
"Bagaimana ini, Don? Ibu tidak mau jika sampai meninggal duluan. Apa kata warga nanti. Pasti mereka akan puas melihat ibu meninggal. Harusnya hidup kita happy ending. Kayak di sinetron sinetron itu."
Gertakan pak Darma sukses membuat Bu Mirna ketakutan. Kini ia menggoyangkan lengan anaknya, dan terus berkata tidak jelas.
Doni juga tengah berpikir. Apakah yang bisa lakukan untuk mempertahankan rumahnya. Tapi sekeras apapun ia berpikir, tetap saja tidak menemukan jawabannya.
Karena uang sisa hasil penjualan perhiasan Siska hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk jaga membayar biaya perbaikan mobil yang dulu pernah ditabraknya.
Untuk menjadi pencuri, ia belum memiliki keahlian yang mumpuni. Untuk meminta bantuan pada paranormal, ia belum pernah mencobanya.
Gertakan pak Darma yang diiringi suara gedoran pintu yang keras membuat keduanya semakin takut. Bahkan badan keduanya sudah gemetaran.
"Ya sudah, Bu. Mungkin sudah saatnya kita pindah dari sini." ucap Doni pasrah.
"Tapi Don..."
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, Bu. Andai saja kita bersikap tulus menerima Mala apa adanya, mungkin nasib kita tidak akan seperti ini."
"Doni, kamu jadi laki kenapa lembek seperti itu sih?"
"Doni bukan lembek, Bu. Hanya mencoba berpikir, bahwa semua ini mungkin karma yang harus kita jalani, karena telah menyia-nyiakan Mala. Kita harus minta maaf padanya dengan tulus. Sekarang ayo kita keluar."
Dengan bersungut-sungut kesal, akhirnya pasangan ibu dan anak itu keluar dari tempat persembunyian.
"Nah, benar kan tebakan saya. Kalian berdua itu pasti ada di dalam." ucap pak Darma sumringah.
"Maaf pak, tadi kami masih tidur. Tidak mendengar apa yang bapak ucapkan." ucap Doni sengaja berbohong.
"Halah, alasan saja kamu. Sekarang kalian pergi dari sini." ucap istri pak Darma.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Bu. Kami berkemas dulu."
"Don, bagaimana dengan seluruh perlengkapan rumah? Kan lumayan banyak." ucap Bu Mirna yang tak mungkin membawa semuanya pergi.
"Saya lihat dulu. Jika masih bagus-bagus untuk anak saya saja. Nanti akan kami tambah uangnya." seloroh istri pak Darma.
"Terima kasih, Bu." balas Doni. Dan ia segera masuk ke rumah, mengemasi pakaian serta barang yang bisa di bawa.
Dengan berlinangan air mata Bu Mirna menyusun baju-bajunya dalam tas besar. Ia tak menyangka jika akhirnya benar-benar harus kehilangan rumahnya.
Di kamar sebelah Doni juga tengah bersiap-siap menyusun bajunya, serta barang yang bisa di bawa. Setelahnya ia menyusul ibunya yang masih di kamar.
Terlihat ibunya duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang menerawang. Doni melangkah pelan, dan duduk disampingnya. Ia merangkul bahu ibunya dan menyandarkan di bahunya.
"Bu, mungkin ini sudah suratan takdir yang harus kita jalani. Agar kita tidak melulu mengejar harta. Mungkin benar harta itu tidak di bawa mati. Makanya kita tidak boleh terlalu mengoyaknya." ucap Doni berusaha legowo.
Tidak ada kata yang keluar, selain anggukan kepala Bu Mirna. Lalu keduanya menenteng tas dan berjalan keluar.
"Barang-barangnya masih lumayan bagus. Anak saya juga setuju untuk memakainya. Ini saya bayar barang-barangnya sepuluh juta." ucap pak Darma, sambil menyerahkan lembaran uang merah pada Doni.
"Terima kasih, pak." ucap Doni sambil menitikkan air mata.
"Hem, jadi kan ini sebagai pembelajaran. Semoga kedepannya kamu bisa lebih baik dari ini." ucap pak Darma, sambil menepuk bahu Doni, untuk memberinya semangat. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
Ia juga bersyukur pak Darma mau membeli perabotan di rumahnya dengan harga yang cukup tinggi. Setelah tak ada lagi yang di bahas, Doni dan ibunya masuk ke mobilnya.
Dan kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan tempat dimana menyimpan banyak kenangan di dalamnya.
Mereka tidak sempat untuk meminta maaf pada tetangga sekitarnya, karena rasa malu dan canggung menguasai hati keduanya.
__ADS_1
Keluarga pak Darma juga menatap kepergian keduanya dengan perasaan yang bersalah dan kasian.
Karena telah membeli rumah bukan dari pemiliknya langsung. Melainkan hanya anak mantu. Dan ia memang tidak mengetahui hal itu di awal.
Tapi hal itu juga bisa dijadikan bahan pembelajaran, agar kedepannya kita tetap harus hati-hati dan waspada. Meskipun itu adalah orang terdekat kita sekalipun.
**
"Kita mau kemana, Don?" tanya Bu Mirna.
"Cari kontrakan bu. Yang sesuai dengan budget kita. Ibu harus nurut apa kata Doni. Agar tidak kena apes lagi." Bu Mirna hanya bisa diam pasrah.
Setelah berkeliling sampai sore, akhirnya keduanya berhasil mendapatkan rumah kontrakan. Sangat sederhana dan murah. Sesuai dengan apa yang Doni inginkan.
Mereka segera membawa barang-barang masuk ke rumah itu. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa, untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Di tengah menikmati hembusan semilir angin dari kipas angin, terdengar suara handphone Doni yang berdering.
Ia melihat dari nomor yang tak di kenal. Dengan ragu, ia menjawab panggilan itu.
"Hallo, ini siapa ya?"
"Hallo pak. Betul ini nomor telepon pak Doni?"
"Iya pak. Benar."
"Ini saya Irawan dari bengkel Suka Gue Dong. Mau mengabarkan jika mobil Toyota Corolla, nomor plat AD 123 XB atas nama bapak Efendi sudah selesai kami perbaiki. Dan menurut beliau total biaya sejumlah sepuluh juta anda yang menanggungnya."
Lemas lagi tulang persendian Doni mendengar nominal sebanyak itu.
__ADS_1