Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
145. Pacar


__ADS_3

"Iya." balas Bu Mirna singkat.


Wanita sepuh itu berusaha menahan gejolak di dada ketika mengucapkan kata 'iya' pada Siska.


"Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur, bisa melihat kalian berdamai. Sekarang ayo kita masuk. Kita siap-siap kerja." ajak Doni.


Pria itu berjalan mengambil bahan-bahan yang ada di dalam mobil. Sedangkan Bu Mirna dan Siska masih terdiam dan saling beradu pandang. Lalu Siska lebih dulu mendekati Doni untuk membantunya. Bu Mirna pun ikut mendekati mereka dan membantunya.


Mereka bertiga bekerja sama mengerjakan tugas-tugasnya. Ada rasa canggung, ketika Siska membantu Bu Mirna mengulek bumbu. Keduanya saling terdiam sambil sesekali saling mencuri pandang.


Kini semua sudah selesai, dan Doni mulai membuka pintu rolling door nya. Tak lama setelah buka, dua orang pembeli datang. Lalu selang beberapa menit ada pengunjung lagi. Menit berganti jam, pengunjung kedai Doni semakin meningkat jumlahnya.


"Bu, tolong buatkan es lemon tea nya dua dan jus alpukat satu ya." pinta Doni.


Bu Mirna pun mengangguk lalu menjalankan perintah bos nya. Sedangkan Siska tengah menyiapkan makanannya.


Tak lama kemudian, Bu Mirna selesai membuat minuman dan membawanya ke depan. Ia melihat Doni sedang mengantar pesanan pembeli. Dan hanya ada Siska yang tengah plating makanan. Akhirnya mau tak mau Bu Mirna bertanya pada Siska.


"Ini di taruh mana?"


Siska menoleh dan menatap sejenak apa yang dibawa bu Mirna.


"Taruh disini saja dulu Bu. Sebentar lagi juga mau diantarkan sama mas Doni, bareng dengan makanannya."


Tak banyak bicara, Bu Mirna meletakkan minumannya di dekat makanan. Setelah itu, Bu Mirna ke dapur untuk mencuci piring dan gelas yang sudah menumpuk di ember cucian.


Sepanjang jam kerja, Siska dan Bu Mirna terus menunjukkan sikap canggungnya. Sampai akhir jam kerja, keduanya terus bersikap seperti itu.

__ADS_1


Doni juga melihat hal itu, tapi hanya membiarkannya saja. Karena hal itu lumrah terjadi bagi orang yang sudah lama tidak bertemu. Apalagi keduanya pernah terlibat masalah yang serius. Mudah-mudahan saja, seiring berjalannya waktu keduanya bisa berhubungan dengan baik.


Kini Doni tengah menutup rolling door. Setelah itu ia menatap Bu Mirna.


"Bu, ini ada sisa ayam goreng. Ibu bawa untuk lauk nanti di rumah ya." Doni menyerahkan bungkusan pada Bu Mirna.


"Tidak usah repot-repot nak. Diijinkan bekerja disini saja, ibu sudah sangat bersyukur."


"Iya, tapi ini tolong dibawa. Rezeki tidak boleh di tolak lho." Ujar Doni lagi.


Bu Mirna melirik Siska yang tangannya tidak membawa apa-apa. Berbeda dengannya yang mendapat ayam crispy dua hari ini.


Memang Doni sengaja melakukannya, karena kasian melihat tubuh Bu Mirna yang kurus. Pemuda itu menebak, pasti Bu Mirna kesulitan untuk sekedar makan.


"Kenapa dia tidak kamu kasih sekalian nak?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari mulut Bu Mirna, sambil menatap sejenak ke arah Siska.


Selama bekerja ikut Doni, sebenarnya Siska jarang membawa ayam crispy pulang. Karena sudah habis duluan.


Tapi ia memang sering di ajak mampir makan setelah belanja kebutuhan kedai. Bahkan hal itu hampir setiap hari.


"Oh iya, ayo ibu mau saya antar pulang?"


"Tidak usah, nak. Terima kasih. Kalau begitu ibu permisi dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan ya Bu." pesan Doni.


"Ayo kita pulang, Sis." ucap Doni setelah Bu Mirna berjalan sedikit menjauh dari mereka.

__ADS_1


"Mas, sepertinya aku jalan kaki saja. Bu Mirna saja juga berjalan kaki."


"Dia kan rumahnya berlawanan arah dengan kita. Toh tadi sudah aku tawarkan bantuan, tapi dia menolak."


"Tapi aku tidak enak dengannya, mas. Aku takut dia memikirkan hal yang buruk tentangku. Kamu tahu sendiri kan dari mulut kami, bagaimana buruknya aku di masa lalu."


"Siska, sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak peduli bagaimana masa lalumu. Karena aku... aku..."


"Kenapa bicaranya jadi seperti itu mas?" Siska menatap Doni sambil mengernyitkan dahi. Membuat pemuda dihadapannya semakin nervous.


Entah kenapa untuk sekedar bilang cinta saja, susahnya minta ampun.


"Em, apa kamu tidak memiliki perasaan apa pun padaku?" Doni malah bertanya balik pada Siska.


"Perasaan?" ulang Siska, dan Doni pun mengangguk.


"Perasaan penuh syukur, karena memiliki bos sebaik kamu mas." Siska mengulas senyum.


"Hanya itu?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Apa kamu sudah memiliki pacar?"


"Pacar? ulang Siska lalu terkekeh.


"Aku tidak ingin memiliki pacar atau bahkan suami mas. Aku sudah sangat bersyukur dan bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang."

__ADS_1


"Kalau ada laki-laki yang mencintaimu dan mengajak mu menikah, apa yang akan kamu lakukan, Sis?"


__ADS_2