
Doni keluar dengan bersungut-sungut kesal. Bahkan ia sampai menutup pintu dengan kasar.
Teman-teman seperjuangan yang melihatnya menatap ketakutan.
"Apa kalian lihat-lihat. Aku doain kalian tidak ada yang diterima bekerja disini. Aku juga sumpahin semoga perusahaan ini cepat bangkrut."
Mereka yang melihat hal itu saling beradu pandang, dan mulai berbisik.
"Pasti dia gagal diterima disini. Lagaknya sok yes sih."
"Betul itu. Dari awal aku lihat, dia paling cari perhatian sendiri."
"Pakai ngaku-ngaku suaminya bu direktur. Ya ngga mungkin lah. Direktur nya saja masih imut dan cantik, kayak ABG."
Dan masih banyak lagi selentingan yang membicarakan keburukan Doni.
Di dalam ruangan, Mala tersenyum puas. Akhirnya bisa membalas rasa sakit hatinya pada mantan suaminya. Dengan hal yang membuatnya malu.
Awalnya Mala memang tidak berniat membalas. Tapi keadaan seolah yang mempertemukan mereka. Dan Allah selalu menunjukkan keburukan Doni. Sehingga timbul niat di hati untuk memberinya pelajaran.
Mala berharap suaminya itu tidak mengulangi lagi perbuatannya. Karena bisa jadi, keburukan yang menumpuk, akan mengundang murka Allah. Dan akhirnya mendapatkan balasan yang lebih perih dari Sang Pencipta.
Sesampainya di parkiran. Doni masuk ke mobil, dan menutup pintunya dengan keras.
Arghhh...
Jeritnya histeris kesakitan. Ternyata kaki sebelah kanannya lupa belum masuk. Alhasil kaki itu terjepit pintu.
__ADS_1
Ia sampai menitikkan air mata karena rasa sakit yang tak tertahankan. Perlahan ia menaikkan celana panjangnya. Terlihat kulitnya memar, karena warnanya merah kehitaman.
"Apes banget sih, aku. Gagal diterima kerja. Ketemu mantan yang angkuhnya selangit. Eh, ini ditambah kaki kejepit pintu. Awas kalian semua, akan ku pastikan menyesal dan mendapatkan balasan yang setimpal."
Setelah memenangkan diri. Doni menutup pintunya pelan, lalu melajukan mobilnya.
Dalam keadaan kakinya sakit, tidak mungkin ia mencari kerja. Akhirnya ia lebih memilih pulang untuk mengistirahatkan badannya.
Namun, nasib sial sepertinya kembali menghampirinya. Disaat lampu merah, seharusnya ia menekan rem untuk menghentikan laju kendaraannya. Tapi ia malah melakukan kesalahan dengan menarik. Alhasil mobilnya menabrak mobil yang ada didepannya.
"Aduh!" Doni menepuk jidatnya.
Pengemudi mobil yang ada di depannya keluar, dan berjalan menghampirinya. Ia mengetuk pintu kaca, tapi Doni belum juga membukanya.
Pengemudi yang tadi bersikap ramah, kini mulai menampakkan kemarahannya.
Akhirnya dengan ragu-ragu Doni menurunkan kaca mobilnya.
"Ma-maafkan saya, pak. Tadi tidak sengaja."
"Saya terima permintaan maaf mu. Tapi kamu tetap harus ganti rugi. Karena bagian belakang mobil saya rusak parah."
Doni melongokkan kepalanya ke depan. Dan memang terlihat jelas kerusakan pada bagian belakang mobil itu. Ia pun turun. Dengan langkah yang tertatih, ia mengecek bagian depan mobilnya.
"Ini mobil bagian depan saya juga rusak, pak. Bagaimana kalau biaya sendiri-sendiri."
"Lhoh, ini kan karena kesalahan mu. Kenapa saya juga harus keluar uang. Seharusnya semua biaya yang menanggung kamu dong."
__ADS_1
"Tapi, pak. Saya baru cari kerja. Dan ini kaki saya sakit karena terjepit pintu. Apa bapak tidak kasian sama saya?"
"Masih banyak orang yang harus saya kasihani. Seperti fakir miskin, anak terlantar, dan kaum dhuafa. Saya tidak mau tahu, kamu harus ganti biaya kerugiannya. Atau... Kamu mau kasus ini kita bawa ke meja hijau?"
"Hah, ja-jangan pak. Iya, baik. Saya akan mengganti biayanya."
"Ayo, kita sama-sama pergi ke bengkel langganan ku. Jika kamu sampai membohongi saya, akan ku pastikan hidup mu, hanya sampai hari ini." tegas pengemudi yang mobilnya ditabrak lagi.
Doni mengangguk lemah, lalu memasuki mobilnya dengan tidak bersemangat. Terpaksa ia mengikuti mobil yang ada didepannya menuju ke bengkel.
Ia turun dan duduk di kursi tunggu. Sambil memperhatikan mobil itu diperbaiki.
"Kerusakan ini cukup serius, pak. Kemungkinan mobilnya bisa jadi dalam kurun waktu sekitar satu Minggu. Karena harus antri juga dengan mobil lainnya." ucap karyawan bengkel.
"Okay, tidak masalah. Jika sudah selesai, tolong hubungi nomor ini. Pastikan ia membayar total tagihan nya. Karena dia yang menyebabkan mobil saya menjadi seperti ini." ucap pengemudi yang mobilnya ditabrak tadi.
"Baik, pak."
Lalu pengemudi itu pun kembali mendekati Doni, dan bercakap-cakap sejenak tentang mobilnya. Doni hanya bisa mengangguk pasrah.
Karena tidak mungkin rasanya untuk melawan orang yang ada dihadapannya. Terlihat jelas, jika orang yang ia hadapi bukan orang sembarangan.
Setelah menyelesaikan urusannya, Doni melajukan mobilnya menuju ke rumah. Ia mengendarai dengan sangat pelan dan hati-hati, agar selamat sampai rumah.
Sepanjang perjalanan ia terus berdoa agar biaya perbaikan mobil tidak menelan biaya yang banyak. Sesampainya di rumah, terlihat Bu Mirna tengah menyapu teras rumah.
"Doni!" jeritnya ketika mengetahui mobil anaknya bagian depan rusak.
__ADS_1
"Duh, alamat bakal kena omel lagi ini." Doni menggerutu sambil menepuk jidatnya.