Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
163. Olahraga malam


__ADS_3

Siska tampak salah tingkah ketika Doni menatapnya demikian. Pria itu segera mengunci pintunya, lalu berjalan menghampirinya dan bersimpuh dihadapannya.


"Mas, kenapa kamu malah duduk di bawah." Siska menarik lengan suaminya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan bahwa malam ini kamu benar-benar siap melayaniku."


Siska mengulas senyum, lalu mengangguk. Sehingga membuat Doni berbinar melihatnya.


"Apa kamu sudah hafal doa memulai malam pertama?"


Siska menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan suaminya.


"Memang ada doa seperti itu, mas?"


"Ada lah. Kamu ikuti aku berdo'a ya." Siska mengangguk, lalu mengikuti apa yang diucapkan suaminya.


Selama menikah dengan suaminya yang terdahulu, belum pernah Siska dibimbing sebaik ini. Sehingga ia sangat bersyukur bisa memiliki suami sebaik Doni. Dan hal itu semakin membuatnya yakin untuk melayaninya dengan sebaik mungkin.


Selesai membaca doa, pria itu setengah berdiri dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Siska, lalu mengecup keningnya. Dan perlahan mulai turun ke arah bibir. Cukup lama berhenti di tempat itu, sedangkan kedua tangan Doni mulai menjelajah kemana-mana.


Hati Doni semakin bergejolak, ketika mendapati Siska sudah tidak memakai dalaman. Pria itu mengurai aktivitas bibirnya, dan perlahan turun ke bawah.


Sudah tidak sabar rasanya, hingga Doni bangkit berdiri dan mengangkat tubuh istrinya, lalu meletakkannya di atas ranjang tempat tidur.

__ADS_1


Lingerie yang tak seberapa panjangnya itu tersingkap, sehingga membuat jantung Doni berpacu dengan cepat. Pria itupun melepas pakaiannya, dan mulai mengukung istrinya.


Selama beberapa jam, keduanya melewati malam pertamanya sebagai pengantin baru. Suara-suara khas percintaan menghiasi ruang kamar itu. Pertanda keduanya bisa saling memuaskan satu sama lain.


Walaupun Siska sudah tidak perawan lagi, Doni masih bisa merasakan kenikmatan darinya. Setelah selesai, Siska memiringkan badannya dan menatap suaminya yang tengah memejamkan matanya.


"Mas." lirih Siska.


"Hem, ada apa?" Doni membuka mata dan menoleh ke arah Siska.


"Bagaimana rasanya? Maaf jika aku kurang bisa memuaskan mu." tanya Siska dengan polosnya, sehingga membuat Doni terkekeh.


"Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan aku sangat terpuaskan oleh pelayanan mu malam ini. Apakah besok kamu masih mau memberikannya untukku." Doni mengusap pipi Siska sambil tersenyum.


"In shaa Allah, selama aku menjadi istrimu. Aku akan melayani mu dengan sepenuh hatiku." Siska balas menyunggingkan senyum.


Sedangkan di dalam kamar sebelah, Bu Mirna belum juga bisa tidur. Karena hanya berbatas dinding, ia bisa mendengar jelas suara-suara aneh di kamar Siska.


Jika dulu ia merasa kebrisikan dan terganggu dengan suara itu, berbeda dengan sekarang. Ia tampak menyunggingkan senyum, dan semoga apa yang keduanya lakukan bisa cepat menghasilkan keturunan.


**


Pagi harinya, Siska bangun lebih pagi. Dengan langkah mengendap-endap seperti seorang pencuri, ia berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sesampainya di kamar mandi, ia segera mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa sangat dingin, secara pelan-pelan. Agar tidak terdengar oleh orang lain.


Setelah itu, ia kembali ke kamar dengan langkah yang mengendap-endap pula. Tapi baru saja ia memegang handle pintu kamarnya, Bu Mirna keluar dari kamar dan menoleh ke arahnya. Lalu menyunggingkan senyum.


Siska merasa malu, karena rambut basahnya masih berbalut handuk. Ia balas menyunggingkan senyum, lalu masuk ke kamarnya.


Terlihat Doni masih tertidur pulas dengan badan polosnya yang hanya tertutup selimut. Sebelum subuh tadi, memang keduanya kembali melakukan olahraga malam.


Siska menggelar sajadah, lalu sholat di dekat ranjang tempat tidurnya. Sepanjang sujud dan setelah dzikir, ia terus mengucapkan syukur atas apa yang ia dapatkan sampai detik ini.


Setelah selesai sholat, Siska membangunkan suaminya. Tapi Doni justru melilit tubuhnya dan kembali mengecupnya.


"Mas, geli tahu. Sholat dulu gih. Sebentar lagi matahari muncul lho."


"Em, sebentar dulu. Aku baru menikmati jadi pengantin baru. Pengen ngadon lagi."


"Ngadon ayam?"


"Bukan, ngadon baby." kekeh Doni, dengan mata yang masih terpejam.


"Hem, aku sudah lemas mas. Semalam kita telah melakukannya berapa kali? Aku sudah lemas, mas. Ingin segera memasak, lalu sarapan pagi."


"Masa jadi pengantin baru, masak sih? Tidak perlu, nanti kita beli online saja. Tapi sekarang ayo kita ngadon lagi, supaya cepat jadi anak kita. Apalagi bau wangi tubuhmu sudah membuat ku kecanduan."

__ADS_1


Siska hanya bisa mendengus, sambil geleng-geleng kepala, sebelum Doni kembali menerkamnya. Dan entah untuk yang ke berapa kalinya, keduanya kembali berguling-guling di atas tempat tidur.


Di luar kamar, Bu Mirna tengah menyapu rumah. Tak sengaja ia mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Siska. Ia kembali geleng-geleng kepala sambil menyunggingkan senyum.


__ADS_2