Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
56. Menggosip


__ADS_3

Doni semakin terpuruk ketika mengetahui istrinya adalah seorang wanita tuna susila. Ia berdiam diri di rumah selama beberapa hari.


Kerjaannya hanya rebahan, makan, dan mengotak-atik handphonenya. Tidak menggubris ketika Siska tak pulang ke rumah selama beberapa hari, sejak mereka bertengkar.


Dan kini, Bu Mirna tengah berbelanja sayuran di tukang sayur yang biasa mangkal di perempatan desanya.


"Bu Mirna, kemarin sewaktu belanja di mall, saya melihat Mbak Siska jalan bareng aki-aki lho. Dia itu kakeknya Mbak Siska atau... gimana ya. Saya ngga enak mau bicara. Soalnya mereka itu kelihatan mesra banget." ucap Bu Hamidah, tetangga Bu Mirna yang tidak pernah rukun dengannya.


"Iya, dia itu kakeknya. Baru pulang dari luar negeri. Jadi pasti mereka kangen banget." dusta Bu Mirna.


Ia tak ingin semua tetangganya tahu tentang identitas asli Siska, yang seorang wanita tidak benar.


"Oh ya, berarti bawa banyak oleh-oleh dong. Kok ngga bagi-bagi?" seloroh Bu Asih.


"Makanannya enak-enak sih, sayang dong kalau dibagi-bagikan. Teringat sewaktu pesta pernikahan Doni digelar. Disediakan makanan yang enak, tapi isi amplopnya sungguh memalukan. Masa cuma lima ribu, sepuluh ribu. Ketahuan banget sih kalau cuma numpang makan doang. Aku juga dibelikan tas mahal, kapan-kapan mau di pakai untuk kondangan. Tapi kondangannya di tempat orang kaya. Karena kalau di pakai pergi kondangan di tempat orang ngga punya, takut mereka pada melirik tas saya." Bu Mirna terus saja membual sambil terkekeh kecil.


Meskipun semua yang dikatakan hanyalah asal, setidaknya ia harus totalitas dalam berakting. Agar semua yang mendengar percaya dengan ucapannya.


"Wah keren. Beruntung sekali punya menantu yang memiliki darah luar negeri." seloroh Bu Asih.

__ADS_1


"Makanya, kalian itu kalau mencari menantu, harus jelas bibit, bebet, dan bobotnya." Bu Mirna tersenyum puas bisa mengelabuhi tetangganya.


"Eh, tapi kenapa saya sering mendengar suara keributan di rumah Bu Mirna? Terus mas Doni beberapa hari ini juga sering mencuci baju. Sedangkan saya ngga pernah melihat mbak Siska mengerjakan pekerjaan rumah." celetuk Bu Ani yang kebetulan rumahnya dekat dengan Bu Mirna, karena bersebelahan.


Senyum di wajah Bu Mirna mendadak sirna, ketika mendengar ucapan tetangga sebelahnya yang baru saja datang.


"Itu, itu karena aku memanjakan menantuku. Agar dia betah di rumah sini. Tahu sendiri kan, perbedaan di luar negeri dan di desa seperti tempat tinggal kita." Bu Mirna berdusta lagi.


"Mungkin memang benar begitu sih bu. Pergaulan di luar negeri memang bebas. Sampai-sampai saya sering melihat mbak Siska itu turun dari mobil yang gonta-ganti. Dan sebelum turun ia cipika-cipiki dengan laki-laki yang mengantarkannya." imbuh Bu Ani lagi.


"Hai, jaga mulutmu. Kalau tidak mau sandal ini melayang ke bibir mu yang ember itu." Bu Mirna melepas sebelah sandalnya dan mengarahkan ke Bu Ani.


Bu Mirna mengambil seikat bayam dan membantingnya ke jalan, lalu pergi meninggalkan kerumunan.


"Eh bu, kalau tidak mau beli ya sudah. Jangan main banting-banting seperti ini." ucap tukang sayur sambil geleng-geleng kepala dan memungut kembali sayurannya. Tapi Bu Mirna tak mengindahkahkannya, dan melenggang dengan cepat.


Huu...


Semua yang ada menyoraki kelakuan Bu Mirna absturd.

__ADS_1


Setelah kepergian Bu Mirna, para tetangga mulai membicarakan segala sifat buruknya. Di tambah lagi informasi dari Bu Ani, sebagai tetangga dekatnya. Yang setiap saat selalu mendengar keributan di rumah Bu Mirna.


Hampir satu jam, mereka mengghibah. Dan mereka tak menyangka, jika semua sangat berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan Bu Mirna tadi.


Mereka para tetangga semakin tidak suka dengan keluarga Bu Mirna. Dan bahkan takut untuk dekat-dekat dengannya. Karena takut ketularan sifatnya yang sombong. Dan juga takut memiliki takdir yang sama dengannya.


Meskipun ibu-ibu memiliki sikap yang kurang baik, tetap saja ketika anak-anaknya menikah nanti, mereka ingin memiliki menantu yang sholih dan sholihah.


**


Sementara Doni menghadapi masalah yang bertubi-tubi dan membuat kepalanya cukup pusing, hal yang terbalik justru di alami oleh Mala.


Wanita itu perlahan mulai bisa berjalan. Walau hanya satu atau dua langkah, lalu terjatuh, itu sudah menjadi perkembangan yang baik menurutnya. Ia semakin giat berlatih, agar saat persidangan yang terakhir ia bisa berjalan. Dan membuat Doni terkejut dan menyesal.


Mahes pun masih setia menjadi asisten rumah tangga untuk Mala. Di sela-sela kesibukannya, ia juga masih menyempatkan diri untuk datang ke perusahaan. Karena bagaimana pun juga, ia harus bisa memajukan perusahaan itu. Demi kelangsungan hidup karyawannya.


Walaupun Mahes menggunakan sedikit waktu untuk mengurus perusahaan, nyatanya perusahaan dan rumah sakitnya itu tetap berkembang pesat.


Bahkan sepuluh persen keuntungan dari perusahaan diam-diam ia sumbangkan untuk anak-anak panti asuhan.

__ADS_1


__ADS_2