Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
95. Mencari kerja


__ADS_3

Malam itu Siska duduk di dekat jendela. Menatap pemandangan malam yang tampak indah. Langit malam yang pekat, di hiasi oleh gemerlap bintang dan bulan.


Hampir tiga jam dia melakukan hal itu. Mencoba menelaah kembali setiap kejadian, yang telah ia lewati di masa silam. Yang baik, atau yang buruk. Tapi ia rasa lebih banyak yang buruknya.


Melamun dan merenung, memang menjadi kebiasaannya selama ia sakit. Dan kini, ia tengah memikirkan tentang jalan kedepannya nanti untuk merubah hidupnya.


Setelahnya, ia menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan-pelan. Ia mensugesti dirinya sendiri, bahwa ia pasti bisa berubah.


"Aku harus yakin bisa mendapatkan pekerjaan yang halal. Tidak boleh terjerumus pada dunia malam lagi. Seperti apa yang dibilang oleh dokter, beberapa hari yang lalu.


Aku hanya butuh uang untuk menghidupi diri ku sendiri. Tidak memiliki setoran bank dan tidak memiliki hutang dimana pun juga.


Seberapa pun hasil pekerjaannya, tentunya cukup untuk ku gunakan makan. Rasanya, tidak perlu lagi aku membeli baju dan barang-barang yang mewah. Semua itu justru akan memberatkan ku nantinya." gumamnya yakin.


Ia beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju ke almari pakaian. Ia mencari pakaian yang pantas untuk digunakan melamar kerja besok.


Tapi ia tidak menemukan kemeja putih. Dimana biasanya kebanyakan orang akan memakai setelan hitam dan putih saat melamar kerja.


"Tidak ada. Ya sudah, sebaiknya besok aku pakai seadanya saja." ucapnya pasrah. Lalu membersihkan diri sebelum tidur.


**


Pagi harinya Siska sudah bangun. Ia merebus air yang di tambahi dengan kayu secang. Yang akan digunakan untuk mandi.

__ADS_1


Semenjak sakit, ia memang rutin melakukan hal itu. Karena air rebusan kayu secang, sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya menjadikan sebagai tambahan untuk mandi, Siska juga meminum air rebusan kayu secang.


Ia berendam di ember cukup lama, sambil memijat pelan bagian tubuhnya. Agar badannya semakin terasa nyaman.


Setelah itu, barulah ia sarapan pagi. Segelas susu dan sebuah pisang, menjadi tenaganya seharian ini untuk mencari kerja. Ia memang tidak pernah masak, selalu membeli makanan siap saji. Karena hanya tinggal seorang diri.


Selesai sarapan, ia merapikan kembali pakaiannya sambil bercermin. Ia memakai rok panjang warna cream dan baju lengan panjang warna marun. Lalu menggantungkan tasnya di bahu kirinya.


Sebelum berangkat, tak lupa ia membawa air putih dalam botol. Untuk berjaga-jaga jika ditengah perjalanan ia kehausan. Ia memang mencari kerja dengan berjalan kaki. Untuk lebih menghemat uang.


"Semoga hari aku bisa mendapatkan pekerjaan." gumamnya setelah mengunci pintu kamar.


"Hem, aku mau belok ke kanan dulu atau kiri dulu ya?" gumam Siska ketika berdiri di depan pintu keluar rumah kost nya. Sejenak ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu menghembuskan nafasnya.


**


Ia memperhatikan sisi kanan dan kiri sepanjang jalan yang ia lalui. Sambil membaca setiap kalimat yang tertera. Berharap ia menemukan iklan lowongan kerja.


Tapi sepertinya nasib baik belum berpihak kepadanya. Karena sejauh kaki melangkah, tidak ada kalimat iklan lowongan kerja.


Hari sudah beranjak siang. Terik matahari terasa membakar tubuh. Siska mengusap peluh yang membanjiri wajah dan lehernya. Lalu menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari tempat berteduh yang cocok.


Ia meneguk air putih yang ia bawa tadi, sampai habis. Tiba-tiba, perutnya juga ikut berbunyi nyaring. Padahal ia tidak membawa makanan.

__ADS_1


Ia menajamkan pandangannya lagi, ke kiri dan kanan. Siapa tahu ada warung. Tapi rupanya tidak ada warung yang buka.


Ia menghela nafas, dan lebih memilih mengabaikan bunyi perutnya. Semilir angin sudah cukup menghilangkan rasa lelah yang mendera tubuhnya. Ia pun bangkit berdiri untuk melanjutkan perjalanannya.


**


Matahari sudah condong ke barat. Sebentar lagi, akan balik ke peraduan. Tapi Siska belum juga mendapatkan pekerjaan. Rasa putus asa sudah menderanya.


"Kenapa sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan?" lirihnya.


Sebentar lagi, Siska akan sampai di kost-kostan nya. Tak lupa ia mampir ke warung, untuk membeli nasi bungkus. Setelah itu, ia membawanya pulang. Berniat makan di rumah.


Siska langsung menjatuhkan tubuhnya, di atas kursi yang ada di depan kamarnya. Sambil menghembuskan nafas kasar.


"Kamu, dari mana Sis? Kok mukanya seperti itu? Jalan kaki pula?" tanya wanita, yang kamarnya berdampingan dengan kamar Siska.


"Aku baru cari kerja, mbak Ima. Tapi sejauh kaki melangkah, tidak ada iklan lowongan kerja."


"Sabar ya. Semoga nanti dapat kerjaan yang bagus."


"Apa di kantor, mbak tidak ada lowongan? Jadi OB saya juga mau, kok." Tapi sayang, wanita yang di panggil, mbak Ima menggelengkan kepalanya. Kembali Siska membuang nafas kasar.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2