Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
74. Tingkah tak terduga Mala


__ADS_3

"Mahes." Mala memukul lengan laki-laki dihadapannya, karena menghabiskan sisa makanannya. Tapi Mahes hanya tersenyum tipis.


Beberapa pesanan Mala sudah matang. Ia membungkusnya dalam wadah plastik yang sudah disediakan. Lalu ia berdiri dan mulai membagi-bagikan pada pengunjung.


Tak hanya itu saja, ia juga menawarkan sebuah kalimat ajakan untuk melarisi dagangan bapak penjual telur gulung.


Mahes tak menduga, Mala akan melakukan aksi itu. Dalam hati ia memuji kebaikan dan keberanian Mala. Laki-laki itu segera melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mala.


Dalam waktu sekejap, dagangan itu telah habis. Si penjual bisa pulang dengan cepat.


"Mahes, besok aku ingin datang lagi ke tempat ini. Untuk melihat apakah cara promosi ku tadi berhasil atau tidak."


"Okay, aku setuju."


Setelah puas berkeliling, Mahes segera mengantarkan Mala pulang.


**


Hari itu kebetulan adalah hari libur. Meskipun libur Mala tetap bangun pagi. Ia ingin olahraga untuk melemaskan tulang-tulang persendiannya.


Suasana pagi di rumahnya begitu lengang. Entah kenapa dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia mengecek ke setiap sudut ruangan.


Dan alangkah terkejutnya ia ketika sampai di taman samping rumahnya. Bahkan ia sampai membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.


Deretan bunga mawar merah membentuk sebuah kata 'WILL YOU MARRY ME'.


Tidak hanya itu saja, di depannya juga terdapat sebuah meja dan terdapat penutup makanan yang berbentuk bundar.


Sepanjang jalan menuju meja itu bertabur bunga mawar merah yang tak terhingga jumlahnya.


"Si-siapa yang membuat semua ini?" gumamnya tak percaya.


"Apa kamu suka dengan kejutan yang aku siapkan untuk mu, non Mala."


Tiba-tiba Mahes muncul dari balik rimbunnya pohon bunga geranium.

__ADS_1


"Mahes. Ka-kamu kah yang menyiapkan semua ini untukku?"


"Iya. Setelah masa Iddah mu habis, aku menyiapkan semua ini. Di bantu sama asisten rumah tangga disini."


"Jadi kamu menghitung masa Iddah ku?" celetuk Mala.


"Iya, sejak hakim mengetuk palu dan memutuskan hubungan mu dengan suami mu, sejak saat itu pulalah aku mencoret kalender di rumah ku. Agar aku tidak kedahuluan sama pria lain."


"Ya Allah, Mahes."


Mala benar-benar speechless. Ia tak menyangka Mahes melakukan semuanya ini untuk dirinya.


"Ayo non Mala duduk di kursi dulu." ucap bibi yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kiri dan kanannya. Lalu memapah tubuh Mala dan mendudukkan di kursi yang menghadap meja bulat.


Sedangkan bibi yang satunya menuntun Mahes dan duduk di kursi dihadapan Mala.


"Silahkan dinikmati hidangannya." ucap bibi serempak. Bersamaan Mahes membuka tudung saji yang terbuat dari stainless.


Untuk yang kesekian kalinya Mala kembali terkejut. Di dalam tudung saji itu tidak berisi makanan, melainkan sebuah kotak beludru berwarna merah.


"Jika kamu mau menerimaku, ulurkan tanganmu untuk menerima cincin ini."


"Terima, terima." para asisten rumah tangga Mala menyemangati majikannya untuk menerima cincin dari Mahes.


Akhirnya dengan tangan yang bergetar, Mala mengulurkan tangannya di hadapan Mahes. Laki-laki itu memasukkan cincin di jari manis Mala. Sangat pas sekali ukurannya.


"Hore. Alhamdulillah." seru para asisten rumah tangga.


"Kenapa kamu tidak bilang-bilang padaku, Mahes?"


"Kalau aku bilang di awal, itu namanya pendaftaran. Bukan kejutan." Mala tertawa mendengar candaan yang dilontarkan Mahes.


"Insyaa Allah, keluarga ku akan segera melamar mu secara resmi besok siang. Apa kamu bisa?"


"Insyaa Allah."

__ADS_1


**


Keesokan harinya, Doni berangkat menuju bengkel bersama ibunya. Setelah itu, dia akan mampir ke rumah Mala untuk minta maaf.


Entah kenapa, sejak semalam ia tidak bisa tidur. Karena terus memikirkan mantan istrinya.


"Sudah siap, Bu?"


"Sudah."


"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang. Biar tidak kesiangan." Bu Mirna mengangguk, lalu keduanya memasuki mobil.


"Apa kamu serius mau minta maaf dengan Mala? Apa kamu tidak malu. Takutnya dia akan mencaci-maki, setelah kamu berbuat buruk padanya."


"Tidak apa-apa dicaci-maki, Bu. Itu resiko yang harus Doni tanggung. Daripada kita mendapatkan hukuman yang lebih parah dari ini."


"Terserah kamulah. Sukur-sukur dia mau menerima mu balik."


"Itu yang aku harapkan, bu. Tapi aku mengharapkan bisa kembali dengannya bukan karena hartanya. Tapi karena aku menyadari semua kesalahanku."


Keadaan kembali hening. Tiba-tiba Doni merasakan sakit di bagian senjatanya. Sehingga membuatnya bergerak-gerak. Ingin menggaruk, tapi malu pada ibunya.


Namun, Bu Mirna rupanya telah mengetahui hal itu. Ia bergidik melihat tingkah Doni yang seperti itu.


"Kamu kenapa, Don?"


"Kenapa apanya?" Doni pura-pura tidak tahu.


"Kok, duduk mu seperti itu?"


"Duduk ku biasa saja kok, Bu."


"Yakin?" Doni mengangguk.


Ia melajukan mobilnya sedikit lebih cepat, agar segera sampai di bengkel. Dan ketika sampai di bengkel, tempat pertama yang ia tuju adalah toilet.

__ADS_1


"Kenapa sih tuh bocah? Kelakuannya kok aneh banget." gumam Bu Mirna sembari mengibaskan kipas tangannya.


__ADS_2