
"Ditutup pagarnya? Memangnya aku sebuah bangunan apa? Aku takut, tidak bisa mencurahkan kasih sayang yang sama pada anak-anak kita dengan lebih maksimal, mas." Mala mengerucutkan bibirnya.
"Jangan memikirkan hal yang belum pasti terjadi, nanti kamu bisa pusing sendiri lho. Aku yakin kamu bisa memberikan kasih sayang yang adil pada anak-anak kita. Allah tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya."
Mala memindai wajah suaminya, ia bisa merasakan jika suaminya sedang menginginkannya. Terbukti di bawah pahanya ada benda tajam yang siap menembus gerbang pertahanannya.
Dan tak lama kemudian, Mahes sudah menyerangnya. Mala tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah. Toh jika punya banyak anak dan kerepotan, bisa meminta jasa baby sitter.
Akhirnya di malam itu, Mala melayani suaminya di ruang kerjanya. Mahes benar-benar puas, setelah sekian lama tidak berperang, akhirnya bisa berperang juga, dan memenangkan pertandingan pada malam hari itu.
Ia membiarkan dokumen yang ada di atas mejanya berantakan. Lalu ia mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya menuju kamarnya.
Beruntung sekali baby mereka masih tidur pulas, sehingga Mahes bisa kembali melakukannya hal tadi dengan Mala.
"Maafkan aku sayang. Sudah membuatmu kelelahan seperti ini." ucap Mahes setelah menyelesaikan pertandingan keduanya di kamarnya. Ia mengusap wajah Mala yang dipenuhi peluh, lalu mengecup keningnya.
"Kamu mau aku mandikan sekarang?"
"Boleh."
Mahes pun berjalan cepat menuju kamar mandi, dan menyiapkan air hangat untuk istrinya. Tak lupa ia juga meneteskan aromaterapi di dalam bathtub, agar istrinya bisa tidur dengan nyenyak. Setelah itu, ia segera kembali ke kamar.
"Tidak usah jalan, biar aku gendong kamu sayang." Mahes mengangkat tubuh istrinya yang tidak berbalut kain sama sekali, lalu menggendongnya menuju kamar mandi.
Cukup lama keduanya mandi berdua. Badan Mala jauh lebih enak, saat mandi menggunakan air hangat. Karena setelah gempuran yang dilakukan oleh suaminya tadi, badannya sempat capek dan kelelahan. Bagaimana hal itu tidak terjadi, jika tenaga suaminya sangat kuat sekali.
**
__ADS_1
"Sayang, kita keluar yuk." ajak Mahes pada Mala, yang sedang memakaikan baju untuk anaknya.
"Lhoh, kamu sudah pulang mas?"
Mala menoleh ke arah suaminya yang tengah menutup pintu kamarnya.
"Yah, seperti yang kamu lihat sekarang."
Mahes merentangkan kedua tangannya, sambil tersenyum. Ia meletakkan tas kerjanya, dan mendekat ke arah bayinya. Lalu mengecup seluruh wajahnya bertubi-tubi. Mala yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Hei jagoan. Apa kamu nakal pada mamamu hari ini?" Mahes menatap wajah bayinya sambil memegang jari-jari imut bayinya.
"Baby Adam tidak pernah nakal. Yang nakal justru papanya." celoteh Mala, sambil memakaikan kaos kaki untuk bayinya.
"Lhoh, papa kan sibuk kerja. Kenapa papa bisa dibilang nakal?" Mahes menatap istrinya, lalu tangannya terulur mencubit gemas pipinya dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Pasti karena kejadian semalam. Mau minta nambah ya." goda Mahes, diiringi senyuman.
"Ah, aku tidak percaya. Nanti malam aku akan tetap membangunkan mu untuk membuatkan adik untuk baby Adam.
"Hem, lama-lama bicara denganmu. Aku bisa tambah stres nih. Buruan mandi dulu gih sana, nanti baru aku. Katanya mau ngajakin keluar."
Sengaja Mala mengusir suaminya. Karena ia selalu menggodanya, dan berbicara tentang anak kedua ketiga dan seterusnya.
"Okay, sayang." Mahes bangkit dari duduknya dan mengecup pipi istrinya.
**
__ADS_1
Mahes dan Mala sudah selesai mandi. Kini keduanya juga tengah bersiap-siap. Setelah selesai, barulah keduanya turun dengan menggunakan lift.
"Sayang, nanti kira-kira kita mau pesan berapa box?" tanya Mahes, sambil menoleh sejenak menatap istrinya.
"Em, kalau lima puluh box dulu gimana, mas?"
"Boleh. Kenapa ngga digenapi seratus box saja sekalian?"
"Iya, mas. Seratus box saja sekalian. Biar lebih banyak yang kita beri."
"Jangan hanya makanan saja. Tapi selipkan uang juga, untuk kebutuhan mereka sehari-hari." jelas Mahes.
"Iya, mas. Itu tambah bagus."
Tak berselang lama, keduanya sudah sampai di jalan depan kedai. Karena pelataran kedainya sudah penuh dengan kendaraan yang diparkiran.
"Semakin ramai saja ku lihat." gumam Mahes.
"Betul, mas. Berarti yang cocok dengan makanan di kedai ini tidak hanya aku saja, tapi juga banyak temannya."
Mahes terkekeh kecil dengan ucapan istrinya, lalu ia turun dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu istrinya.
Keduanya berjalan memasuki kedai. Lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk. Namun untuk yang kedua kalinya, harus menelan kecewa. Karena semua tempat duduk telah terisi.
"Sepertinya kita harus menunggu salah satu dari mereka meninggalkan tempat ini. Agar kita bisa duduk sayang." celoteh Mahes, dan Mala menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, kita pesan dulu saja." ajak Mahes lagi, lalu keduanya berjalan menuju meja kasir.
__ADS_1
"Mbak, saya pesan ayam krispinya dua. Minumannya Thai tea dan moccachino." ucap Mahes pada pelayan yang duduk di depan kasir.
Setelah berkata seperti itu, Mala dan Mahes mencari tempat duduk yang ada di luar. Keduanya lebih memilih duduk lesehan, sembari melihat pemandangan luar. Anaknya juga bisa lebih leluasa bergerak.