Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
159. Calon istri


__ADS_3

"Siska, aku antar kamu pulang ya. Agar kamu bisa istirahat. Nanti siang aku jemput kamu kalau mau masuk kerja."


"Aku berangkat sendiri saja, mas. Tidak enak dengan karyawan lainnya."


"Kenapa kamu serba tidak enakan sih, Sis? Sebentar lagi kita juga akan menikah."


"Iya, mas. Tapi bagaimanapun juga, aku ini tetaplah seorang karyawan mu."


"Iya, kamu karyawan paling spesial." Doni mencubit gemas pipi Siska.


"Kenapa sekarang kamu sudah berani-berani sentuh aku, mas?"


"Seperti yang aku bilang tadi, tidak tahan untuk segera menikahi mu."


Siska hanya tersenyum simpul, tak lagi menanggapi ucapan bos-nya itu.


Doni mengantarkan Siska pulang terlebih dahulu. Lalu pria itu pulang ke rumahnya untuk beristirahat.


Siang harinya, pria itu benar-benar menjemput Siska. Sehingga keduanya sampai di kedai bersama. Dan melangkahkan kakinya bersama ke dalam.


Melihat Siska datang, Rani segera bangkit dari duduknya. Lalu ia mempersilakan Siska duduk di sana.


"Terima kasih ya, Ran. Selama aku libur, kamu mau menggantikan ku menunggu kasir, dari pagi hingga malam."


"Sama-sama, mbak. Oh iya, kakimu sudah sembuh belum, mbak? Kok bisa sih, gelasnya jatuh dan sampai mengenai kakimu?"


"Alhamdulillah, sudah sembuh Ran. Nih, aku sudah bisa jalan seperti biasanya lagi." Siska memperlihatkan kakinya yang sudah tidak berbalut perban.


"Alhamdulillah, aku juga ikut senang mbak kalau begitu. Ya sudah, aku balik ke dapur ya mbak." Siska mengangguk pada Rani, lalu duduk di kursinya.


Mira yang berdiri di ambang pintu dapur dan melihat dari awal Siska turun dari mobil, sampai duduk di kursinya, menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis. Ia semakin membenci gadis yang tengah ditatapnya. Lalu berniat menghampirinya.

__ADS_1


"Mbak, posisi kita disini kan sama, sebagai seorang karyawan. Tapi kenapa kamu berani-beraninya menumpang mobil mas Doni."


Siska mendongakkan kepalanya, dan melihat Mira sedang menatapnya tajam.


"Maaf, Mir. Aku juga tidak berani menumpang, kalau tidak ditawari. Aku juga sadar diri posisi ku cuma karyawan. Kalau kamu mau menumpang, ya bilang saja." balas Siska enteng.


Mira semakin geram dengan ucapan Siska. Tapi ia tidak bisa melawan ucapan gadis dihadapannya. Mira pun hanya bisa menghentakkan kakinya, lalu pergi ke dapur.


"Kalian tadi sedang membicarakan ku?" tanya Doni yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Siska. Sehingga membuat gadis itu terkejut.


"Percaya diri sekali, anda?"


"Jangan bohong, aku melihat kalian berdua tidak berhubungan dengan baik."


"Kami cuma karyawan, tetap harus menjaga solidaritas. Aku tidak ingin mencari masalah dengan teman-teman mas."


"Baguslah kalau begitu. Tapi, jika ada yang mengganggumu, jangan ragu untuk bilang padaku."


Jarum jam berputar dengan cepatnya. Kini kedai sudah tutup, dan mereka mulai bersiap pulang. Siska berjalan sedikit lambat, sambil menunggu Doni yang sedang menutup pintu rolling door.


Tapi ternyata Mira juga sengaja menunggu Doni, dengan berdiri didekatnya. Melihat hal itu, Siska merasa cemburu dan akhirnya berjalan lebih cepat menuju pintu keluar.


"Mas, aku boleh menumpang mobilmu? Karena ini sudah malam, tidak baik wanita pulang sendiri tengah malam." ucap Mira pada Doni.


Pria itu mengernyitkan dahi sambil menatap gadis yang ada dihadapannya. Lalu beralih pada Siska, yang berdiri di dekat pagar.


"Maaf Mir, aku harus mengantarkan calon istriku pulang. Kalau kamu mau, aku bisa pesankan ojek online."


"Ca-calon istri?" ucap Mira sedikit terkejut.


"Iya, Siska itu calon istriku. Memang dia tidak bilang sama kamu dan teman-temannya yang lainnya ya?"

__ADS_1


Mira menggeleng lemah. Doni pun mengulas senyum tipis.


"Dia memang merendah, tidak ingin menyebarkan berita apapun tentang hubungan kami, sebelum janur kuning melengkung.


Oh iya, tolong kamu jangan ganggu dia. Karena aku tahu apa yang kamu lakukan padanya dibelakang ku.


Seperti kejadian tadi sore, atau soal kaki Siska yang sakit itu. Kalau kamu masih nekat, aku tidak bisa mempertahankan kamu lebih lama di kedai ini.


Kalau begitu, aku permisi dulu ya. Tidak enak kita bicara berdua seperti ini. Takut calon istriku marah." Doni berlalu pergi meninggalkan Mira yang masih mematung, karena rasa terkejutnya.


"Maaf ya, menunggu lama." ucap Doni yang sudah berdiri di dekat Siska.


"Hem, tidak apa-apa."


"Ya sudah, ayo masuk ke mobil."


"Aku sudah pesan ojek online."


"Kenapa harus pesan ojek online segala? Bukankah aku sudah bilang, kalau akan mengantarkan mu pulang?"


"Maaf, mas. Aku pikir kamu akan mengantarkan Mira pulang."


"Yang jadi calon istriku kan kamu, bukan Mira. Sudah ayo masuk mobil."


"Tapi, kalau tukang ojeknya nanti datang, bagaimana?"


"Biar di pakai Mira." Doni menarik tangan Siska dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Mir, sebentar lagi ojeknya aka datang. Kamu tunggu saja." seru Doni sebelum mengitari mobil dan masuk.


Mira menghentakkan kakinya kesal, karena merasa di dahului oleh Siska, dalam mendapatkan hati bos mereka.

__ADS_1


__ADS_2