Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
83. Malam pertama


__ADS_3

Mala mengusap wajah sembari mengucapkan hamdalah, ketika Mahes menyelesaikan ikrar ijab qobul nya. Begitu pula Mahes yang ada di luar sana. Yang melakukan hal sama.


Dua orang kerabat menuntun langkah Mala menuju tempat akad nikah. Wanita itu berjalan anggun. Kebahagiaan, rasa haru dan sedih menyelimuti hatinya. Tapi ia tetap menyunggingkan senyum pada tiap mata yang memandang.


Mahes menatap dari kejauhan pada wanita yang baru saja dihalalkan nya itu. Ia menarik kursi yang ada disampingnya untuk Mala. Wanita itu menunduk malu ketika Mahes tak berhenti menatapnya.


Keduanya menandatangani beberapa berkas penting, lalu penghulu mempersilahkan Mala untuk mencium tangan suaminya. Begitu juga sebaliknya, Mahes di suruh untuk mengecup pucuk kepala istrinya.


Keduanya dengan malu-malu melakukan hal itu dihadapan semua orang. Setelah selesai mereka melakukan foto. Lalu keduanya kembali ke ruang rias untuk melakukan ganti busana.


Kali ini keduanya berada dalam satu ruangan, karena telah resmi menikah.


Mala dibantu dua orang perias untuk mengganti bajunya.


Mahes juga dibantu oleh seorang perias yang mengganti busananya. Laki-laki itu diam-diam mencuri pandang ke arah istrinya.


Dan tanpa sengaja Mala melihat ke arahnya. Tapi ia kembali menunduk karena tersipu malu.


Setelah selesai mengganti busana, keduanya kembali ke pelaminan. Keduanya berjalan bersama sambil bergandengan.


"Kamu begitu cantik, Mala. Bekas luka mu sama sekali tak ada. Seperti tidak pernah mengalami kecelakaan." bisik Mahes.


"Terima kasih. Siapa dulu dong yang merawat." balas Mala jahil sambil tersenyum simpul. Membuat Mahes gemas dan ingin mencubit pipinya.


Keduanya kini telah duduk di kursi pelaminan. Siap untuk mengikuti acara berikutnya.


Saat acara sungkeman, Mala menangis dihadapan Bu Ningrum. Ia dan suaminya menjadi wakil pengganti kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bu Ningrum memberikan beberapa wejangan pada Mala dan Mahes agar bisa menjalani biduk rumah tangga yang baik, sampai maut memisahkan.


Pasangan pengantin baru itu mengangguk menerima dengan baik nasehat yang disampaikan.


Setelah selesai sungkem dengan wakil dari pihak Mala, kini keduanya sungkem dengan wakil dari pihak Mahes.


Mahes juga terisak, saat sungkem dengan Bu Dewi. Pengorbanan wanita itu begitu besar untuknya dan keluarga.


Seperti halnya bu Ningrum, Bu Dewi juga berpesan pada pasangan pengantin baru itu untuk senantiasa menjaga hati satu sama lain. Saling mengingatkan dan menguatkan.


Setelah selesai prosesi sungkeman, mereka berfoto dengan rekan kerja, relasi bisnis, dan tamu undangan lainnya.


Hingga akhirnya, tanpa terasa sudah di penghujung acara. Para tamu undangan mengucapkan selamat pada keduanya, sebelum meninggalkan tempat acara.


**


Sementara itu, Doni yang berada di luar mengetahui acara resepsi pernikahan mantan istrinya telah selesai, segera menghapus air matanya. Lalu bergegas pergi dari tempat itu.


"Lhoh, Don. Kenapa?" Bu Mirna yang baru saja belanja dari warung tetangga cukup heran melihat tingkah anaknya. Bahkan ia sampai mengikutinya masuk kamar.


"Kamu ini kenapa sih? Pulang-pulang mukanya seperti itu."


Doni menggeleng lemah. Ia benar-benar frustasi. Jika cerita dengan ibunya mengenai masalah yang dialami, pasti ibunya akan bertambah mencibir. Ia bingung harus berbicara dengan siapa, untuk meluapkan isi hatinya.


"Ya sudah, kalau tidak mau cerita." Bu Mirna melenggang pergi dan berjalan menuju dapur untuk memasak mie instan.


Saat malam hari, Doni terbangun dari tidurnya. Karena merasakan sakit yang teramat sangat. Ia sampai memanggil nama ibunya berulang kali. Tapi setelah satu jam berselang, ibunya baru datang menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa sih, Don? Kamu teriak-teriak memanggil nama ibu." Bu Mirna menghampirinya sambil mengucir rambutnya.


"Tolong Doni, Bu." rintih Doni.


"Kamu sebenarnya sakit apa? Kenapa wajah mu pucat sekali? Badanmu juga panas." Bu Mirna menempelkan tangannya di kening dan leher Doni.


"Masuk angin ya? Biar ibu kerokin."


Doni tak menjawab. Ia hanya bisa pasrah. Siapa tahu dengan cara tradisional seperti itu bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang dideritanya.


**


Hal yang berbeda terjadi di kamar Mala. Setelah selesai mengerjakan sholat isya' bersama, keduanya duduk berhadapan. Mahes menarik tangan Mala dan menggenggamnya.


"Terima kasih, kamu mau menjadi pelengkap hidupku, sayang."


"Aku juga mengucapkan terima kasih, karena mau merawat ku di saat aku sakit. Dan mau menerima segala kekurangan ku. Semoga cobaan yang pernah kita lalui, menjadikan pelajaran bagi kita kedepannya."


"Iya sayang. Aku akan terus berusaha untuk menjadi suami seperti yang kamu inginkan."


Keduanya saling beradu pandang, melempar senyum. Dan Mahes mendekatkan wajahnya sehingga mengikis jarak antara dia dan istrinya.


Sebuah sentuhan lembut ia berikan untuk istri tercintanya. Wanita itu tampak merona wajahnya karena malu.


Melihat pipi yang bersemu merah itu membangkitkan jiwa kelaki-lakian Mahes yang sudah tertahan selama ini.


Dengan gerakan yang lembut, ia berhasil mendapatkan mahkota milik Mala.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2