Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
165. Perut gendut


__ADS_3

"Silahkan masuk." ucap Doni, mempersilahkan Siska masuk ke rumahnya.


Siska menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya di ruang tamu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah itu. Semuanya jauh dari ekspektasinya.


Ia pikir, rumah Doni hanya sebuah rumah biasa. Tapi ini sangat bagus menurutnya.


"Aku harap kamu betah tinggal disini." Ucap Doni sambil memeluk Siska dari belakang.


"Bagaimana dengan Bu Mirna?" Siska menoleh dan menatap suaminya. Jika dulu ia ingin berpisah dengan Bu Mirna, kini ia tidak mau jauh-jauh darinya.


"Kita ajak kesini, jadi tidak perlu mengontrak lagi. Biar aku tidak kesepian juga di rumah ini."


"Sungguh, mas?"


Doni menganggukkan kepalanya, sehingga membuat Siska berbinar. Tak ragu wanita itu mengecup pipi suaminya.


"Apakah jika aku berhasil membahagiakanmu, kamu akan mengecup ku seperti ini? Atau memberikan kejutan lainnya?" tanya Doni sambil memegang pipinya yang baru saja di kecup istrinya, wajahnya juga terlihat berbinar.


"Em, kita lihat nanti ya." balas Siska disertai kekehan kecil.


**


Hari yang dinantikan pun tiba. Doni dan Siska kembali di rias oleh seorang MUA. Setelah selesai, keduanya berjalan beriringan menuju pelaminan.


Tampak tamu undangan yang sudah memenuhi tempat acara. Bu Mirna juga sudah tiba disana. Ia tampak bahagia dan terus menyunggingkan senyum.


Satu persatu acara mereka lalui bersama. Ketika berfoto, keduanya sudah tidak canggung lagi, seperti kemarin.


Tamu undangan juga tampak begitu menikmati hiburan yang disediakan. Hingga tanpa terasa, sudah tiba di penghujung acara.


Satu persatu tamu bangkit berdiri, dan bersalaman dengan kedua mempelai dan Bu Mirna. Teman-teman Siska yang juga merupakan karyawan Doni mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya.

__ADS_1


Tapi hanya ada seorang saja yang bermuka masam, siapa lagi kalau bukan Mira. Ia tidak terima ada karyawan yang menikah dengan bos nya. Jika pun ada, yang pantas menikah dengan bos nya adalah dirinya sendiri.


"Sebaiknya, aku pecat saja dia. Setelah kita masuk kerja nanti." bisik Doni pada Siska.


"Jangan, biarkan saja dia tetap bekerja di kedai kamu, mas. Kasian dia."


"Okay, baiklah. Aku akan ikuti perkataan mu. Tapi kalau dia sampai berbuat macam-macam dengan mu, aku tidak akan tinggal diam."


"Beres." Siska mengedipkan sebelah matanya.


"Ah, jangan seperti itu dong sayang. Bikin aku tidak sabar ingin masuk ke kamar kita." kekeh Doni.


"Dasar!" Siska mendelik menatap suaminya.


**


Empat bulan telah berlalu dengan cepatnya.


Setelah selesai sholat subuh, ia juga kembali tidur. Tidak seperti biasanya yang langsung pergi ke dapur untuk memasak.


Meskipun begitu, Doni tidak marah. Ia justru ikut tidur sambil melingkarkan tangannya di perut sang istri.


Namun keningnya mengernyit, ketika tangannya merasakan sesuatu yang aneh pada perut Siska.


'Kenapa perut Siska semakin gendut? Aku perhatikan buah dadaanya juga semakin besar. Apa dia jadi gendut gara-gara aku sering membawakannya makanan tengah malam?' batin Doni.


**


"Sayang, apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya Doni, sambil memperhatikan Siska yang tengah menyisir rambutnya sambil berdiri.


Jika Siska berdiri dan mengenakan baju yang tipis, memang perut dan dadanya semakin terlihat jelas kian membesar.

__ADS_1


"Kenapa kamu tanya begitu, mas? Tentu saja aku bahagia."


"Oh, berarti benar apa yang dikatakan oleh banyak orang itu. Jika orang yang bahagia, pasti badannya bertambah gemuk."


"Apa? Apakah kamu mengatai ku gendut, begitu?" Siska menyorot tajam ke arah suaminya.


"Eh, tidak-tidak. Aku kan hanya mengulang apa yang dikatakan orang-orang diluar sana, sayang. Tapi coba deh, kamu raba perut dan dadamu. Keliatan tambah besar kan?"


Tangan Doni memegang tangan Siska, lalu mengusap perut dan dada istrinya itu. Wajah Siska berubah, ketika melakukan hal itu.


DEG!


'Benar apa yang dikatakan mas Doni, perut dan dadaku rasanya mulai membesar. Aku bertambah gendut, atau aku.... Kapan ya terakhir aku datang bulan.' batin Siska mengingat-ingat.


"Em, aku ke apotik dulu ya mas."


"Apotik? Memang kamu sakit?"


"Sepertinya begitu."


"Ya sudah, aku anterin."


Keduanya berangkat bersama menuju apotik dengan mengendarai mobil Doni.


"Memang kamu sakit apa sayang?"


"Mungkin BAB ku kurang lancar, jadi perut ku buncit."


Doni hanya manggut-manggut saja, padahal Siska berbohong. Ia tidak ingin mengatakan hal yang belum pasti pada suaminya. Karena takut membuatnya kecewa.


Setelah sampai di apotik, Siska segera turun dan membeli apa yang dibutuhkannya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali ke mobil dan pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, ia buru-buru ke kamar mandi dan melakukan tes. Matanya berkaca-kaca dan sebelah tangannya menutup mulutnya, tak percaya pada apa yang dia pegang saat itu.


__ADS_2