
"Hei, siapa kamu? Berani-beraninya menyentuh istri saya." dengan bersungut-sungut kesal, Doni menarik kerah baju Mahes.
"Saya Mahes." balas Mahes singkat.
"Saya tidak tanya nama kamu. Tapi apa jabatan kamu sehingga berani menyentuh istri ku."
"Berhenti memarahi asisten ku." tegas Mala.
"Mahes, saya ingin masuk ke dalam."
"Baik nona." Mahes mendorong kursi roda wanita itu.
Namun Doni menyenggol tubuh Mahes hingga terhuyung. Dan mengambil alih mendorong Mala.
"Apa kamu tuli? Aku ingin Mahes yang mendorong ku, bukan kamu." Doni terperangah dengan ucapan ketus Mala.
Seumur hidup Mala selalu bersikap lemah lembut, tapi kenapa sekarang berubah menjadi ketus seperti itu.
"Sayang, jangan marah-marah seperti itu. Aku takut wajah mu jadi makin ancur."
Mala terkekeh membuat Doni menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu justru tertawa sayang? Apa kamu suka wajah mu jadi semakin jelek?"
"Aku sangat bersyukur dengan wajah hancur dan jelek ku ini mas. Karena aku bisa menilai, siapa-siapa yang tulus menyayangi ku. Dan hal itu tidak aku dapati pada dirimu. Mahes, ayo kita masuk."
Mahes menyenggol lengan Doni, hingga ia terhuyung. laki-laki itu tersenyum sinis bisa membalas perbuatan Doni tadi.
"Sayang, sayang." Doni mengejar Mala yang baru saja sampai teras.
__ADS_1
"Mala, aku sangat pusing dan bingung. Harus bagaimana lagi cara ku membuat mu percaya."
Mala memberi instruksi pada Mahes untuk berhenti. Wanita itu menatap Doni tegas tanpa membuka kaca matanya, sambil menyunggingkan senyum sinis di balik maskernya.
"Kamu pengen tahu caranya agar tidak pusing dan tidak bingung memikirkan ku?"
Doni pun mengangguk dengan serius, sambil menatap wajah Mala yang buruk rupa. Karena bekas kecelakaan masih terlihat jelas menutupi wajahnya yang sebenarnya cantik.
Wajah putihnya di penuhi luka yang menghitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Bagai wajah yang dipenuhi banyak lintah.
Meskipun hanya terlihat sedikit, Doni bergidik ngeri melihat hal itu. Tapi demi uang, ia rela menahan rasa mualnya.
"Mana kunci mobil mu." Mala menengadahkan tangannya dihadapan Doni.
"Ku_kunci mobil? Untuk apa sayang?" Doni bertanya dengan sedikit gemetar.
"Di tukar dengan yang baru?" ulang Doni. Wajahnya kali ini terlihat sumringah. Dan Mala hanya mengangguk.
Tanpa ragu Doni menyerahkan kunci mobilnya pada Mala.
"Terima kasih."
"Aku yang berterima kasih padamu sayang. Karena mau mengganti mobilnya dengan yang baru." ucap Doni dengan senyum sumringah.
Sementara Mahes yang mendengar percakapan mereka merasa dongkol dan ingin menonjok wajah Doni. Karena laki-laki yang ada dihadapannya itu seperti tidak tahu diri.
Apalagi Mala justru bersikap demikian. Ia tidak tahu apa isi kepala majikannya. Yang jelas ia berdoa agar majikannya tidak salah langkah.
"Iya sama-sama. Sekarang silahkan kamu pergi dari rumah ku." ucap Mala santai.
__ADS_1
"Apa? Pergi dari sini? Kenapa kamu malah mengusir ku sayang? Aku kan ingin berada di dekat mu selalu. Lagian aku pulang naik apa? Kuncinya kan ada sama kamu." Doni terkekeh kecil.
"Sayangnya aku tidak ingin berada di dekat mu. Jadi silahkan kamu pergi dari rumah ku."
"Lho, mobilnya?" Doni bingung dengan jalan pikiran Mala.
'Apa otak Mala juga geser gara-gara kecelakaan itu?' batin Doni.
"Aku ingin mengganti mobil ku dengan yang baru. Karena tidak sudi memakai mobil bekas mu. Aku takut jika kamu pernah melakukan maksiat di dalam mobil ku, dan aku juga ikut menanggung dosa mu."
Tanpa Doni ketahui, bahwa di dalam mobil yang ia pakai terdapat camera cctv. Dan Mala tahu perbuatan tidak senonoh yang suaminya lakukan di dalam mobilnya.
Mahes tersenyum puas mendengar ucapan Mala yang sangat menohok hati. Wanita itu mampu bermain cantik membalas perselingkuhan suaminya.
Mahes juga sangat kagum pada Mala, karena wanita itu sangat kuat dan tegar di tengah cobaan yang menimpa dirinya.
"Sayang." Doni meraih tangan Mala, tapi wanita itu segera menarik tangannya cepat sebelum laki-laki itu sempat menyentuhnya.
"Jangan berani-berani nya menyentuh ku. Karena saat kamu duduk di pelaminan, aku tidak lagi menganggap mu sebagai suami ku. Sekarang silahkan pergi dari rumah ku, dan tunggu saja surat cerai kita di urus oleh asisten ku."
"Apa! Cerai?" Doni membulatkan matanya tak percaya, namun Mala mengangguk dengan pasti untuk meyakinkan laki-laki dihadapannya.
"Sayang, cerai itu perkara yang paling di benci Allah. Kamu tidak boleh bicara seperti itu." Doni semakin mendekati Mala. Tapi wanita itu bergerak seolah tak ingin di dekati.
"Berhubungan badan tanpa ikatan pernikahan juga di benci Allah. Apa kamu lupa hal itu? Atau justru tidak tahu?"
Hati Mala semakin membenci Doni. Karena laki-laki itu membawa nama agama untuk menghalalkan perselingkuhannya.
Sedangkan Doni melongo melihat Mala yang selalu membalas ucapannya, sehingga membuatnya kalah telak.
__ADS_1