
Keesokan harinya, Siska telah berpenampilan rapi. Ia mengenakan celana kulot warna army, tunic berwarna mint dan jilbab berwarna senada dengan tunic nya.
Setelah memastikan penampilannya rapi, ia menyelempangkan tasnya di bahu sebelah kiri, lalu membawa rantang makanan, dan berjalan keluar.
Saat ia sampai di depan kost, terlihat mobil Doni yang juga baru berhenti.Ia pun segera masuk ke dalam mobil itu.
"Hem, baunya enak sekali." celoteh Doni saat Siska meletakkan rantang makanannya diatas pahanya, lalu mendekapnya.
"Mas Doni belum sarapan?" Doni pun menggelengkan kepalanya, sambil menyunggingkan senyum.
"Mau aku belikan sarapan?"
"Aku maunya makan masakan mu."
"Tapi ini buat Bu Mirna. Apa kita makan disana bersama-sama?"
"Boleh."
Doni pun mempercepat laju mobilnya, agar bisa segera sampai di rumah Bu Mirna dan mencicipi masakan Siska.
Gara-gara kaki Siska yang terkena pecahan gelas kemarin, akhirnya tadi pagi sebelum berangkat menjemputnya, pria itu ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan kedai.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di depan rumah Bu Mirna. Terlihat halamannya sangat kotor, karena banyaknya daun yang jatuh berguguran.
Keduanya segera turun, dan mengetuk pintu rumah. Cukup lama keduanya menunggu, hingga akhirnya perlahan pintu dibuka.
Mereka bertiga saling tatap.
__ADS_1
"Bu Mirna."
"Siska." ucap kedua wanita itu bersamaan.
"Bu Mirna sakit apa?"
"Ayo kita masuk saja. Sepertinya Bu mirna tidak kuat berdiri lama-lama." ajak Doni, lalu ia dan Siska memapah tubuh Bu Mirna.
Mereka membawanya menuju kamarnya, lalu menidurkannya dengan baik.
"Bu Mirna sakit apa? Sudah berobat belum?" tanya Siska beruntun. Tapi Bu Mirna menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siska bawa makanan, ibu makan dulu ya, setelah itu kita pergi ke rumah sakit."
Tanpa menunggu Bu Mirna menjawab, Siska sudah meraih rantang yang tadi ia letakkan diatas meja nakas.
Sedangkan Doni berlari ke dapur untuk mengambil piring. Tak lama kemudian, ia sudah kembali dan menyerahkan piring itu kepada Siska.
Bu Mirna sejenak memandang Siska, sebelum akhirnya ia menerima suapan itu. Hingga akhirnya perlahan bubur itu habis.
"Minum dulu ya Bu." Siska menyerahkan segelas teh hangat yang Doni buatkan tadi, untuk Bu Mirna.
"Ibu, Siska anter periksa sekarang ya."
"Nanti merepotkan mu."
"Tidak, hari ini Siska libur. Sengaja ingin menemani Bu Mirna kalau ibu mengijinkan." Bu Mirna mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu sudah perhatian dengan ibu. Kamu boleh menemani ibu disini. Bahkan kalau perlu, kamu juga bisa menginap disini."
"Iya, Bu. Siska akan menginap disini sementara waktu, sampai kondisi ibu benar-benar baik dan sehat seperti sedia kala."
Mereka pun bersiap-siap menuju rumah sakit. Setelah satu jam berlalu, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju.
Doni dan Siska membantu memapah Bu Mirna, meskipun kakinya sendiri masih merasa sakit.
Setelah antri, akhirnya kini giliran bu Mirna yang dipanggil. Siska dan Doni ikut menemaninya masuk ke dalam.
Dokter memberi pertanyaan dan gejala yang dialami, sebelum akhirnya Bu Mirna di minta berbaring di atas brankar. Setelah itu, ia diperiksa.
"Begini ya, bu. Setelah mendengar gejala yang anda alami dan berdasarkan pemeriksaan yang baru saja saya lakukan, ternyata asam lambung anda naik. Anda harus memperhatikan pola makan anda, jangan sampai telat. Jangan terlalu banyak pikiran juga. Dan kurangi mengerjakan sesuatu yang berat. Untuk itu, saya menyarankan agar anda sementara waktu opname dulu." tutur dokter panjang lebar.
"Maaf dok, bisakah saya rawat jalan saja? Karena tidak ada yang menjaga saya juga selama di rumah sakit. Saya juga takut, jika biayanya kurang."
"Tidak apa-apa jika ibu meminta rawat jalan, tapi ibu harus memastikan tidak mengerjakan peukerjaan yang berat-berat dulu dan menjaga pola pikir serta pola makannya."
"Siapa bilang tidak ada yang menjaga ibu? Siska mau kok menjaga ibu. Siska juga mau menanggung biayanya." ucap Siska.
"Tapi kamu kan harus kerja. Dan ibu tidak mau merepotkan mu."
"Doni ijinkan Siska untuk libur sementara waktu, demi menjaga ibu." imbuh Doni sambil menyunggingkan senyum.
"Terima kasih, nak." balas Bu Mirna diiringi senyuman.
"Baiklah, tunggu sebentar, perawat saya akan datang kemari untuk memindahkan ibu ke ruang perawatan." ucap dokter, sambil menekan teleponnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dua orang perawat datang untuk memindahkan Bu Mirna ke ruang perawatan.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Bu Mirna disuntikkan cairan infus. Lalu dipersilahkan untuk beristirahat. Sementara Doni dan Siska duduk disampingnya dan menemaninya jika butuh sesuatu.