Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
19. Pesta kebun


__ADS_3

Air mata Mala seketika luruh mendapati kenyataan yang ada. Ia tidak menyangka jika laki-laki yang begitu dicintai nya tega mengkhianatinya.


Ternyata teras depan rumah suaminya bukan di pinjam tetangga untuk melaksanakan hajatan. Melainkan untuk suaminya sendiri.


Banyak pertanyaan yang melintas di kepala Mala. Kenapa suaminya tega berbuat itu pada dirinya.


Niat baik Mala menjenguk ibu mertuanya, dan ingin memberi sejumlah uang yang diminta suaminya, untuk biaya pengobatan seakan tidak ada artinya.


Mahes, pria tampan yang berdiri di belakang Mala juga ikut menyaksikan hal itu. Dari awal ia sudah memiliki feeling jika suami Mala memang tidak benar-benar mencintainya setulus hati.


Walaupun hanya dua hari satu kamar dengan Mala ketika di rumah sakit, Mahes sedikit banyak tahu tentang akal bulus Doni dan ibunya.


"Nona, sebaiknya kita pergi dari sini. Jika kedatangan kita kesini justru membuat anda bersedih." ucap Mahes, yang merasa tidak tega melihat wanita itu menangis.


"Kamu benar Mahes. Sepertinya kita salah tempat. Tunggu dulu, aku akan mengabadikan momen terindah bagi laki-laki yang mengaku suami ku itu." Mala lantas merogoh handphone dari dalam tasnya.


Lalu ia pun memvideo keseruan acara pernikahan dan tak lupa juga memfoto suaminya yang tengah duduk bersanding dengan wanita cantik.


Setelahnya ia mengeluarkan amplop coklat besar dari dalam tasnya, lalu mengisinya dengan uang, membubuhi nama lengkap serta alamat rumahnya.


"Selamat menempuh hidup baru suami ku. Doa ku selalu menyertaimu. Semoga Allah membalas sakit hati yang aku rasakan ini, karena kamu tega bermain di belakang ku.

__ADS_1


Dan uang dalam amplop ini semoga cukup untuk membantu biaya pernikahan mu. Sampai bertemu di persidangan nanti.


Meskipun aku cacat, tapi aku tidak mau dimadu. Karena aku hanyalah manusia biasa. Bukan malaikat bersayap yang tak punya keinginan apapun." ucap Mala sebelum akhirnya ia memasukkan amplop tebal itu ke dalam wadah sumbangan. Tentunya setelah seseorang membuka gemboknya.


Orang yang membuka gembok itu berpikir, jika Doni sangat beruntung mendapatkan amplop sumbangan setebal itu. Pasti isinya sangat banyak.


"Terima kasih ya non." ucap laki-laki yang baru saja menutup gembok itu. Mala hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis di balik maskernya.


"Pergi sekarang Mahes." ucapnya kemudian. Dengan sigap Mahes segera mendorong Mala menuju ke arah mobilnya.


"Biar saya bantu anda nona." ucap Mahes sambil mengangkat tubuh Mala, karena ia melihatnya kesusahan berpindah ke mobil.


"Te_terima kasih Mahes. Harusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti itu. Aku bisa sendiri." ucap Mala dengan sedikit gugup, karena itu adalah kali pertama tubuhnya di angkat oleh seorang laki-laki.


Mala terkekeh kecil mendengar penuturan Mahes yang terlalu formal itu.


"Mahes, tidak perlu terlalu kaku begitu. Aku lebih suka kamu bercerita panjang lebar seperti tadi. Ayo segera masuk mobil. Aku ingin segera pergi dari tempat ini."


"Baik nona." balas Mahes sambil mengangguk, lalu menutup pintunya dengan benar, dan mengitari mobil menuju pintu samping kemudi.


Mobil mewah milik Mala keluar dari area parkir hajatan Doni, dan membelah jalanan yang cukup ramai.

__ADS_1


Mereka kembali bercakap-cakap sampai akhirnya mobil telah memasuki pelataran rumah mewah Mala.


"Aku ingin di taman samping Mahes. Bisa kah kamu antar aku kesana?"


"Dengan senang hati nona." Mahes pun segera mendorong Mala menuju ke taman.


"Panggil seluruh asisten rumah tangga kesini. Jangan lupa untuk membawa tikar, aneka minuman dan buah-buahan, serta piring. Aku ingin mengajak mereka untuk pesta kebun."


"Pesta kebun?" gumam Mahes.


"Iya, pesta kebun. Untuk merayakan pengkhianatan suamiku. Aku juga perlu mengadakan sebuah pesta. Walaupun hanya pesta sederhana, yang jelas hal itu akan membuat ku senang. Karena bisa berkumpul bersama dengan orang-orang yang tulus dan setia dengan ku."


"Oh, baik nona." Mahes segera berlalu meninggalkan Mala, dan masuk ke dalam rumah memanggil para asisten rumah tangga.


Sedangkan Mala menikmati warna warni bunga yang tengah dihinggapi kupu-kupu. Semua tampak indah di pandang.


Ia menghirup dalam-dalam aroma khas taman. Untuk menghilangkan segala rasa yang berkecamuk di dadanya.


"Ya Allah, terima kasih sudah menunjukkan keburukan suamiku, sebelum aku sempat menyerahkan uang dan segala aset perusahaan pada dia.


Mungkin beberapa hari mobile bangking ku eror, saat malam pertama justru aku haid, juga karena Engkau ingin melindungi ku dari suami seperti dia.

__ADS_1


Terima kasih untuk semua perlindungan yang Engkau berikan ya Allah. Aku janji akan lebih bersemangat untuk sembuh, agar bisa kembali mengelola perusahaan papa.


Aku yakin aku bakal sembuh dan bisa melewati semua ini. Sehingga mereka akan menyesal telah berbuat semena-mena padaku." gumam Mala sambil menyeka air matanya.


__ADS_2