
Doni hendak memukul security itu, tapi Mahes segera menghalaunya.
"Cukup! Hentikan! Sebaiknya kamu pergi dari sini. Bukan kah kamu juga sudah mendapatkan apa yang kamu mau?" seru Mahes.
Doni pun akhirnya berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Sopir taksi pura-pura tidur ketika melihat Doni berjalan menuju taksi. Agar tidak ketahuan kalau ia tengah melihat semua yang dilakukan Doni sambil mengurut dada.
Doni menghempaskan tubuhnya di dalam taksi. Lalu menghirup nafas dalam-dalam untuk menghilangkan perasaan jengkelnya.
"Jalan pak." titah Doni. Tak banyak bicara sopir langsung melajukan taksinya.
"Kita mau kemana ini pak?" tanya sang sopir yang memang tidak tahu arah tujuan Doni. Karena laki-laki itu memerintah seenaknya sendiri.
Doni memutar otak sejenak, lalu penasaran dengan apa yang dilakukan istri pertamanya. Siapa tahu jika kesana, ia bisa memperoleh uang, sisa makanan atau yang lainnya yang bisa bermanfaat untuk kehidupannya.
Ia pun segera menyuruh sopir untuk berbelok arah menuju perumahan elite dimana Mala tinggal.
Hatinya berdegup kencang ketika mobil yang ia tumpangi mulai memasuki kawasan elite itu. Dan ketika mobil sudah berhenti, ia tidak turun. Tapi sengaja melihat pemandangan rumah megah itu dari balik kaca mobil terlebih dahulu.
Ia membulatkan matanya, ketika melihat Mahes sudah ada di depan rumah Mala.
"Lhololoh, dia naik apa kesini? Apa dia punya ajian seperti siluman? Yang bisa berubah-ubah dan berpindah tempat sesuka hati?" gumam Doni, ketika melihat Mahes sudah sampai di rumah Mala terlebih dulu.
__ADS_1
Mahes tadi memang ke rumah hanya sekedar untuk mengganti mobilnya. Ia tidak mau menggunakan mobil Mala tanpa ijin dari yang bersangkutan.
Jika meminta ijin, tentu saja penyamarannya akan terbongkar. Mahes adalah pewaris tunggal Sadewa textile. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan benang dan kain. Yang di rintis oleh papanya.
Sedangkan mamanya merintis sebuah rumah sakit yang memiliki fasilitas terlengkap di banding rumah sakit lainnya. Sehingga menjadi rumah sakit rujukan. Dan rumah sakit itu bernama Rumah sakit Kasih Bunda.
Maka dari itu, saat Mahes mengantar Mala periksa ke rumah sakitnya, ia menunjukkan kartu eksklusif pada perawat.
Kartu itu memang hanya dimiliki oleh keluarga Sadewa yang bebas keluar masuk tanpa biaya sepeserpun.
Meskipun Mahes sudah menjadi pewaris tunggal kerajaan bisnis kedua orang tuanya, ia tetap tidak sombong.
Ia justru memanfaatkan keuntungannya untuk bersedekah pada fakir miskin, kaum dhuafa, dan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial lainnya.
Ia bersedekah atas nama orang tuanya. Agar bila mendapatkan pahala, kedua orang tuanya lah yang mendapatkan pahala nya.
Untuk saat ini, ia memang tidak memikirkan soal pacar. Ia ingin fokus untuk meneruskan usaha kedua orang tuanya dan juga mengurus Mala dengan baik.
Ia ingin memastikan Mala mendapatkan kebahagiaannya terlebih dulu. Barulah ia bisa tenang mengurus diri sendiri.
Dan beruntung sekali, saudaranya yakni bu Ningrum. Ia menjadi orang kepercayaan keluarga Mala. Ia pula yang sengaja membujuk Mala agar mau menerimanya menjadi pekerja di rumahnya.
Baru saja akan masuk, Mala sudah keluar dari rumah, dan tersenyum manis pada Mahes. Membuat pemuda tampan itu berdesir hatinya.
__ADS_1
"Mahes, aku mau berlatih jalan lagi."
"Siap nona." Mahes menempelkan ujung jarinya di pelipisnya.
"Ah, jangan terlalu lebay seperti itu." Mala mendaratkan sebuah cubitan di paha Mahes. Sontak saja hal itu membuat Mahes kembali berdesir hatinya.
Mala mengulurkan tangannya pada Mahes. Lalu ia pelan-pelan bangkit dari duduknya. Lalu diam sebentar sambil menghirup nafas, mengumpulkan kekuatan. Barulah kakinya bergerak satu persatu dengan langkah lambat.
Mahes dengan sigap menangkap tubuh Mala ketika ia hampir jatuh saat berlatih. Keduanya saling beradu pandang dan menyunggingkan senyum.
"Maaf Mahes." ucap Mala merasa tak enak, karena berulang kali jatuh.
"Kenapa harus minta maaf? Namanya juga baru belajar. Tugas dan kewajiban saya adalah untuk memastikan non Mala baik-baik saja bukan?"
Mala tersipu malu tapi juga bahagia mendengar jawaban Mahes.
"Non Mala haus tidak? Biar saya ambilkan minum." tawar Mahes, karena ia bisa melihat keringat sebesar biji jagung memenuhi wajah Mala. Gadis itu pun mengangguk.
Tanpa Mahes dan Mala sadari, Doni melihat apa yang telah mereka lakukan. Laki-laki itu mengepalkan tangannya karena tak sadar.
Dengan langkah yang memburu ia nyelonong masuk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pamit pada sopir.
Ketika ia melihat Mala dari dekat, ia terkejut melihat bekas luka di wajah Mala perlahan memudar. Kulit putih mulusnya perlahan terlihat. Dan jika bekas luka itu sudah hilang, kecantikannya akan kembali bersinar.
__ADS_1
Mala kaget ketika melihat suami tak tahu dirinya tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Mau apa kamu kesini?" sentak Mala kasar. Ia ingin segera masuk rumah, tapi tangannya serasa tidak kuat untuk menggerakkan roda ban.