduk berpangku tangan, Siska membersihkan rumah Bu Mirna. Ia menyapu dan membuka jendela, agar udara segar bisa masuk dan tidak pengap.


Ketika hendak memasuki kamar sebelah Bu Mirna, Siska berdiri diambang pintu. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Karena mengingat almarhum suaminya. Ia kembali diliputi rasa bersalah, karena penyebab kematian suaminya adalah dirinya.


'Maafkan aku, mas. Gara-gara aku, kamu meninggal. Semoga kamu tenang disana ya. Aku akan membalas semua perbuatan buruk ku di masa lalu dengan berbakti pada ibumu. Karena ibumu adalah ibuku juga. Mas Doni, ijinkan aku membersihkan kamarmu ya.' batin Siska sebelum melangkah masuk.


Ia membuka jendela kamar itu, lalu mulai membersihkan debu yang menempel di atas tempat tidur dan juga almari dengan kemoceng, lalu menyapu.


Setelah selesai menyapu, ia berniat mengepel lantai. Ketika hendak mengambil air, Siska juga kaget. Karena kamar mandinya sangat kotor. Gadis itu menghela nafas, lalu membersihkan lantai kamar mandi. Setelah itu, barulah ia mengepel lantai rumah.

__ADS_1


Ia juga mencuci baju kotor dan seluruh peralatan makan Bu Mirna. Lalu berniat memasak. Tapi tidak ada sayur yang bisa di masak. Karena setiap hari Bu Mirna hanya membeli mie instan atau nasi bungkus saja untuk mengganjal perut.


Siska pun berjalan keluar untuk mencari warung yang menjual sayuran segar. Setelah mendapat apa yang dia inginkan, barulah ia pulang dan memasak.


Siang itu, ia memasak sayur bayam, tahu bacem dan nasi yang sengaja dimasak agak lembek. Agar Bu Mirna mudah untuk menelannya.


Adzan Dhuhur telah berkumandang, Siska yang merasa gerah ingin mandi terlebih dahulu, barulah mengerjakan sholat empat rakaat itu.


Ia sholat di dekat tempat tidur Bu Mirna. Dengan khusu' ia berdoa, memohon ampun pada sang kuasa. Hingga ia sampai menitikkan air mata.


Tanpa Siska ketahui, Bu Mirna sudah bangun. Dan kini ia tengah memperhatikannya yang baru sholat. Wanita sepuh itu mengurai senyuman, karena Siska benar-benar telah berubah menjadi sangat baik. Andaikan Doni masih hidup, pasti keluarganya kini bahagia.


"Bu, ibu sudah bangun?" tanya Siska ketika berdiri sambil melepas mukenanya, dan melihat Bu Mirna tengah menatapnya.


"Kita makan dulu yuk, Bu. Siska sudah masak untuk ibu. Siska bawa kesini ya, makanannya." Bu Mirna mengangguk.


Siska keluar mengambil makanan beserta sayur dan lauknya. Lalu membawanya ke kamar Bu Mirna. Ia pun menyuapi wanita sepuh dihadapannya.


"Sis, ibu sayang denganmu." lirih Bu Mirna.


Siska meletakkan sendoknya, lalu menatap Bu Mirna sambil mengurai senyuman.


"Siska juga sayang sekali dengan ibu." balas Siska dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya wanita itu saling pandang, lalu saling merengkuh dan memeluk. Tak lama kemudian, terdengar isak tangis dari keduanya.

__ADS_1


__ADS_2