Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
79. Kembali bertemu


__ADS_3

Siska keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Pikirannya terasa sangat kacau. Sesampainya di parkiran. Ia menghempaskan tubuhnya di kemudi mobil bagian depan. Menutup pintunya, lalu menangis sejadi-jadinya.


Ia merutuki nasib yang terkesan tidak adil padanya. Memiliki orang tua yang tidak sayang kepada dirinya. Tidak pernah menganggap dirinya ada.


Karena Siska adalah anak yang lahir dari rahim seorang wanita, yang tidak memiliki suami. Karena wanita itu hanyalah seorang kupu-kupu malam. Jadi selama ini ia tidak tahu siapakah ayahnya.


Wanita yang bergelar ibu itu tidak pernah merawat Siska dengan baik. Sehingga akhirnya, Siska kecil yang biasanya melihat pekerjaan ibunya, akhirnya juga melakukan hal yang sama. Demi mendapat uang, mereka rela menjual kehormatan dirinya sendiri.


Dulu ia tidak percaya dengan penyakit seperti itu, karena ibunya dulu meninggal jatuh saat di kamar mandi.


Setelah itu Siska melanglang buana memasuki dunia malam bermodalkan nekad. Tapi rupanya Tuhan berkata lain. Lewat penyakit itu, sepertinya Tuhan menyuruhnya untuk berhenti dari pekerjaan kotor tersebut.


Di tengah-tengah rasa gundah gulana, tak ada tempat bagi Siska untuk mencurahkan perasaannya itu. Ia hanya bisa pasrah menjalani nasib yang sudah digariskan untuknya.


Setelah menghirup nafas dalam-dalam, ia mencoba tersenyum samar, sebelum melajukan mobil mewah miliknya.


Sepanjang perjalanan, ia benar-benar sulit untuk fokus. Sehingga beberapa kali kendaraan yang berada disekitarnya membunyikan klakson.


**


Di tengah rasa sakit yang melanda, Doni terpaksa harus mencari pekerjaan. Karena ia juga butuh uang untuk membeli obat, makanan, bayar listrik dan kebutuhan lainnya.


Setelah usahanya wira-wiri kesana kemari, akhirnya ia diterima bekerja di sebuah toko sembako. Sudah satu Minggu ia bekerja. Berangkat pukul setengah delapan, dan sampai rumah jam setengah 5.


Ia tidak lagi mengharapkan untuk bisa diterima bekerja di perusahaan. Sadar diri dengan kemampuan yang ia miliki.

__ADS_1


Sore itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia menerima upah dari majikannya. Gaji tiga ratus lima puluh ribu berhasil ia dapatkan. Ia bersyukur dan sangat senang.


Setidaknya dengan uang itu, bisa untuk mencukupi kebutuhannya dengan ibunya. Bergegas ia pulang.


**


Seminggu sudah Siska mengurung diri di apartemen nya. Karena tidak bisa kemana-mana dan rasa terpuruk yang melanda dirinya. Setiap membutuhkan makanan, ia membeli lewat aplikasi.


Pagi itu, ia terbangun. Merasakan tubuhnya cukup enak, tidak sesakit seperti kemarin. Ia duduk di tepi jendela yang menghadap pemandangan ibu kota. Tampak indah.


"Aku tidak bisa tinggal ditempat ini terus menerus. Aku harus bertemu mas Doni. Agar ada yang merawat ku ketika sakit."


Akhirnya, pagi itu Siska merapikan seluruh barang-barang miliknya, dan mengemas dalam tas besar.


**


Menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil mewah milik Siska berhenti di sebuah rumah kontrakan yang cukup kecil. Dengan ragu, ia menjejakkan kakinya di pelataran rumah yang tidak seberapa luasnya.


Hanya tiga kali ketukan, pintu rumah itu terdengar sedang dibuka.


"Siska!" mata Bu Mirna membulat sempurna.


"Pergi dari sini! Untuk apa kamu kesini! Belum puas, sudah membuat kami menderita karena ulah mu? Sejak menikah dengan mu, kami selalu ditimpa musibah." Bu Mirna terus menghardik Siska habis-habisan. Bahkan ia sampai mendorong tubuh wanita yang tidak lagi cantik dan mempesona itu.


"Maafkan aku, Bu." ucap Siska sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Tidak ada maaf bagimu. Aku benar-benar kecewa sudah mendukung anakku menikahi mu. Jika saja kami tahu dari awal tentang keburukan mu, tentu saja kami tidak akan pernah mau menerima kehadiran mu."


Kedua wanita itu terus saja mengeluarkan segala uneg-uneg yang terpendam dalam hatinya selama ini. Sampai akhirnya sebuah suara menghentikan aktivitas keduanya.


"Stop!" teriak laki-laki itu lantang.


Keduanya menoleh bersamaan.


"Mas Doni."


"Siska."


Keduanya sama-sama membulatkan matanya. Lalu Siska menghambur ke pelukan suaminya. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Doni dengan erat, seolah tidak ingin lepas.


"Lepaskan!" tegas Doni, sambil meronta karena tak sudi badannya di peluk oleh wanita seperti Siska.


Tapi wanita itu tidak mempedulikannya. Ia senang akhirnya bisa bertemu dengan suaminya itu.


"Aku bilang, lepaskan! Apa kamu tidak mendengar?" ulang Doni dengan nada yang sangat tinggi. Sehingga tetangga sekitar mendengar kerusuhan itu. Dan mereka pun mulai mengamati apa yang terjadi.


"Kenapa, mas? Bukan kah kamu mencintai ku?"


Doni terkekeh mendengar ucapan Siska yang di anggap terlalu percaya diri.


"Aku sudah tidak cinta padamu lagi, setelah kamu jalan bersama pria lain, dan bahkan sampai tega menjual rumah milik kami."

__ADS_1


__ADS_2