Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
67. Gagal diterima


__ADS_3

"Pertanyaan selanjutnya." ucap kepala HRD, lalu menjeda kalimatnya.


"Kira-kira jika kamu diterima bekerja disini, jabatan apakah yang kamu inginkan?"


"Saya ingin menjadi manager, pak."


"Manager? Apakah kamu punya skill, sehingga bisa seyakin itu?"


"Tentu saja pak."


"Disini kamu tidak menyertakan surat pengalaman. Padahal umur mu sudah dua puluh lima tahun. Lalu apa saja yang kamu kerjakan setelah lulus sekolah. Karena kemampuan seseorang itu perlu di latih. Apakah kemampuan mu di latih secara autodidak?"


"Sebenarnya saya sudah bekerja di suatu perusahaan. Tapi saya tidak meminta surat pengalaman ketika keluar. Karena ingin membuktikan, bisa diterima bekerja di perusahaan ini tanpa surat pengalaman." balas Doni mantap, sekalipun ada kebohongan yang terselip.


"Oh ya, kamu yakin dengan kemampuan mu?" ulang Bu Ningrum. Sekali lagi Doni mengangguk.


"Kerjakan laporan ini." titah Bu Ningrum, setelah sekian waktu mengotak-atik laptopnya. Lalu menyodorkan pada Doni.


Laki-laki itu menatap layar laptop sejenak, lalu mencoba mengerjakan laporan itu berdasarkan apa yang ia pahami selama ini.


"Ini, Bu." ucapnya setelah sekian waktu mengerjakan. Ia tersenyum puas, yakin laporannya benar.


Ketiga pimpinan itu meneliti hasil kerja Doni. Lalu wajahnya mengerut, pertanda kurang puas dengan hasilnya. Bu Ningrum menyodorkan laptopnya ke arah Doni lagi.


"Seharusnya bukan begini cara mengerjakannya. Rumus yang sama tidak berlaku untuk mengerjakan laporan neraca ini. Kalau begini caranya, bukannya untung, malah buntung. Perusahaan rugi besar. Karena terdapat perbedaan angka yang tak masuk akal." jelas Bu Ningrum.

__ADS_1


Senyum yang tadi mengembang di wajah Doni, kini menyurut. Karena ada yang mengkritik hasil kerjanya.


"Maafkan saya bu, kurang teliti."


"Jika begini caranya, seandainya kamu kami terima bekerja disini, apakah mau kami tempatkan di bagian cleaning servis?"


"Cleaning servis!" Doni menatap tajam pada kepala HRD.


"Yang benar saja, pak. Saya sudah berpengalaman, kenapa ditempatkan di bagian itu." Doni seketika tersulut emosinya. Sedangkan Mala menahan tawa ketika melihat reaksi mantan suaminya seperti itu.


Ia sudah bisa menduga bahwa mantannya itu tidak mau mengerjakan pekerjaan seperti itu. Padahal semua pekerjaan sama saja. Yang penting kita mengerjakan dengan tulus ikhlas, dan hasilnya halal.


"Semua pekerjaan itu sama saja. Yang penting kita mengerjakan dengan ikhlas, dan hasilnya halal. Itu jauh lebih berkah." jelas Bu Ningrum, yang sama dengan isi hati Mala. Tapi tidak sesuai dengan isi hati Doni. Ia benar-benar merasa dipermainkan.


"Lalu apa pendapat mu jika seorang muslimah bekerja di kantor."


"Apakah kamu bisa mempercayai mu?"


"Tentu saja bisa, pak. Saya orang yang jujur kok."


Tiba-tiba Mala mengeluarkan handphone dan menyalakan rekaman yang ia peroleh tadi, saat Doni bercakap-cakap dengan teman seperjuangannya. Dengan volume yang keras.


Dimana saat itu Doni menghina muslimah. Dengan mengatakan tidak layak kerja di kantor. Padahal semua orang memiliki kesempatan yang sama.


"Kamu dengar itu suara siapa?" tanya Bu Ningrum ketika rekaman itu selesai di putar.

__ADS_1


"Sa-saya tidak tahu, Bu."


"Sungguh?"


Doni mengangguk sambil tertunduk. Ketiga pimpinan itu saling beradu pandang, lalu kini giliran Mala yang berkata.


"Saya mendapatkan rekaman ini saat para peserta duduk di lobby sembari menunggu waktu tes. Jika kamu tidak tahu itu suara siapa, saya bisa kasih tahu. Tapi jaminan untuk kamu diterima di perusahaan ini sangat tipis.


Karena perusahaan ini hanya memperkerjakan orang-orang yang jujur. Orang-orang yang mau bekerja secara ikhlas untuk memajukan perusahaan ini. Karena perusahaan ini adalah sawah ladang kita semua."


"Baiklah, Bu. Saya mengaku, itu adalah suara saya." potong Doni cepat.


Ketiga pimpinan itu menyunggingkan senyum tipis.


"Kenapa kamu baru jujur sekarang? Kenapa kamu tidak memiliki attitude yang baik? Padahal sebagai pekerja kantoran, yang notabenenya banyak di puji dan dielu-elukan oleh banyak orang, harusnya kamu bisa menjaga itu semua. Agar tidak merusak orang yang bekerja di kantoran."


"Pak Andreas, beritahu dia berapakah skor nilai nya. Dan apakah layak diterima bekerja disini." imbuh Mala.


"Tes tertulis saudara Doni mendapatkan nilai tujuh. Tes buta warna mendapatkan nilai delapan. Tes wawancara... saya beri nilai D. Karena sempat berkata dusta, ujaran kebencian dan memiliki attitude yang jauh dari kata sopan. Jadi dengan segala hormat, saya memutuskan sementara waktu belum bisa menerima saudara Doni untuk bergabung di perusahaan ini."


Brakk...


Doni menggebrak meja.


"Apa! Bapak tidak bisa seenaknya seperti itu. Saya tidak terima. Pasti kalian sudah bersekongkol untuk menjatuhkan saya. Dengar baik-baik, saya masih bisa cari kerja di tempat lain. Tidak butuh kerja disini, jika harus menjadi cleaning servis. Sangat tidak menghormati saya." ucap Doni dengan amarah yang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Bisa lihat sendiri kan pak, bu. Untung kita tidak menerimanya. Coba kalau menerimanya. Bisa habis semua dimarahin sama dia." ucap Mala menyunggingkan senyum tipis.


"Saya sumpahin, semoga perusahaan ini bangkrut." ucap Doni dengan tatapan nyalang.


__ADS_2