Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
84. Bau tikus


__ADS_3

Suara adzan subuh lamat-lamat terdengar. Pasangan pengantin baru itu menggeliat sambil mengucek matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.


Mala reflek menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ketika melihat Mahes tersenyum disampingnya.


"Kenapa harus di tutup sayang? Aku kan sudah melihat, dan justru sudah merasakannya semalam."


Mala dengan ragu menurunkan selimutnya, lalu menatap Mahes yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Kamu lupa ya. Kita kan sudah menikah." Mala mengangguk sambil tersenyum malu.


"Apa kamu mau melakukannya lagi sebelum subuh." tawar Mahes sengaja menggoda istrinya.


"Tidak, tidak. Em, maksud ku, aku ingin mandi biar segar, lalu melaksanakan sholat. Takutnya matahari keburu muncul." ralat Mala. Ia tidak berani menolak ajakan suaminya, karena takut mendapat doa buruk dari para malaikat.


"Baiklah, kamu mandi duluan gih."


Mala mengangguk mendengar perintah suaminya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dan berjalan menuju kamar mandi.


Mahes menatap Mala dari belakang. Lalu mengernyitkan dahi karena cara berjalannya tidak seperti biasanya.


"Sayang."


"Hem." Mala menoleh ke arah suaminya.


"Apa semalam aku terlalu menyakitimu. Sehingga membuat mu jadi berjalan aneh seperti tadi?"


Mala menggeleng sambil menyunggingkan senyum. Tentu saja ia tidak berani bilang yang sebenarnya pada suaminya.


"Aku tak percaya." dengan sigap Mahes mengangkat tubuh Mala, sehingga membuat wanita itu menjerit dan mengalungkan kedua tangannya di leher Mahes.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih? Turunkan sekarang." ucap Mala sambil meronta-ronta.


"Aku akan menurunkan kamu di kamar mandi. Karena aku akan memandikan mu."


"Apa!" Mala membulatkan matanya sementara Mahes tersenyum jahil.


"Aku bisa mandi sendiri. Tidak perlu kamu mandiin."


"Tidak apa-apa. Tidak perlu malu. Toh, semalam aku sudah melihat milikmu. Apa aku harus mengingatkan mu berulang kali."


**


"Don. Kamu berangkat kerja tidak? Sudah siang nih, kok ngga bangun-bangun?" ucap Bu Mirna sambil menggedor pintu kamar anaknya.


Karena tidak ada jawaban, akhirnya ia berlalu keluar. Ia ingin pergi ke rumah tetangga yang ada disampingnya. Sudah lama tidak mengghibah. Rasanya ia begitu kangen dengan hal itu.


Bu Mirna sangat antusias menceritakan keburukan tetangganya yang dulu. Ibu-ibu yang mendengar saling beradu pandang lalu manggut-manggut. Bagai rakyat yang tengah mendengarkan presidennya berpidato.


**


Di dalam kamar, Doni mengerang kesakitan. Rasanya sudah tidak bisa menahan sakit. Ia terus menyebut nama istri pertamanya untuk meminta maaf.


Ia juga memanggil ibunya, karena ingin minta tolong untuk mengambil minuman. Tapi seluruh usahanya sia-sia. Tak ada jawaban apapun dari ibunya.


Padahal sejak dari rumah Mala sampai sekarang ia tidak makan atau minum apapun.


"Ya Tuhan. Apakah sesakit ini rasa yang pernah di alami oleh Mala, ketika aku menorehkan luka dihatinya? Ya Tuhan, aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan menyakiti siapa pun lagi. Tidak akan mengkhianati sebuah pernikahan, bila kelak Kau memberi jodoh untukku lagi."


**

__ADS_1


Hingga tanpa terasa, waktu sudah beranjak siang. Dan perut sudah kembali lapar. Acara ghibah yang disponsori oleh Bu Mirna akhirnya selesai. Ia berjalan menuju rumahnya.


Ia melenggang ke dapur untuk menikmati santap siang. Setelah kenyang, ia masuk ke kamar untuk tidur siang.


Sore hari Bu Mirna bangun. Melakukan aktivitas sore sebagaimana mestinya. Setelah mandi, ia kembali mengghibah bersama ibu-ibu.


Ia senang, jika ibu-ibu antusias mendengarkan ceritanya. Beban masalah yang melandanya akhir-akhir ini sedikit teralihkan.


"Besok jangan lupa kita kumpul lagi ya, ibu-ibu." ucap Bu Mirna mengakhiri obrolan sore itu.


"Siap, Bu." balas mereka kompak.


Sesampainya di rumah, Bu Mirna menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sambil menyalakan televisi.


Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam, ia beranjak dari tempat duduknya. Saat akan memasuki kamarnya, barulah ia sadar, jika anaknya sejak tadi tidak keluar kamar.


"Heran sama si Doni itu. Kerjaannya tidur melulu. Kapan bisa kaya nya?" gumamnya, sebelum masuk ke kamar.


**


Bu Mirna mengerjakan kegiatannya seperti biasanya. Dari beres-beres rumah, memasak, menonton televisi dan mengghibah.


Saat ia menyapu lantai melewati kamar anaknya, tiba-tiba hidungnya mengendus bau tidak sedap.


"Ish, bau apaan sih ini. Kok ngga enak begini. Pasti ada tikus mati di rumah ini." gumamnya.


"Don, Doni. Kamu bangun dong. Sudah siang nih. Kerjaan mu hanya makan, tidur. Begitu setiap hari. Cepat keluar. Ada tikus mati nih. Ibu geli. Kamu cari dong." ucapnya sambil menggedor-gedor pintu.


Namun seperti biasanya, sepi. Tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Dasar, anak tidak tahu diri. Capek aku lama-lama. Lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaan ku, dan mengghibah dengan tetangga sebelah." ucap Bu Mirna untuk menghibur hatinya yang kesal dengan anaknya.



__ADS_2