Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
164. Terkejut


__ADS_3

Setelah kembali melakukan olahraga di dalam kamar, Doni mandi terlebih dahulu, agar tidak ketinggalan sholat subuh nya.


Sedangkan Siska masih rebahan di atas tempat tidur. Ia memang kelelahan menghadapi suaminya melewati malam pertamanya.


Untung saja ia meminum ramuan untuk menjaga stamina yang diberikan oleh Bu Mirna. Sehingga ia kuat menghadapi serangan suaminya tadi malam.


Setelah selesai mandi, Doni kembali ke kamar dan melihat istrinya tampak tertidur pulas. Ia tersenyum ketika menutup tubuh polos istrinya dengan selimut.


"Aku sayang kamu." bisiknya lembut di telinga Mala. Setelah itu ia menggelar sajadah untuk sholat subuh.


Selesai mengerjakan sholat, Doni keluar kamar. Ia mencari keberadaan Bu mirna.


"Bu, tidak perlu masak. Doni sudah pesan makanan. Sebentar lagi juga akan datang kok. Ibu istirahat dulu saja." ucap Doni, ketika melihat Bu Mirna ada di dapur hendak merebus air.


"Seharusnya tidak perlu repot-repot, nak. Ibu kan bisa masak."


"Tidak repot, Bu. Doni hanya tak ingin ibu kecapekan saja."


Tak lama kemudian, terdengar suara klakson sepeda motor. Doni berjalan keluar, untuk melihat siapa yang datang. Dan benar dugaannya, jika yang datang adalah driver pengantar makanannya.


Bergegas pria itu mendekat dan membayar total makanannya. Lalu kembali masuk rumah, dan membawanya ke dapur.


"Bu, ini makanannya sudah datang." Bu Mirna yang sedang membuat teh hangat menoleh ke belakang. Ia melihat di meja ada banyak sekali makanan.


"Ya Allah, banyak sekali nak kamu belinya."


"Tidak apa-apa, bu." Doni berjalan menuju rak piring dan berniat mengambil piring untuk meletakkan makanan-makanan itu.


"Eh, biar ibu saja yang menyiapkannya. Kamu panggil Siska saja, nak."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Doni bersemangat jika sudah berurusan dengan Siska. Pria itu dengan langkah lebar, berjalan menuju kamarnya, lalu membangunkan istrinya.


Siska menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya dengan lebar. Tampak jelas tanda ungu kemerahan menghiasi dada Siska.


Hal itu membuat Doni menyunggingkan senyum, karena menyadari betapa buasnya ia semalam.


"Sayang, ayo bangun." Doni menggoyangkan tangan Siska, agar wanita itu cepat bangun.


Karena tidak kunjung bangun, akhirnya melintas sebuah ide jahil dikepalanya. Doni meniup, telinga Siska, hingga sukses membuat wanita itu tergeragap bangun.


"Mas Doni!" pekik Siska, lalu memukul suaminya dengan bantal. Tapi Doni pandai menarik bantal itu, sehingga ia tidak terkena pukulan Siska.


"Wek... Salah sendiri, aku bangunin, ngga bangun-bangun." Doni menjulurkan lidahnya lagi.


"Ish, kamu kelewatan banget sih mas."


"Sudah, jangan menyerang ku. Nanti aku bisa menyerang mu balik lho. Tuh lihat, kamu saja belum pakai baju." Doni menunjuk badan Siska yang tidak tertutup apapun, karena selimutnya turun.


Doni memungut baju Siska yang ia jatuhkan tadi, saat keduanya berperang, lalu memberikan padanya.


"Terima kasih." ucap Siska sambil menerima bajunya dan memakainya. Setelahnya, keduanya keluar kamar menuju dapur.


Tampak disana Bu Mirna sudah menunggu kedatangan keduanya. Doni menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana. Sedangkan Siska berlalu menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, Siska ikut bergabung dengan suami dan ibu mertuanya, yang sudah menghadap meja, dan penuh dengan makanan.


Mereka bertiga mulai menikmati sarapan paginya.


**


"Bu, kami pamit ya, mau pulang ke rumah saya." ucap Doni, sambil bersalaman dengan Bu Mirna.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya. Besok in shaa Allah ibu akan kesana dengan tetangga sini."


"Iya, bu. Ditunggu kehadirannya."


Setelah Doni selesai berpamitan, giliran Siska yang berpamitan dengan Bu Mirna.


"Jaga diri baik-baik ya, bu. Besok harus ikut ke rumah mas Doni."


"Iya, ibu janji akan ikut."


Siska dan Doni sudah masuk mobil. Keduanya melambaikan tangannya pada Bu Mirna yang berdiri diambang pintu.


Acara pernikahan di kediaman Doni, memang akan diadakan besok malam. Jadi pria itu mengajak Siska pulang ke rumahnya. Karena rumahnya tidak ada yang menghuni selain dirinya.


Sesampainya di rumah Doni, Siska begitu terkejut. Karena melihat rumah Doni yang cukup luas, bahkan rumah itu terdiri dari dua lantai.


Sebuah tenda juga sudah dipasang, di depan rumah itu. Sehingga terkesan lebih sejuk hawa dan cuacanya.


"Kenapa bengong?"


"A-aku hanya terkejut saja, mas. Ternyata suamiku orang kaya." ucap Siska gelagapan.


"Memangnya kalau orang kaya kenapa?" Doni menyunggingkan senyum.


"Dulu aku pernah bermimpi dan bercita-cita, ingin mempunyai suami orang kaya, agar tidak perlu repot-repot bekerja, dan bisa makan kenyang.


Tapi, semakin aku menggapai mimpi itu, rasanya semakin sulit. Hingga aku mengorbankan apapun yang ada pada diriku, dan menjadi manusia paling hina di muka bumi ini.


Untung saja Allah menegurku dengan sebuah penyakit, dan aku bisa segera sadar. Lalu aku pun bertaubat dan berserah diri. Yang akhirnya semua itu mengantarkan ku pada suami sebaik kamu, mas."


"Alhamdulillah, semua pasti ada hikmahnya. Tergantung kita yang menilainya. Sekarang ayo kita masuk." Siska menganggukkan kepalanya, lalu keduanya masuk ke rumah Doni.

__ADS_1


__ADS_2