Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
46. Melabrak Mala


__ADS_3

"Mahes, Mahes." Mala memanggil Mahes berulang kali sehingga membuat laki-laki itu tergeragap.


"Eh, iya non. Ada apa." Mahes mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan Mala.


"Mahes, kamu apa-apaan sih. Kok duduknya di bawah?" ucap Mala dengan raut wajah kemerahan, karena malu diperlakukan seperti itu oleh asisten nya.


"Tidak apa-apa non. Saya duduk di bawah saja. Lagian saya ini kan cuma pembantu di rumah ini."


"Kok bicaranya seperti itu. Aku menganggap kalian ini seperti saudara ku sendiri." ucap Mala sambil merangkul bahu bibi yang ada di samping kanan dan kirinya.


Perbuatan Mala itu berhasil membuat hati Mahes bergetar, karena sangat terpesona dengan sikapnya. Yang tidak membeda-bedakan satu sama lain.


Jarang sekali ada majikan yang mau merangkul asisten rumah tangganya dan menganggap mereka saudaranya, seperti yang dilakukan Mala tadi.


Sambil beristirahat, Mala dan para asisten rumah tangganya asyik bercakap-cakap.


"Sudah cukup istirahatnya. Aku ingin berlatih lagi." cetus Mala.


"Ayo non. Saya bantuin." Mahes dengan sigap berdiri.


Di tengah Mala sedang fokus berjalan, Bu Ningrum menghampirinya.


"Maa syaa Allah, Mala." serunya dengan mata yang berbinar. Mala dan Mahes menoleh bersamaan.


"Kamu sudah bisa berjalan nak?"


"Baru sekedar latihan kok bu." balas Mala dengan diiringi senyum simpul.


"Semua memang butuh waktu, kamu terus semangat ya sayang."


"In shaa Allah bu."

__ADS_1


"Ibu bawa kabar untuk kamu."


"Oh ya, apa itu bu?"


"Kami sudah mengirim surat gugatan cerai mu ke Doni."


Senyum yang tadi tersungging di wajah Mala mendadak sirna. Bu Ningrum dan Mahes bisa merasakan hal itu.


"Apa kamu berubah pikiran? Kenapa terlihat tidak senang sayang?" tanya Bu Ningrum lagi.


"Tidak." Mala menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hanya saja, setiap kali mendengar namanya di sebut, hatiku merasa sakit. Teringat akan semua rasa sakit yang ia torehkan pada ku, bu."


Bu ningrum dan Mahes bernafas lega. Karena ternyata tuduhan yang dilontarkan tidak benar.


"Itu manusiawi sayang. Lebih baik kamu belajar untuk memaafkannya, tapi tidak untuk kembali padanya. Karena sebuah pengkhianatan itu tidak bisa di tolerir." ucap Bu Ningrum bijak.


"Mala mengerti bu. Terima kasih untuk nasehatnya."


Mala mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah, ibu pamit dulu ya. Mahes, tolong jaga nak Mala dengan sebaik-baiknya ya."


"In shaa Allah Tante." Mahes membungkukkan sedikit badannya.


"Mala. Mala." teriak seseorang yang suaranya sangat Mala hafal. Mereka saling beradu pandang, karena was-was apa yang akan terjadi nanti.


"Maafkan saya non. Tenaga orang kurang waras ini terlalu kuat. Jadi saya kalah." ucap security sambil menundukkan kepalanya, karena takut akan dimarahi oleh majikannya. Ketika Doni berhasil masuk menemui Mala yang ada di taman belakang.


Mata Doni membulat ketika Mahes si mantan bosnya, selalu ada di samping istrinya. Tapi karena rasa sakit hatinya pada Mahes, sudah di pecat secara tidak hormat, maka Doni tidak menghiraukan keberadaannya.

__ADS_1


"Mala, apa-apaan ini? Bukan kah sudah ku bilang. Aku tidak mau bercerai dengan mu." ucap Doni dengan lantang, sambil melempar surat gugatan cerai ke arah Mala.


"Kamu tidak mau diceraikan, tapi kelakuan seperti ini. Ngaca dong." ucap Mahes, yang tingkat emosinya sudah berada di ubun-ubun. Ia sangat benci jika ada yang memperlakukan sesamanya dengan cara yang buruk.


"Minggir. Aku tidak ada urusannya dengan mu." Doni mendorong kasar Mahes, hingga membuat laki-laki itu sedikit hilang keseimbangan.


"Mala, aku mohon sayang. Kita perbaiki hubungan kita ini. Aku rela ikut dengan mu disini, agar bisa menjaga dan merawat mu dengan baik." Doni bersimpuh di kaki Mala.


"Apa kamu tidak malu mengemis cinta pada wanita cacat seperti ku?"


"Aku tidak mengemis. Tapi hanya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik ku."


Mala tertawa sinis.


"Memang apa yang seharusnya menjadi milik mu."


"Kamu sayang. Dan rumah ini serta perusahaan papa mu."


"Oh, jadi kamu tidak mau bercerai dengan ku karena menginginkan semua ini?"


"Itu sudah wajar sayang. Karena aku ini suami mu."


"Ngaca dong mas. Ini semua milik ku, kenapa kamu mengaku-ngaku milik mu? Ternyata semua yang kamu tunjukkan di awal hanyalah kepalsuan belaka. Aku baru tahu, kamu itu tidak pernah sayang dengan ku.


Aku bersyukur sekali sudah diberi petunjuk oleh Allah dan mengetahui keburukan mu itu. Yang kamu kejar cuma hartaku saja. Semua ini menambah keyakinan ku untuk segera berpisah dengan mu."


"Jangan sayang." Doni memeluk Mala dengan kuat. Yang membuat wanita itu terkejut setengah mati dan ketakutan.


Mahes dan Bu Ningrum segera mengurai pelukan diantarnya keduanya. Bu Ningrum segera memeluk Mala untuk menghilangkan ketakutannya.


"Kenapa kalian memisahkan aku dan istriku, hah?" sentak Doni.

__ADS_1


"Jika caramu seperti ini. Tentu saja membuatnya takut. Wanita itu harus diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang."


"Halah, anak kemarin sore saja. Sok menceramahi ku. Dasar serigala berbulu domba. Aku doakan semoga perut mu buncit seperti orang hamil, karena telah berbuat tidak adil pada karyawannya." Doni menunjuk wajah Mahes dan beradu pandang dengannya.


__ADS_2