Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
71. Di gusur atau di bakar?


__ADS_3

"Ibu." teriak Doni histeris.


Ia langsung jatuh terduduk sambil menangkap tubuh ibunya. Badannya sakit, tapi hatinya juga jauh lebih sakit. Melihat wanita yang melahirkannya pingsan karena ulah istri tak tahu dirinya.


Pak RT di bantu keluarga pak Darma mengangkat tubuh Bu Mirna, dan menidurkan nya di sofa ruang tamu.


Doni tak bisa mengangkat tubuh ibunya, karena kakinya sakit. Ia hanya bisa jalan tertatih mengikuti dibelakang rombongan.


Istri pak Darma memijit urat syaraf dan mendekatkan minyak telon di hidung Bu Mirna. Tak lama kemudian wanita itu pun mengerjapkan matanya pelan.


"Doni. Ibu ngga mau pergi dari rumah ini." lirih Bu Mirna.


"Tapi, Bu..." Doni bingung mau menjawab bagaimana.


"Pak, tolong jangan usir kami dari rumah ini. Kami bingung mau tinggal dimana. Karena tidak punya saudara." rintih Bu Mirna penuh harap pada pak Darma.


"Maaf, Bu. Kami beli rumah ini juga pakai uang. Anak saya ingin hidup mandiri dengan memiliki rumah sendiri. Ibu nanti juga bisa mengekost, atau mengontrak." balas pak Darma.


"Kami tidak bisa berlama-lama disini. Ingat waktu satu Minggu yang kami berikan pada anda, Bu." ucap istri pak Darma. Mereka pun segera berlalu pergi.


Kini tinggallah Doni dan ibunya, setelah semua orang pergi dari rumahnya. Keduanya saling menyalahkan dan pada akhirnya memang Doni yang harus mengalah.


Laki-laki itu mencoba menghubungi nomor Siska, tapi selalu tidak bisa. Bahkan mengirim pesan pun juga gagal. Ia curiga jika Siska telah mengganti nomor teleponnya.


Sekarang yang bisa ia lakukan adalah merutuki nasibnya yang apes.


**

__ADS_1


Siska benar-benar menikmati uang hasil penjualan tanah itu dengan berfoya-foya.


Setelah membeli mobil dengan harga ratusan juta, ia juga membeli beberapa potong baju baru dengan harga tidak ramah di kantong.


Ia juga membeli perhiasan emas, karena perhiasannya yang dulu sudah di curi oleh mertua dan suaminya.


Kini ia juga tinggal di sebuah apartemen mewah. Jika membayangkan hidup di rumah suaminya. Terasa begitu memprihatinkan. Ia tak mau hal itu terjadi.


Beberapa panggilan dan pesan dari Doni, sengaja tidak ia gubris. Justru ia memblokir kontak suaminya. Sungguh istri yang luar biasa, dan tidak ada tandingannya.


Dan sore itu, ketika ia baru pulang dari shopping, ia melemparkan begitu saja barang-barang belanjaannya di dekat tempat tidurnya.


Tiba-tiba ia merasa anggota tubuh bagian bawahnya sakit.


"Apa aku akan menstruasi lagi? Tapi biasanya jika aku menstruasi juga tidak sesakit ini." gumamnya.


Tapi ketika dini hari, ia terbangun dan merasakan organ bagian bawahnya merasa sakit lagi.


Dengan langkah tertatih ia berjalan menuju dapur. Ia mencari makanan dan minuman. Berharap jika rasa sakit yang diderita karena rasa lapar semata.


Namun belum habis makanannya, ia kembali meremas perutnya yang terasa semakin sakit. Ia berjalan menuju kamar mandi, ingin buang air kecil.


"Ih, bau banget sih. Apa karena aku belum mandi. Jadi badan ku baunya tidak enak seperti ini?" gumam Siska.


"Ah, kenapa sakit sekali." rintih Siska ketika buang air kecil.


**

__ADS_1


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Semua tetangga sudah tahu dengan apa yang menimpa keluarga Bu Mirna.


Ada yang kasian, tapi tak sedikit pula yang mensyukuri atas musibah berturut-turut yang di alaminya. Dan hal itu sukses menjadi trending topik ibu-ibu tukang ghibah.


Hari ini genap satu Minggu tenggang waktu yang diberikan oleh keluarga pak Darma untuk mengosongkan rumah.


Tapi Doni dan ibunya masih biasa saja. Barang-barangnya juga masih di tempat semula. Seolah enggan untuk meninggalkan rumah itu.


Para tetangganya juga rela bangun pagi untuk melakukan pekerjaan sebagaimana biasanya. Dan setelah itu, mereka telah berkerumun di teras rumah tetangga, yang rumahnya bersebelahan dengan Bu Mirna.


Jiwa wartawan mereka meronta-ronta ingin tahu lebih lanjut apa yang akan terjadi setelah seminggu berlalu.


Dan adrenalin mereka lebih terpacu ketika melihat mobil yang di kendarai pak Darma memasuki pelataran rumah bu Mirna.


Para tetangganya segera mengeluarkan handphone masing-masing untuk mengabadikan momen langka yang mungkin saja akan terjadi.


Pak Darma mengetuk pintu sembari mengucapkan salam.


Sengaja Doni dan ibunya tidak menjawab, seolah-olah tidak mendengar. Untung saja mereka tadi sudah mengunci pintu rumah, jadi aman bersembunyi.


Keduanya terkekeh kecil ketika pak Darma terus-menerus memanggil.


"Memang enak, rumah ku mau di aku aku jadi rumah nya. Oh, tidak bisa." bisik bu Mirna pada Doni.


"Betul, Bu. Setuju." ucap Doni mengacungkan jempol. Keduanya memang tengah bersembunyi di kamar Bu Mirna. Yang terletak di tengah-tengah antara kamar Doni dan dapur.


"Bu Mirna, saya tahu kalian ada di dalam. Jika kalian tidak keluar dan mengosongkan rumah ini, maka akan saya gusur atau bakar rumah ini sekarang juga. Biar kalian tidak bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup." seru pak Darma, yang membuat Doni dan ibunya saling beradu pandang dan membulatkan matanya, mulutnya menganga lebar.

__ADS_1


__ADS_2