Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
90. Sembuh


__ADS_3

Siska menghadap sebuah cermin. Ia melihat bayangan dirinya, yang sudah tampak rapi dengan memakai kaos panjang dan rok panjang sampai mata kaki. Rambut pirang yang warnanya hampir memudar ia ikat ke belakang.


Pakaiannya itu, ia beli beberapa bulan lalu secara online. Karena rasanya sangat tidak nyaman di bawah sana, jika masih menggunakan celana yang ketat.


Ia duduk di tepi ranjang, sambil mengecek berkas-berkas penting yang akan digunakan untuk check up.


Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil, lalu klaksonnya. Dengan hati-hati, ia berjalan mengintai dari balik jendela. Pesanan taksi onlinenya sudah datang. Gegas ia keluar kamar.


Tanpa perlu dikasih tahu, sopir taksi itu sudah tahu kemana arah tujuan Siska pergi. Karena setiap kali Siska order, selalu saja yang nyangkut drivernya adalah si sopir taksi itu.


Siska lebih banyak diam, sambil memperhatikan sisi jalan. Wajahnya terlihat menyimpan beban berat yang sulit untuk di tanggung seorang diri. Dan sang sopir bisa melihat itu.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Siska tiba di sebuah rumah sakit negeri di daerahnya.


Ia pun membayar total tagihan nya, lalu keluar dari mobil taksi itu dengan langkah tertatih. Sang sopir yang melihat hal itu, merasa kasian. Akhirnya turun dari mobil, dan ikut membantu.


"Mari, saya bantu anda mbak." Siska menoleh pada pria yang berseragam biru disampingnya sebentar, lalu berjalan lagi.


"Terima kasih. Tapi aku bisa sendiri."


"Tidak ada orang sakit yang masih ngeyel seperti anda, mbak." laki-laki itu pun membantu Siska berjalan dengan memegangi pinggangnya, dan tangannya.


Sopir itu berlalu pergi, setelah Siska berhasil mencapai meja resepsionis.

__ADS_1


Setelah wanita itu mendaftarkan diri, ia berjalan menuju poli yang dimaksud. Lalu duduk di kursi tunggu dengan terdiam. Tapi dalam hatinya mengucapkan istighfar.


Hanya beberapa kata yang ia ketahui dalam ajarannya selama ini. Yakni, istighfar, tahmid, dan kalimat istirja'.


Menjadi anak seorang wanita tuna susila, membuatnya nol besar dalam urusan agama. Label agama hanya tertera di KTP nya saja.


Setelah berselang satu jam, akhirnya ia dipanggil masuk oleh seorang perawat. Sebenarnya tidak banyak antrian, karena hanya dia seorang yang mengantri. Tapi dokternya datangnya terlambat, sehingga membuatnya harus bersabar menunggu.


Dokter perempuan yang biasa menanganinya menyambutnya dengan tersenyum ramah sambil mempersilahkan nya duduk.


"Bagaimana kabarnya? Apa yang anda rasakan sekarang?"


"Sepertinya rasa sakitnya sudah berkurang, Bu. Saat pipis dan pup sudah lumayan tidak sesakit dulu."


"Hem, baiklah. Kita coba cek keadaannya sekarang yuk. Silahkan berbaring di atas brankar."


Dokter yang telah memakai peralatan lengkap, seperti sarung tangan dan masker, mulai mengecek keadaan bagian bawah tubuh Siska.


Setiap saat dilakukan pengecekan, jantung Siska selalu berdegub kencang. Ia takut akan kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya.


Hampir tiga puluh menit, bagian bawahnya di otak-atik oleh dokter. Tanpa tahu apa saja yang dimasukkan di bagian itu. Akhirnya pemeriksaan itu pun selesai. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.


Dokter menarik nafas lega, sambil membuka maskernya.

__ADS_1


"Berdasarkan pengecekan tadi, bakteri dan virus di bagian itu sudah hilang. Hanya tinggal bekas-bekas nya saja. Meskipun begitu, anda harus tetap rutin check up dan jangan sampai berhenti minum obat antibiotik dan obat-obatan lainnya."


"A-apa itu artinya saya sudah sembuh, Dok?" tanya Siska sedikit gemetar. Dokter pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Ya. Bisa dibilang seperti itu. Tapi akan lebih bagus lagi, jika anda mengikuti apa yang saya katakan tadi. Rutin check up dan meminum obat." tegas dokter.


"Ba-baik, Dok. Saya akan terus ikuti apa saran dokter." ucap Siska dengan terbata.


"Iya, Bu." balas sang dokter diiringi senyumannya.


Mata Siska berbinar ketika mendengar hal itu. Tidak sia-sia seluruh harta yang ia miliki, digunakan untuk pengobatannya yang tidak sedikit jumlahnya.


Setelah Siska mengucapkan terima kasih dan mendapat sejumlah resep yang harus di tebus, ia keluar ruangan.


Wajah murungnya yang selalu menghiasi setiap hari, kini berubah cerah. Ada kesempatan bagi dirinya untuk memperbaiki hidupnya. Walaupun belum ada gambaran, dia akan berkerja apa setelah ini.


Ia sudah tiba di loket pengambilan obat. Lalu ikut mengantri seperti yang lainnya. Satu persatu nama dipanggil. Dan akhirnya tiba gilirannya.


Siska menelan saliva, ketika menerima sejumlah obat yang banyak jumlah dan jenisnya. Dan berlalu pergi dari situ. Ia berjalan ke depan sambil menunggu pesanan taksinya datang.


Baru saja ia akan duduk di kursi tunggu, mobil berwarna hitam yang ia tumpangi tadi, mendekat ke arahnya.


"Alhamdulillah. Tepat waktu." gumam Siska dengan senyum sumringah.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2