
"Siska, kamu capek nggak?" tanya Doni saat keduanya tengah menikmati perjalanan menuju pasar dengan mengendarai mobil.
Siska terkekeh, lalu menoleh pada atasannya.
"Kalau orang kerja, ya wajarlah mas, kalau capek. Memangnya kenapa? Mau mijitin aku?"
"Hah!" Doni membulatkan matanya, menoleh ke arah Siska yang tampak terkekeh di dekatnya.
"Just kidding. Masa iya, bawahan nyuruh atasannya untuk mijitin badannya. Yang ada besok aku bakal di pecat sama mas Doni." imbuh Siska, agar Doni tidak berpikir yang buruk tentangnya. Dan benar saja, raut wajah Doni yang tadi sempat terkejut, kini berubah tersenyum meringis.
"Kamu sudah sebulan lebih kerja ditempat ku. Dan kamu belum ambil libur. Aku kasian jika kamu jatuh sakit. Siapa yang akan menemani ku kerja nanti?" keluh Doni.
"Doakan saja ya, mas. Agar aku selalu sehat, bisa bekerja membantu mas Doni mengurus kedai ayam goreng. Meskipun aku capek kerja, tapi rasanya hati ku senang. Karena bisa bertemu dengan orang banyak. Dan pastinya yang aku lakukan adalah kegiatan yang bermanfaat. Daripada di kost, aku cuma tiduran saja."
"Tentu aku akan doakan kamu, agar selalu sehat."
"Aamiin. Terima kasih doanya mas. Oh iya, meskipun promo makannya sudah habis, kedainya juga masih tetap ramai ya mas. Apa mas ngga kepikiran untuk cari karyawan lagi? Masa bos, bantuin karyawannya kerja setiap hari?"
Doni menyetir sambil manggut-manggut. Membenarkan ucapan Siska.
"Aku akan pikirkan saran mu. Terima kasih, sudah mau membantu mengurus kedai ku. Sekarang kita masuk dulu yuk. Tuh, dah sampai pasar."
__ADS_1
"Baik, mas." keduanya segera keluar dari mobil, dan berjalan memasuki pasar.
Karena setiap hari selalu ikut ke pasar, Siska jadi tahu cara memilih daging serta sayur-sayuran yang memiliki kualitas bagus. Sehingga kini, keduanya selalu berlawanan arah dalam berjalan, ketika sudah masuk pasar.
Doni belok kiri untuk menuju kios daging, sedangkan Siska belok kanan menuju kios sayur. Saat ia sedang asyik memilih sayuran, tiba-tiba ada yang sengaja menowel bamper nya.
Spontan Siska menoleh dan begitu terkejut. Ketika yang melakukan hal tadi adalah salah satu pelanggannya ketika dulu ia masih terjun di dunia malam.
"Hai, Siska?" sapa laki-laki yang tampak sangar wajahnya, sedang mengerlingkan matanya nakal ke arah Siska.
"Sudah lama om tidak bertemu denganmu. Om kira kamu pergi jauh atau sudah mati. Eh, taunya masih sehat dan kini justru bertambah wow saja, bamper dan dada mu itu." ucap laki-laki itu, sambil membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri. Lalu menelan Saliva kasar.
Sedangkan Siska, merasa darahnya begitu mendidih. Setiap mendengar ucapan yang keluar dari mulut laki-laki didepannya. Bahkan cabai yang ada dalam genggaman tangannya, tanpa sadar ia remas sambil lembek.
"Siska." sebuah suara yang sangat Siska hafal begitu mengejutkannya. Gadis itu menoleh dan melihat bos nya sudah berada didekatnya.
"Kok tumben lama. Sampai aku susul kesini. Ada apa? Lhololoh, cabai kok di remas-remas. Tanganmu bisa panas lho." ucap Doni, sambil menghempaskan cabai yang sudah rusak itu dari tangan Siska.
"Oh, sejak tadi kamu terus diam saja. Karena kamu sudah punya pria yang jauh lebih muda dari om ya. Tapi kekuatannya di atas ranjang, bagusan siapa? Pasti bagus om kan? Tentu saja. Di lihat dari postur tubuhnya saja, sudah jauh berbeda."
Doni menoleh ke arah laki-laki berwajah sangar dan menoleh ke arah Siska secara bergantian. Dan barulah melihat ketegangan yang tengah terjadi.
__ADS_1
"Siska. Ada apa?" tanya Doni kebingungan.
"Hei, apa kamu juga pelanggan jasanya? Kalau iya, masa gitu saja tidak tahu." ucap laki-laki itu sambil terkekeh.
"Diam kamu!' seru Siska, yang sejak tadi terus diam. Karena menahan gejolak di dadanya.
Doni begitu terkejut, karena selama bekerja ditempat nya, belum pernah sekali pun gadis itu mengeluarkan gertakannya.
Pemuda itu semakin yakin, jika tengah terjadi sesuatu diantara keduanya.
"Siska. Katakan ada apa? Apa bapak ini melukai mu. Atau melakukan sesuatu yang membuat mu semarah ini?"
Laki-laki berwajah sangar itu terkekeh mendengar Doni yang begitu mengkhawatirkan Siska.
"Sepertinya kamu adalah laki-laki yang cukup baik. Kamu siapanya Siska? Jangan bilang kalau dia itu pacar. Atau bahkan istrimu." laki-laki berwajah sangar memindai Doni dari atas hingga ke ujung bawah.
"Mas, aku kurang enak badan. Ayo kita segera pulang.' ia tidak ingin terlalu lama bertemu dengan laki-laki sangar dihadapannya.
"Iya, sayurnya mana?"
"Aku belum jadi beli. Tapi, tolong. Kita segera pergi dari sini." bujuk Siska sambil menarik lengan tangan Doni.
__ADS_1
"Tapi, Sis."
"Mas, ku mohon." rintih Siska. Akhirnya Doni pun menuruti gadis dihadapannya yang terlihat begitu murung wajahnya.