
"Kamu, cepat sekali mengurus administrasi nya mas?" ucap Siska sambil mengerjapkan dan mengucek matanya.
Doni meletakkan handphonenya dan melihat ke arah Siska.
"Ia, kebetulan tidak antri." dusta Doni. Padahal ia sudah menunggu Siska tidur selama hampir dua jam.
"Ya sudah ayo kita pulang." ajak Siska, sambil bangun dari tidurnya.
"Ini, minumlah dulu. Habis itu cuci muka, biar tidak ngantuk lagi." Doni menyodorkan gelas berisi air putih.
"Terima kasih, mas."
Siska menerima uluran gelas itu dan meneguknya hingga tandas. Setelah itu, ia meletakkan gelasnya di meja dan berniat ke kamar mandi, untuk cuci muka.
"Kamu sudah kuat berjalan atau belum? Biar aku ambilkan kursi roda."
"Kuat mas." lirih Siska.
Siska merasakan badannya jauh lebih segar setelah mencuci muka. Lalu menghirup nafas dalam-dalam, dan membuangnya pelan-pelan sebelum berjalan keluar dari kamar mandi.
**
Dengan langkah pelan, Siska berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia kembali menghirup nafas lega, setelah masuk ke dalam mobil Doni.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tujuan mereka adalah kost-kostan Siska.
Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Hingga akhirnya, Siska kembali teringat dengan pertanyaannya, yang tadi belum di jawab oleh Doni.
Doni memberikan gambaran garis besarnya. Lalu menyuruh Siska untuk mendownload aplikasi tentang bacaan sholat.
__ADS_1
Seketika Siska menepuk keningnya sendiri, karena ia tidak berpikir sampai situ.
Sambil jalan Doni, melafazkan doa-doa pendek dalam sholat, agar sedikit demi sedikit Siska bisa menirukan nya.
Walaupun terbata-bata Siska tetap berusaha menirukannya. Hingga akhirnya, keduanya sudah sampai di depan kost Siska.
Jantung Siska berdegub kencang. Ia tidak dapat mengira-ngira apa yang akan dilakukan ibu kostnya padanya.
"Ayo turun. Akan aku temani." ucap Doni. Lalu ia turun dari mobil duluan, dan membukakan pintu untuk Siska.
Keduanya berjalan menuju kamar Siska. Tapi langkah keduanya terhenti, ketika suara ibu kost terdengar merdu. Merusak dunia.
"Siska! Darimana saja kamu? Sudah tiga hari tidak pulang ke kost. Sekalinya pulang, malah bawa laki-laki. Apa maksudnya, hah?"
Keberanian yang dulu ditunjukkan Siska pada seluruh dunia, saat ia menjadi wanita kupu-kupu malam, kini menguap. Berganti rasa takut dan cemas.
"Maaf, Bu. Diantara kami tidak ada apa-apa. Mohon jangan salah paham dulu. Biar saya jelaskan." ucap Doni sambil menghirup nafas. Lalu kembali melanjutkan ucapannya.
Keadaannya sangat lemah, sehingga harus di opname. Dan ini kami baru saja pulang dari rumah sakit.
Maaf, kami tidak sempat mengabari anda, karena handphone dan tas Siska masih ada di kedai. Kami belum sempat kesana." jelas Doni panjang lebar.
Ibu kost yang tadi sempat marah-marah tidak jelas, kini memindai pasangan muda-mudi yang ada dihadapannya.
Sebagai ibu kost, ia merasa memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Ia tidak ingin nama kost-kostan nya tercemar oleh satu dua oknum yang melakukan tindakan asusila.
Apalagi penghuni kostnya adalah seorang wanita. Jika wanita memasukkan laki-laki di kamar kostnya, otomatis ibu kost takut mendapatkan dosanya. Karena tempatnya digunakan untuk berzina.
"Apa buktinya jika kalian dari rumah sakit?" tegas ibu kostnya.
__ADS_1
Doni pun mengeluarkan kuitansi pembayaran, dan jadwal kontrol pasien dari dalam tasnya. Lalu menyerahkan pada ibu kost.
Siska berjingkat, penasaran ingin mengetahui berapa total biayanya.
Sementara ibu kost tampak membaca deretan tulisan itu dengan seksama. Barulah ia mengulurkan lembaran kertas itu pada Doni.
"Okay, kali ini aku percaya pada kalian. Ingat, jangan macam-macam di tempat kost ku." setelah itu ibu kost melenggang pergi.
Siska tersenyum lega, karena ketakutannya tidak terbukti.
"Terima kasih ya mas sudah membantu ku. Aku berjanji setelah sembuh akan segera menghubungi mu untuk masuk kerja." ucap Siska bersemangat.
"Iya, aku tunggu kamu masuk kerja seperti biasanya. Sekarang kamu masuk kost dan segera istirahat."
"Baik, mas. Oh iya, berapa totalnya tadi? Aku ambilkan uang di kamar."
"Tidak usah, aku sudah ikhlas kok."
"Ikhlas bagaimana?" Siska mengernyitkan dahinya.
"Ya ikhlas. Tidak perlu di ganti."
"Lhoh, kok gitu. Aku jadi merasa semakin tidak enak denganmu, mas. Kamu sudah melakukan banyak hal untuk ku, lalu bagaimana caraku menggantinya, jika kamu tidak mau menerima uang dari ku." Siska semakin mengernyitkan keningnya, karena pemuda dihadapannya terlalu baik padanya.
"Cukup kamu tunjukkan padaku, bahwa kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dan tak lupa mendekatkan diri pada Allah. Nanti aku juga akan mengingatkan mu jika lupa."
"Sekali lagi terima kasih ya mas. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan mu. Semoga suatu saat aku bisa membalasnya."
"Aamiin. Kalau begitu, aku pamit dulu."
__ADS_1
"Iya, mas. Hati-hati di jalan ya."
Kedua muda-mudi itu saling melempar senyum terbaik mereka. Sebelum akhirnya Doni melangkah pergi.