
"Bu, bolehkah Siska ke makam mas Doni? Siska ingin minta maaf padanya."
"Boleh, kapan kamu mau kesana?"
"Sekarang, Bu. Lebih cepat lebih baik. Agar hatiku tenang."
Bu Mirna menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Melihat Siska tengah berhadapan dengan Bu Mirna, Doni mendekatinya.
"Mas, hari ini aku mau pulang dengan Bu Mirna."
"Kenapa? Bukankah kalian berlainan arah?" Doni mengernyitkan dahi.
"Kami ingin berkunjung ke makam mas Doni." balas Siska terus terang.
"Aku antarkan ya."
"Tapi mas Doni, kita berlainan arah. Aku tidak enak merepotkan mu."
"Tidak apa-apa, sekalian aku mau bilang ke almarhum suami mu, jika kamu sudah berubah. Dan aku ingin meminta ijinnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan mu. Alias menikah."
"Apa? Me-menikah?" ulang Siska sangat syok, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria dihadapannya.
Tidak hanya Siska, tapi Bu Mirna juga cukup kaget.
Siska memang menaruh perasaan pada bos nya sendiri. Tapi tidak untuk menikah dengannya. Ia semakin takut bila menikah dengan bos nya, nanti bos nya itu akan tertular penyakitnya dan bisa meninggal.
__ADS_1
"Kita bisa pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan penyakit mu itu." imbuh Doni untuk meyakinkan Siska.
"Tidak perlu mas, aku ingin hidup sendiri. Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan mu sekarang." tolak Siska dengan tegas.
"Kamu masih muda. Masih panjang jalan yang harus kamu lalui. Apa kamu yakin akan menjanda seumur hidup?" pertanyaan itu meluncur saja dari mulut Bu Mirna.
"Iya, Bu. Menjanda itu tidak selalu menyedihkan. Seperti yang ibu lihat sekarang, aku bahagia kan? Dan ibu juga bahagia kan meskipun sudah menjadi janda."
"Siska, jika kamu memang sayang dengan ibu dan almarhum suamimu. Maka terimalah nak Doni. Jika ibu meninggal nanti, ibu bisa menyampaikan ke Doni, bahwa kamu sudah berubah dan menikah dengan seorang pria yang baik."
"Jangan bicara seperti itu, bu. Justru sekarang Siska ingin merawat ibu. Kita hidup berdua sebagai seorang janda yang bahagia." Siska memegang kedua tangan Bu Mirna.
Doni merasa putus asa, karena sudah dua kali Siska menolak cintanya. Ingin rasanya dia pergi ke lain hati, tapi tetap tidak bisa. Karena hatinya sudah untuk Siska seorang.
Pria itu menghembuskan nafas panjang, lalu mencoba menyunggingkan senyum. Dan berdamai dengan keadaan.
Ia meyakinkan hatinya, bahwa suatu saat Siska akan menerima cintanya. Ia yakin akan hal itu.
Siska dan Bu Mirna akhirnya ikut masuk mobil Doni. Mereka pun berangkat bersama menuju ke pemakaman.
Di dalam mobil ketiganya hanya berbicara sesekali saja, sambil Bu Mirna mengarahkan jalan yang harus di lalui.
Terus terang, Siska merasa canggung dengan Doni. Karena sudah menolak cinta bos nya sendiri. Sehingga ia lebih memilih duduk di kemudi belakang. Sedangkan Bu Mirna duduk di depan.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di sebuah tempat pemakaman umum. Ketiganya segera turun, dan berjalan menuju ke sebuah gundukan tanah yang diletakkan sebuah batu nisan diatasnya, bernama Doni.
Mereka mengelilingi makam itu dan berjongkok di dekatnya. Kedua tangan mereka masing-masing terangkat, untuk mendoakan almarhum Doni.
__ADS_1
Dalam hati Bu Mirna mendoakan semoga anaknya diampuni dosanya dan ditempatkan ditempat terbaik.
Siska menitikkan air mata, karena Doni menjadi orang yang pertama menikahinya. Walaupun pernikahan itu tidak berlandaskan ibadah, tapi itu adalah pernikahan yang paling membekas dihatinya. Banyak sekali hal yang terjadi dalam pernikahannya itu, sehingga membuatnya sadar. Dan ia masih tak percaya, jika orang yang menjadikannya istri sudah meninggal.
Sedangkan dalam hati Doni, ia meminta restu pada almarhum suami Siska, untuk menjadikan Siska istrinya. Pria itu berjanji akan menjaga dan membimbing Siska dan ibunya dengan baik.
Cukup lama ketiga orang itu menengadahkan tangan dan tenggelam dengan pikiran masing-masing. Hingga hampir gelap, barulah mereka beranjak dari pemakaman itu.
Doni mengantar Bu Mirna terlebih dahulu. Setelah sampai depan rumah kontrakan, Bu Mirna segera turun. Doni dan Siska sejenak mengamati dari luar, kondisi rumah kontrakan yang Bu Mirna tempati.
"Terima kasih, nak. Sudah diantarkan pulang."
"Sama-sama Bu. Kalau begitu kami permisi dulu."
"Hem, hati-hati." Bu Mirna menyunggingkan senyum.
"Bu, bolehkah kapan-kapan Siska berkunjung ke rumah ibu?" Bu Mirna menoleh ke arah Siska, lalu mengangguk mengiyakan.
"Tentu boleh."
"Alhamdulillah. Kapan-kapan Siska akan kesini Bu."
Setelah itu, Bu Mirna berjalan menuju ke rumahnya.
"Kamu tidak ingin pindah duduk di depan?" Doni menoleh pada Siska. Bukannya menjawab, Siska segera keluar dari mobil dan duduk di samping Doni.
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya keduanya tiba di depan kost-kostan Siska. Saat hendak turun, tangan Siska tiba-tiba di cekal oleh Doni.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu sampai kamu mau menerima ku." setelah berkata seperti itu, Doni mengecup tangan Siska sambil memejamkan matanya. Karena begitu meresapinya.
Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa, dan menahan hatinya yang bergetar karena dadanya sesak, tidak bisa membalas cinta Doni. Padahal ia juga sangat mencintai bos-nya.