Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
119. Mantan pendosa


__ADS_3

Mahes dan Mala bergandengan dengan mesra menuju mobilnya terparkir. Tak lupa laki-laki itu membukakan pintu untuk istrinya.


Setelah memastikan semua aman, mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Di saat keduanya asyik bercerita, Mala tiba-tiba teringat sesuatu.


"Mas, ayam goreng seperti kemarin."


"Okay. Kita kesana sekarang."


Mala tersenyum sumringah mendengarnya.


**


Pagi hari yang sama. Seperti biasanya, Doni menjemput Siska. Biasanya gadis itu sudah menunggunya di depan pagar kost-kostan. Tapi tumben sekali, kali ini ia belum kelihatan.


Karena takut Siska belum bangun, Doni menepikan mobilnya. Ia masuk ke pelataran kost-kostan.


'Ya ampun. Aku mau tanya sama siapa nih? Ngga ada orang sama sekali.' batin Doni.


Kepalanya celingak-celinguk mencari orang yang bisa memberikan informasi padanya.


'Tidak mungkin kan, aku mengetuk semua pintu yang ada. Bisa-bisa aku di keroyok lagi.'


Saat Doni berjalan mondar-mandir, Siska keluar dari kamarnya. Keduanya bertubrukan hingga keduanya terjatuh.


Dengan posisi Siska berada di bawah kungkungan Doni. Netra keduanya saling beradu. Jantung keduanya juga berdetak tak karuan.


'Ampun. Kenapa bunyi genderang bertalu-talu, ada dalam hatiku?' batin Doni.


'Perasaan apa ini? Tak pernah sekali pun hatiku berdetak sehebat ini di dekat laki-laki.' batin Siska, di waktu yang bersamaan.


"Siska!" teriak ibu pemilik kost. Yang membuat kedua insan itu terkejut, dan segera beranjak dari tempat terjatuh.

__ADS_1


Keduanya berdiri sembari merapikan penampilannya.


"Apa yang kalian lakukan disini? Mau berbuat tidak senonoh. Hah? Dibayar berapa pun, aku tetap tidak mau. Kalau tempat ku dipakai untuk hal hal berbau ranjang." tegas ibu kost.


"Maaf, Bu. Kami tidak melakukan apapun." ucap Doni dan Siska bersamaan.


"Saya, adalah atasan di mana Siska bekerja. Kebetulan kami arahnya sama. Jadi saya menghampiri nya, daripada Siska naik angkutan umum. Kan bisa terlambat. Biasanya Siska menunggu saya di depan pagar. Tapi tadi tumben sekali dia belum ada, jadi saya inisiatif untuk memanggilnya. Karena tidak tahu dimana kamarnya, saya hanya berjalan mondar-mandir. Hingga akhirnya saya dan Siska saling bertabrakan." jelas Doni panjang lebar.


Ibu kost itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Siska dan Doni bergantian.


"Hem, kali ini aku bisa menerima alasan mu. Tapi, jika sampai hal seperti ini terjadi lagi. Silahkan menikah saja. Daripada harus menanggung dosa."


"Apa! Menikah?" seru Doni dan Siska bersamaan. Keduanya saling beradu pandang.


"Bbaik, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu." ucap Doni, tanpa sengaja, ia menggandeng tangan Siska. Dan perempuan itu juga menurut saja.


"Hai! Jangan pegang-pegang tangan." seru ibu kost.


"Jangan bilang kalau kamu tidak sengaja lagi." ucap ibu kost tegas.


"Maaf, Bu. Memang kenyataannya begitu. Sekali lagi saya permisi." ucap Doni.


Ia pun segera melanjutkan perjalanannya lagi bersama Siska. Menuju mobil yang terparkir di dekat pagar kost-kostan.


Setelah masuk mobil, keduanya menghirup nafas lega. Lalu Doni pun melajukan mobilnya.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku, jika ibu kost mu galak sekali?"


"Maaf, mas. Aku juga tidak tahu. Karena selama ini aku juga tidak pernah kena tegur dia."


"Berarti ini semua gara-gara aku dong. Ya sudah aku minta maaf ya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mas. Lupakan saja." Siska menggelengkan kepalanya.


"Oh iya, mas. Ini sepertinya mas Doni salah masukin uang. Tidak sesuai dengan kesepakatan kita di awal." Siska mengulurkan amplop coklat pada Doni.


"Bukankah ini uang gaji mu?" Siska mengangguk.


"Memang berapa uang yang ada di dalamnya?"


"Tiga juta, mas."


"Berarti aku tidak salah hitung."


"Lhoh, bukannya kesepakatan kita di awal, mas Doni memberiku gaji lima puluh ribu sehari?" Siska mengingatkan Doni, barangkali pemuda itu lupa.


"Awalnya memang begitu. Tapi, setelah mempertimbangkan kinerja mu. Dan juga omset yang aku dapatkan, membuatku berubah pikiran. Dan menggaji mu sejumlah itu. Doakan saja, setiap hari omset ku terus meningkat. Agar aku bisa menggaji mu lebih banyak lagi." Doni menjelaskan dengan diiringi senyuman.


"Apa mantan pendosa, do'anya juga bakal diterima?" lirih Siska, dengan suara yang nelangsa. Tapi Doni masih bisa mendengarnya.


"Apa kamu bilang? Mantan pendosa?" ulang Doni.


"Eh, bukan-bukan. Lupakan saja, mas."


"Mantan pendosa itu, artinya dia sudah insyaf, tidak akan melakukan perbuatan tercela lagi. Doanya in shaa Allah juga akan diterima dan bahkan dikabulkan Allah. Lagian, mantan pendosa itu justru lebih baik daripada mantan ustadz."


Siska manggut-manggut mendengar penjelasan Doni. Ia yakin, jika ia berdoa dan mohon ampun sungguh-sungguh pada Allah. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.


"Terima kasih ya, mas. Sudah memberiku gaji lebih. Semoga rezeki mu semakin lancar."


"Aamiin. Terima kasih juga untuk doanya."


Keduanya saling beradu pandang dan melempar senyum. Tak lama kemudian, akhirnya tiba di kedai. Tanpa banyak bertanya, mereka segera melakukan tugas-tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2