
Mala benar-benar menepati janjinya untuk membahagiakan asisten rumah tangganya. Ia membelikan baju, tas, dan sandal untuk mereka.
Ia juga mengajak mereka makan bersama di food court yang terletak di lantai satu gedung itu.
Siska tak sengaja melihat rombongan Mala, saat mereka tengah makan bersama. Matanya berbinar ketika melihat Mahes.
Laki-laki itu benar-benar telah mencuri hatinya. Ia yakin, jika laki-laki itu kaya. Hatinya tertantang untuk mendekatinya.
Dengan penuh percaya diri, ia melenggang melewati mereka yang tengah bercengkrama. Lalu pura-pura keseleo, dan jatuh ke samping Mahes.
Beruntung sekali laki-laki itu segera bangkit dan menghindar. Agar tidak bersentuhan dengan Siska.
Entah kenapa ia merasa begitu ilfill dengannya. Apalagi melihat pakaiannya yang serba terbuka.
Arghhh...
Siska berteriak dan mengaduh kesakitan. Ia masih terduduk dan mengusap sikunya yang kesakitan.
"Tolongin dong mas." pinta Siska pada Mahes dengan nada yang dibuat semanja mungkin. Membuat Mahes bergidik ngeri.
"Kamu lihat aku kok seperti lihat hantu saja sih mas. Ayo tolongin aku." pinta Siska sekali lagi.
"Kamu bisa bangkit sendiri kan, kenapa minta tolong aku? Lagian aku tahu jika kamu itu memang sengaja jatuh."
"Kamu tega sekali menuduhku seperti itu. Awas saja, kalau kamu sampai mengejar dan mencintaiku." ucap Siska sambil bangkit berdiri.
"Tidak sudi aku mendekatimu. Aku sudah punya tambatan hati."
Merasa tak ditanggapi, Siska menghentakkan kakinya, dan berlalu pergi. Setelah kepergiaannya, Mala dan para asisten rumah tangganya terkekeh bersamaan.
"Kenapa kalian justru tertawa?" Mahes mengernyitkan dahi.
"Sepertinya dia suka sama kamu." ucap Mala.
"Tapi yang aku sukai itu kamu." cetus Mahes, yang membuat ketiga asisten rumah tangga batuk bersamaan. Sedangkan Mala tersipu malu.
__ADS_1
"Bibi juga setuju kalau non Mala dan mas Mahes jadi sepasang suami-istri."
"Bibi. Mala saja belum bercerai dengan mas Doni kok."
"Iya nanti kalau sudah bercerai. Non Mala dan mas Mahes jadian begitu."
"Sepertinya saya harus berjuang lebih keras lagi bi." ucap Mahes menambahi.
**
Sementara itu, Bu Mirna menghentakkan kakinya dengan keras, dan melempar tas dan sandalnya ke segala arah, ketika sudah sampai rumah.
Ia jengkel, karena niatnya untuk membeli baju baru tidak keturutan. Dan justru harus beradu mulut dengan menantu cacatnya dan anaknya.
Doni segera masuk ke kamarnya, dan tidak menggubris apa yang dilakukan ibunya. Kepalanya sudah cukup pusing dengan masalahnya sendiri.
Dua jam berselang, Siska baru pulang, dan menenteng beberapa paper bag.
"Istri tak tahu diri. Suami dan mertuanya sudah pulang terlebih dulu, kamu malah masih enak-enakan di mall." sindir Bu Mirna yang tengah menonton televisi, dan melihat Siska melenggang masuk rumah.
"Huh, ku kira dia menantu yang baik. Ternyata justru membuatku semakin pusing tujuh keliling. Tahu gitu mending menantu ku si cacat itu saja lah. Tidak banyak tingkah, dan aku bisa menikmati kekayaannya." gumam Bu Mirna menyesal.
"Apa ibu bilang? Di mall tadi memujiku. Tapi saat di rumah, justru memuji wanita itu. Dasar wanita tua tidak punya prinsip. Plin-plan. Munafik." ucap Siska yang ternyata mendengar dari kamarnya.
Setelah berkata seperti itu, ia kembali masuk kamar, dan membanting pintunya dengan keras. Sehingga membuat Doni yang baru saja terlelap tidur, kaget.
"Siska. Apa kamu mau pintu kamar kita rusak?"
"Biarin saja mas. Biar kalau kita sedang nununana ibumu melihatnya, dan jadi kepengen." balas Siska asal, sambil membuka paper bag nya.
"Kamu belanja sebanyak itu?" Siska mengangguk.
"Boros sekali. Lebih baik uangnya di kumpulkan untuk membeli mobil atau dikasihkan ke ibu, untuk kebutuhan kita sehari-hari."
"Itu urusan mu mas. Sekarang aku kan menjadi tanggungjawab mu."
__ADS_1
"Terserah apa katamu. Kamu belikan sesuatu untukku tidak?"
"Enak saja minta dibelikan. Salah sendiri, kenapa ninggalin aku sendirian di mall. Malas lah kalau harus membelikan barang untukmu."
"Kamu benar-benar kelewatan."
**
Hari esok akhirnya datang. Seperti biasa Siska bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sedangkan Doni masih gegoleran santai di tempat tidur.
"Kamu tidak berangkat ke persidangan mas?"
"Malas ah."
"Ya sudah, kamu cari kerja sana. Aku ngga mau kamu dan ibu merepotkan aku. Karena dirumah ini, cuma aku saja yang bekerja."
"Iya-iya, bawel."
"Apa katamu?" ulang Siska. Tapi Doni diam tak menyahut. Ia membuka almari untuk mengambil baju, tapi kosong.
"Kemana baju-baju ku Sis?" Doni mengernyitkan dahi.
"Ya mana aku tahu. Tanya saja sama ibu."
Doni membuang nafas kasar, lalu berjalan keluar kamar, dan mencari keberadaan ibunya.
"Bu, kenapa di almari, tidak ada sepotong baju pun milikku?"
"Kamu nanyak?" ucap ibunya sambil menggoreng tempe.
"Ibu. Aku serius."
"Kamu bertanya-tanya?" ucap ibunya lagi.
"Bu." Doni semakin jengkel. Tidak istrinya, tidak ibunya, sama-sama membuatnya jengkel.
__ADS_1
"Tuh, di ember cucian." Bu Mirna menunjuk ember yang dipenuhi tumpukan baju. Dan Doni membulatkan mata melihat hal itu, sambil memeluk jidatnya.