
"Kalau yang ini harganya berapa pak?" giliran Doni yang menunjuk sebuah mobil.
"Itu harganya lima puluh juta."
"Yah, uangnya tidak bisa sisa dong." gumam Doni lirih, tapi bisa di dengar oleh salesman.
"Memangnya budgetnya berapa mas, kalau saya boleh tahu?"
"Saya punyanya lima puluh juga pak. Tapi tidak mungkin semua saya pakai untuk membeli mobil. Karena saya juga punya kebutuhan yang lain."
Salesman sejenak mengedarkan pandangannya sambil berpikir. Tak lama kemudian ia menunjuk sebuah mobil.
"Nah, ada kok pak yang harganya di bawah lima puluh juta. Itu mobil warna merah. Mari kita lihat dari dekat."
Doni dan ibunya saling beradu pandang, lalu mengangguk. Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang di maksud.
"Nah, ini pak mobil yang saya maksud." Salesman menunjuk sebuah mobil Kijang berwarna merah. Lalu menjelaskan secara detail.
"Tapi ibu suka yang tadi Don." celetuk Bu Mirna.
"Ibu, uang kita hanya cukup untuk ini. Tidak boleh boros, karena Doni belum kerja." tegas Doni.
"Iya pak, saya mau ambil yang ini saja."
"Baiklah. Mari kita lengkapi kelengkapan dan administrasinya." Salesman mempersilahkan keduanya menuju meja kasir.
Setelah segala urusannya selesai, akhirnya Doni bisa mengendarai mobil itu untuk pulang.
"Don, mampir beli steak, iga bakar, dan es buah dong."
"Siap, Bu."
__ADS_1
Doni melajukan mobilnya menuju kedai iga bakar yang terkenal enak.
"Hem, baunya saja enak sekali. Ibu ngga sabar pengen segera makan." ucap Bu Mirna ketika pesanannya telah selesai dibuat.
"Sabarlah bu. Sebentar lagi juga sampai rumah kok."
Setelah lima belas menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Keduanya tidak menaruh rasa curiga sama sekali, bahwa rumahnya telah dimasuki oleh seseorang. Karena Siska telah merapikan semuanya seperti sedia kala, untuk menghilangkan jejak.
Keduanya sangat bahagia, akhirnya tidak perlu kepanasan ataupun kehujanan ketika bepergian. Untuk sementara waktu mereka berdua juga bisa makan enak, menggunakan uang sisa hasil penjualan perhiasan.
**
Hari berlalu begitu cepat.
Mala sudah bisa berjalan. Ia ingin mengunjungi perusahaan papanya. Sebagai satu-satunya ahli waris, ia merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk memajukan perusahaan tersebut.
Dan di kediamannya saat ini, ia tengah bersiap-siap menuju kantor.
Ia terlihat begitu cantik dan elegan. Terlihat seperti wanita karier yang bersahaja. Tapi siapa sangka di balik pesonanya itu, ia benar-benar merasa gugup. Karena ini adalah pertama kalinya ia ke kantor.
Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. Ia menatap tajam bayangan dirinya lewat pantulan cermin. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia bisa memegang amanah yang begitu besar.
Cukup lama ia duduk merenung, akhirnya ia bangkit berdiri dan menyambar tas kerjanya yang berwarna hitam. Lalu melangkah keluar kamar.
"Ya Allah, non Mala cantik sekali." puji para asisten rumah tangganya. Ketika Mala sudah berada di ruang makan.
"Bibi, bisa saja memujinya. Semua wanita itu kan memang cantik."
"Mala, kami cantik sekali." kini giliran bu Ningrum yang memuji Mala.
Pagi itu memang ia sengaja menghampiri Mala, agar bisa berangkat bersama dengannya. Karena ada beberapa hal yang harus disampaikan pada janda muda itu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Mahes juga ikut menyusul ke ruang makan. Ia memang masih menjadi asisten rumah tangga Mala. Karena benar-benar ingin memastikan wanita pujaan hatinya selalu dalam keadaan baik-baik saja.
Ia tertegun ketika melihat penampilan Mala yang lain dari biasanya. Jantungnya selalu berdegub kencang saat bersamanya.
'Ya Allah, kenapa dia pandai sekali membuat jantung ku selalu berdegub kencang. Setiap penampilannya selalu memukau. Bahkan setiap tutur katanya yang begitu menentramkan hati ku. Seperti almarhum mama ku.'
"Mahes. Kenapa kamu justru berdiri disitu? Ayo kita makan bersama." ucap Mala.
"Eh, iya non." Mahes berjalan menghampiri meja makan.
Mereka pun menikmati sarapan pagi bersama, dalam suasana yang hangat dan penuh kasih, layaknya saudara sendiri.
Setelah selesai sarapan, Mahes mengantar Mala dan Bu Ningrum ke kantor. Kedua wanita itu duduk di kemudi belakang.
Sedangkan Mahes fokus menyetir. Sesekali Mahes memperhatikan wanita pujaan hatinya yang tengah asyik bercakap-cakap, dari balik kaca spion.
"Mahes, kamu bisa ke kantor mu ya, setelah mengantarkan aku." ucap Mala yang mengetahui jika Mahes tengah memperhatikannya. Ia sengaja berkata seperti itu untuk menghilangkan kegugupannya.
"Baik, non." Mahes menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Mahes." ucap Mala, saat Mahes membukakan pintu untuknya.
"Sama-sama, non."
Keduanya saling beradu pandang. Bola mata mereka menyiratkan rasa cinta yang dalam, tapi sulit untuk diungkapkan.
"Aku sudah berulang kali memperingatkan mu, jangan memanggil ku nona. Aku merasa tidak enak denganmu."
"Baiklah, jika itu bisa membuat non Mala bahagia. Eh, maksud saya... Kamu bisa bahagia... Kemala Ayu. Semangat terus ya kerjanya."
Mala tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
Tak dipungkiri, kehadiran Mahes bak air hujan yang menyiram bunga cinta di hati Mala yang layu, menjadi segar kembali.