Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
50. Sinta berbohong


__ADS_3

Seorang laki-laki berjaket hijau dan helm dengan warna yang sama, turun dari sepeda motornya sambil membawa dua bungkus makanan.


Doni dan ibunya yang melihat kedatangan seseorang, saling beradu pandang. Lalu menghampiri orang tersebut.


"Permisi mas, bu. Ini benar rumahnya Mbak Siska?"


"Ini bukan rumahnya, karena Siska hanya menumpang disini." balas Bu Mirna terkesan tidak ramah, sehingga membuat pengantar makanan itu merasa tidak nyaman.


Tak berselang lama, Siska datang.


"Ini bang ongkosnya, kembaliannya ambil saja." ucap Siska sambil menyerahkan selembar uang merah, lalu menerima bungkusan makanan itu, dan segera membawanya masuk ke kamar. Tentunya tak lupa ia mengunci pintunya.


"Tuh kelakuan istri mu Don. Masa beli makanan kita ngga dikasih? Harusnya kamu cari wanita lain saja. Yang cantik, baik, dan kaya."


"Doakan saja bu."


Doni pun masuk rumah, yang di susul ibunya. Tercium aroma makanan yang lezat yang begitu membuat keroncongan perut mereka.


"Sis, Siska. Buka pintunya." teriak Doni sambil menggedor pintu kamarnya.


Siska yang berada di dalam, masih diam tak bergeming dan justru meningkatkan volume musik sambil melahap makanannya.


Ceklek...


Pintu terbuka. Siska keluar sambil membawa sampah makanan.


"Kamu kok tega Sis? Makan sendiri, tidak bagi-bagi ke aku dan ibu."


"Kalian juga tega membohongiku." balas Siska datar.

__ADS_1


Walaupun Siska diam-diam juga membohongi Doni dan ibunya, ia tetap tidak terima jika dibohongi balik.


Malam harinya, Doni dan Siska sudah berada di kamarnya. Siska memang selalu memakai baju yang kurang bahan. Sehingga membuat Doni selalu meleleh ketika berada di dekatnya.


Walau sore tadi Doni marah-marah dengan Siska, nyatanya kini ia melingkarkan tangannya ke pinggang Siska. Sambil mengeluarkan rayuan gombalnya.


**


Keesokan harinya, Bu Mirna dan Doni tengah asyik menonton televisi bersama.


"Don, ibu bosen di rumah melulu. Jalan-jalan ke mall atau kemana gitu dong." cicit bu Mirna.


"Kita ini baru ngga ada uang bu. Lagian mobil juga ngga ada. Kalau naik taksi terus biayanya juga mahal."


"Siska itu kan sebenarnya punya mobil. Kenapa ngga dibawa kesini saja sih. Masa malah dipinjamkan sama temannya, dan dia sendiri justru naik taksi." seloroh Bu Mirna lagi.


"Kamu harus kasih tahu dia, supaya mobilnya cepat dibawa kesini dan bisa kita pakai jalan-jalan. Lagian nih ya, niat ibu itu mau pamer ke tetangga, kalau punya dua mobil mewah. Eh, malah mobilmu dirampok, dan mobil Siska tidak tahu kapan dibawa kesini nya."


"Siska sayang." panggil Doni, tapi Siska masih diam tak bergeming.


"Nanti kita jalan-jalan yuk?" ucap Doni lagi. Tapi kali ini Siska terlihat mulai tersenyum.


"Kemana mas? Ke mall ya. Aku mau belanja baju, tas...." ucap Siska terlihat bersemangat. Berbeda dengan awal tadi.


"Tentu boleh saja sayang, asalkan kamu bawa mobilmu kesini sekarang ya." ucap Doni mematahkan semangat Siska. Wanita itu pura-pura sedih, hingga mampu mengeluarkan air mata buaya.


"Lhoh, kenapa kamu menangis sayang?"


"Mobil ku mas."

__ADS_1


"Mobilmu? Mobil mu kenapa sayang?"


Doni dan Bu Mirna sama-sama mengernyitkan dahi.


"Ternyata mobil ku di bawa kabur sama teman ku." ucap Siska disela-sela isak tangisnya.


Semua itu adalah sandiwara yang Siska lakukan, agar suami dan mertuanya tidak melulu menyuruhnya untuk membawa mobil ke rumah.


Ia merasa ragu, melihat suaminya sekarang menganggur, mertuanya ternyata matre, dan keduanya memiliki banyak hutang. Kekhwatiran merajai hatinya, jika membeli mobil baru, bisa-bisa mobil itu di jual oleh suaminya untuk melunasi hutang-hutangnya yang menumpuk.


Selain itu, Siska juga memiliki keinginan untuk membeli mobil yang mewah. Bukan mobil bekas, atau murahan lainnya.


Maka dari itu ia kembali bersemangat melakukan pekerjaan non halalnya. Hanya dengan jalan itu ia bisa dengan mudah mendapatkan uang, dan tidak perlu capek.


Urusan dosa, ia masa bodoh. Tidak terlalu memikirkannya. Toh ia juga tidak percaya dengan akhirat.


"Apa!" ucap Bu Mirna dan Doni bersamaan.


"Ke-kenapa bisa di bawa kabur?" tanya Doni dengan tergeragap.


"Katanya di bawa keluar kota. Dan sekarang justru tidak ada kabarnya. Kata ibu kost, dia sudah tidak mengekost lagi di sana. Dari kemarin-kemarin aku takut mengatakan hal ini."


"Jadi sekarang kamu sudah miskin? Tidak punya apa-apa?" tanya Bu Mirna dengan mata melotot.


"Aku masih kerja di kantor kok bu. Setidaknya aku bukan pengangguran." ucap Siska sambil melirik ke arah suaminya.


Siska memang setiap pagi pamit berangkat kerja dan akan pulang pada sore harinya. Ia memiliki banyak waktu untuk menyenangkan semua pelanggannya.


"Kenapa kamu melirik ku seperti itu Sis?" tanya Doni yang tidak suka Siska meliriknya.

__ADS_1


"Bukan kah kamu yang pengangguran mas?"


__ADS_2