Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
156. Meminta pendapat


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan Mala dan Mahes datang.


"Maaf ya, sayang. Kamu cuma bisa lihat mama dan papa makan. Nanti kalau sudah besar, kita bisa keluar seperti ini, terus makan sama-sama deh." ucap Mala, sambil menatap bayinya.


"Sayang, kamu juga bisa merasakan makanan yang di makan mama, lewat asi yang kamu sedot. Rasanya tetap enak kok. Iya kan, ma?" Mahes menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum.


"Hem, terserah kamu lah mas mau bilang apa."


Setelah itu, keduanya mulai menyantap makanan yang sudah disediakan. Sesekali pasangan suami-istri itu juga mengajaknya anaknya berkomunikasi, lewat celotehan-celotehan. Hingga akhirnya makanannya habis.


Puas menikmati waktu bersama sambil makan di kedai itu, keduanya segera membayar total tagihannya.


"Berapa totalnya mas?" tanya Mahes pada Doni yang duduk di belakang meja kasir.


"Paket nasi ayam crispy dua, empat puluh ribu. Minumannya Thai tea dan moccachino tiga puluh ribu. Totalnya tujuh puluh ribu rupiah ya, mas."


"Oh iya, saya juga mau pesan paket ayam crispy dan minumannya teh hangat saja. Masing-masing seratus porsi untuk hari Jum'at ya. Saya bayar sekarang."


"Maa syaa Allah, alhamdulillah. Sebentar ya mas saya hitung dulu." ucap Doni dengan penuh semangat.


"Semua totalnya tiga juta tujuh puluh ribu rupiah, mas. Saya diskon tujuh puluh ribu rupiah. Jadi total bayarnya tiga juta rupiah saja. Mau diambil atau diantar?"


"Okay, terima kasih. Kirim ke rumah saya bisa? Jam delapan pagi. Agar bisa segera dibagi-bagikan."


Sejenak Doni berpikir, pesanan segitu banyaknya, tentu juga membutuhkan waktu yang lama. Tapi sebagai seorang owner, dia juga bisa harus bersikap profesional. Pemuda itu pun menghembuskan nafasnya. Lalu menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


"Bisa, mas."


"Syukurlah. Oh iya, saya transfer melalui ATM ya." Doni menganggukkan kepalanya. Lalu Mahes mengeluarkan kartu ATM nya dan menekan sejumlah angka di mesin EDC(Electronic Data Capture).


Setelah kepergian Mahes dan Mala, Doni berpikir keras bagaimana cara mengerjakan pesanan itu. Untuk mengerjakan seorang diri tentu sangat kerepotan.

__ADS_1


"Siska. Sepertinya aku harus cerita masalah ini ke Siska. Siapa tahu dia bisa bantu aku."


Doni menggulir layar handphonenya dan menghubungi Siska. Beberapa kali ia menelpon, tetap tak ada jawaban.


"Kemana sih, Siska. Kok tidak diangkat?" gumam Doni sambil mengernyitkan dahi.


"Mas, sudah. Totalnya berapa?" ucap seorang pengunjung, yang hendak membayar total tagihan makannya.


Hal itu cukup mengalihkan perhatian Doni. Pria itu bangkit berdiri dan melayani pembeli itu.


Tak berselang lama, handphone Doni berdering. Pria itu segera mengangkatnya, ketika melihat nama yang tertera di layar adalah Siska.


"Hallo, Assalamu'alaikum Siska." sapa Doni dengan wajah berbinar.


"Wa'alaikumussalam, mas. Ada apa? Sepertinya kamu terlihat bahagia?" balas Siska dari seberang.


"Aku ini dapat pesanan, nasi box dan minuman. Masing-masing seratus pcs. Dan besok pukul delapan harus sudah sampai rumah nya. Aku bingung siapa yang harus ku tunjuk untuk membantuku."


"Kamu serius?"


"Iya, aku serius. Jam berapa kita akan memulainya?"


"Mungkin sekitar pukul tiga dini hari. Nanti malam aku akan menjemputmu."


"Iya, mas. Aku bersedia."


"Alhamdulillah, terima kasih Siska. Ya sudah, sekarang aku ke pasar dulu ya. Untuk belanja kebutuhan besok."


"Iya, mas. Hati-hati di jalan ya."


"Iya, Siska. Terima kasih, i love you." Doni menutup teleponnya, lalu mengecup handphonenya.

__ADS_1


Dan tingkah lebay nya itu di lihat oleh karyawannya yang tidak suka dengan Siska. Sehingga membuat hatinya semakin bertambah benci.


Doni bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah dapur menyuruh salah satu karyawan menjaga kasir.


"Mas, mau kemana?" sapa Mira sok ramah pada bos nya.


"Mau ke pasar. Rani mana?"


"Baru ke toilet, mas. Ada apa?"


"Mau aku suruh menunggu kasir."


"Saya saja mas." tawar Mira dengan bersemangat.


"Maaf, saya menyuruh Rani. Bukan kamu." tegas Doni.


Bukan tanpa alasan sebenarnya Doni mengatakan hal itu. Meskipun Rani karyawan baru, ia bisa menghandle pekerjaan kasir dengan baik. Sedangkan Mira yang notabenenya adalah karyawan cukup lama, justru sering melakukan kesalahan. Padahal pendidikan yang keduanya tempuh sama.


"Rani." seru Doni, ketika melihat Rani keluar dari kamar mandi.


"Iya, mas. Ada apa ya." tanya Rani sambil mendekat ke arah Doni.


"Tolong tunggu kasir lagi."


"Oh, baik mas."


Rani berjalan menuju meja kasir sedangkan Mira tampak kesal hingga mengerucutkan bibirnya.


"Mira, kamu kembali kerja cuci piring ya."


"Iya, mas." balas gadis itu dengan wajah masam.

__ADS_1


"Hem, sebenarnya aku tidak tega memecat karyawan. Tapi karyawan yang satu itu sungguh luar biasa."


__ADS_2