Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
166. Hamil


__ADS_3

Mendengar suara pintu terbuka, Doni yang sedang merebahkan diri di atas tempat tidur, menoleh ke arah toilet.


"Sayang, apa perutmu sakit sekali? Hingga kamu terlalu lama berada dikamar mandi."


Bukannya menjawab, Siska malah mendekati suaminya. Lalu duduk didekatnya sambil menyerahkan sesuatu padanya.


"Apa ini?" tanya Doni, sambil mengernyitkan dahi.


"Aku mengandung benih mu, mas."


"Apa! Ka-kamu hamil sayang?" Wajah Doni mulai berbinar. Istrinya itupun menganggukkan kepalanya, sambil menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah." ucap Doni, sambil memeluk erat istrinya.


Setelah mengurai pelukan, Doni meraba dan mengecup pipi Siska yang memang sudah kelihatan sedikit membuncit.


Siska mengusap lembut kepala suaminya. Ia sangat bersyukur, bisa melewati seluruh pahitnya kehidupan. Dan sekarang tinggal menikmati manisnya saja.


Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu tetap berbuat baik.


**


"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Mahes.


Ia mendekati istrinya, yang sedang duduk ditepi ranjang bayinya, sambil sibuk mengutak-atik handphone.


"Ini, Mas. Aku sedang cari referensi menu makanan yang disukai anak-anak dan orang dewasa. Untuk syukuran baby Adam nanti."


"Kamu kan suka ayam crispy di kedai yang biasanya kita kunjungi. Kenapa tidak dipesankan itu saja? Menurutku disana menunya juga bertambah banyak. Harganya juga cukup murah."

__ADS_1


"Iya, ya mas. Aku kok lupa sih?"


"Sama aku saja lupa. Apalagi sama ayam crispy."


Mahes berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan bibirnya mengerucut.


"Apaan sih, mas. Kok bicaranya seperti itu?"


"Tuh kan, katanya kemarin mau memberiku jatah. Tahunya malah tidur duluan."


"Oh, maafkan aku mas. Kemarin capek banget. Habis menyusui baby Adam, aku malah ketiduran."


"Okay, sekarang masih capek ngga?"


"Mandi dulu saja, mas."


"Tapi, nanti kamu nungguin aku kan?"


"Janji ya. Jangan ditinggal tidur lagi lho."


"Sudah, buruan mandi sana."


Mala yang gemas, mendorong tubuh suaminya menuju kamar mandi. Setelah itu, ia mengganti pakaiannya dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Ia juga menyisir rambutnya, dan membiarkan tergerai indah.


Cukup lama ia duduk ditepi ranjang sambil menunggu suaminya. Dan akhirnya, pintu kamar mandi terbuka.


Mahes yang keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, seketika berbinar dan menyunggingkan senyum. Karena melihat istrinya yang sudah berubah penampilannya.


Pria itu mendekati istrinya yang tampak menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia mulai membelai wajah cantik istrinya, dan menautkan bibirnya dengan bibir sang istri.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, tangis baby Adam pecah. Sehingga membuat keduanya buru-buru melepas tautan itu.


Mala berjalan mendekati box, dan mengambil bayinya. Lalu membawanya duduk di ranjang tempat tidurnya.


Ia menurunkan tali lingerie nya, lalu menyusui bayinya. Mahes yang melihat hal itu menelan saliva, sambil garuk-garuk kepala.


"Yah, keduluan lagi deh." celetuknya, sambil memainkan bibirnya ke kanan dan kiri.


**


Sore itu Mala dan Mahes berangkat ke kedai untuk memesan makanan, yang akan digunakan untuk bagi-bagi syukuran putranya.


"Mbak Mala." Mala menoleh ketika mendengar ada yang memanggilnya, saat ia turun dari mobil.


"Siska." gumam Mala, ketika melihat siapa yang memanggilnya.


Ia memang sering ke kedai itu, tapi jarang bertemu dengan Siska. Ibu menyusui itu terkejut ketika melihat perut Siska yang besar.


"Apa kabar, mbak." sapa Siska dengan senyum ramah.


"Alhamdulillah, aku baik. Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu."


"Ini sudah sembilan bulan, mbak. Mohon Doanya ya, mbak agar persalinan ku nanti lancar. Aku bisa memiliki bayi yang tampan dan sehat seperti bayi mbak ini."


"Iya. Aku akan mendoakan mu, semoga semua baik-baik saja."


"Oh ya, ayo kita masuk." ajak Doni.


"Ayo, kami juga mau memesan makanan untuk syukuran baby Adam."

__ADS_1


Kedua pasangan suami-istri itu beriringan masuk ke dalam kedai, sambil bercakap-cakap.


__ADS_2