Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
109. Saling memikirkan


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Doni pada Siska. Karena laki-laki itu melihat dada Siska yang naik turun tidak beraturan.


"Tidak. Mas, aku ingin segera pulang. Tapi kamu belum belanja sayuran. Bagaimana ini?" lirih Siska merasa tidak enak.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku antarkan kamu pulang. Toh, sayur kemarin juga masih ada sisa sedikit." Doni tersenyum lalu melajukan mobilnya, meninggalkan pelataran pasar.


Sepanjang perjalanan, keduanya saling terdiam, dengan pikiran masing-masing yang saling berkelana. Siska tiba-tiba merasa takut, jika bos nya mengetahui masa lalu dirinya yang kelam.


Gadis itu begitu takut jika bos nya tidak terima dengan masa lalunya, terus dia akan di pecat. Habislah sudah. Ia harus mencari pekerjaan lain. Padahal dulu untuk mencari pekerjaan saja, rasanya begitu susah sekali. Siska pun mengusap wajahnya frustasi.


Sedangkan Doni yang berada disampingnya, hanya melihat saja, tanpa berani bertanya. Dalam hati laki-laki itu juga penuh dengan tanda tanya.


Siapa laki-laki sangar yang berani mendekati Siska?


Ada hubungan apa diantara keduanya?


Kenapa laki-laki itu sampai menyebut urusan ranjang di tempat umum? Seperti tidak tahu malu.


Apa maksudnya juga dengan pelanggan jasa.


Apakah Siska seorang...


'Ah, tidak-tidak. Tidak mungkin Siska perempuan seperti itu.' tanpa sadar, Doni menggelengkan kepalanya kuat. Berusaha menolak pikiran buruk yang ada dalam pikirannya.


"Sis. Sudah sampai." ucap Doni, ketika sudah tiba di depan kost-kostan Siska. Gadis berbadan aduhai itu pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, mas. Sudah diantarkan sampai depan kost-kostan. Sekali lagi aku minta maaf, sudah membuat kekacauan hari ini."


"Tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Jika kamu ada masalah, sebaiknya cerita. Aku bisa jadi teman curhat mu. Tenang saja, aku bukan ibu-ibu tukang ghibah. Rahasia mu aman bersama ku."


"Iya, mas. Tenang saja. Aku tidak apa-apa kok." Siska berusaha menyunggingkan senyum, sebelum turun dari mobil.


Siska berjalan dengan gontai memasuki pelataran kost-kostan nya. Masih jelas dalam ingatannya, tentang apa yang dilakukan mantan pelanggan nya tadi.


Ia sudah berniat berubah, selama ini juga tidak ada apa-apa. Hidupnya terasa tenang dan damai. Tapi kenapa tadi ia harus bertemu dengan orang-orang yang buruk dalam masa lalunya.


,Hal itu membuatnya semakin takut untuk menjalani kehidupan ke depannya nanti. Bagaimana kalau tidak hanya laki-laki tadi yang bertemu dengannya. Karena pelanggan jasanya begitu banyak sekali.


"Sis." suara mbak Ima mengejutkan Siska yang tengah hanyut dalam pikirannya.


"Kenapa pulang-pulang wajah mu lesu dan masam seperti itu? Biasanya juga ceria. Apa ada masalah dengan pekerjaan mu?"


"Tidak, mbak." Siska menggelengkan kepalanya lemah.


"Lalu?" cerca mbak Ima lagi.


Siska menghela nafas panjang. Ia malu untuk bercerita dengan wanita baik-baik seperti mbak Ima.


"Kalau ada apa-apa cerita ke mbak, Sis. Mungkin mbak ngga bisa bantu, tapi setidaknya mbak bisa ikut mendoakan. Apalagi kita ini sama-sama tidak memiliki sanak keluarga. Jadi tidak ada salahnya kita saling mencurahkan masalah kita. Agar hati kita tenang, karena masih merasa memiliki saudara."


Ucapan mbak Ima begitu menyejukkan hati Siska. Ia merasa sangat beruntung. Di kehidupannya yang sekarang, masih dipertemukan dengan orang-orang yang baik seperti Doni dan mbak Ima.

__ADS_1


Tapi hal itu semakin memupuk rasa takutnya, jika keduanya mengetahui rahasia terbesarnya. Yaitu dia mantan seorang wanita penghibur.


"Kapan-kapan aku akan cerita ke mbak. Sekarang aku mau mandi dulu ya mbak. Karena badanku rasanya sangat capek."


Siska sengaja beralibi. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, sambil memijit bahunya sendiri.


"Baiklah. Janji lho ya." Mbak Ima tersenyum memaksa. Siska pun membalas dengan senyuman dan mengiyakan.


"Oh iya, aku hampir lupa. Besok siang, bisa tidak pesan makanan nya. Nasi ayam crispy geprek dua ratus porsi


Setelah itu, Siska segera masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia melempar tas nya, lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya.


Matanya menatap langit-langit kamar, sambil menghirup nafas dalam-dalam. Terus saja ia mengingat kejadian tadi. Seolah hal tadi benar-benar sudah terpatri dan tidak bisa dihapus dalam ingatannya.


Cukup lama ia termenung, hingga akhirnya ia justru ketiduran dan tidak jadi mandi. Bahkan ia juga belum sempat membuka amplop gaji yang diberikan Doni untuknya.


Sedangkan di tempat lain, setelah sampai rumah dan membersihkan diri, Doni merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Pikirannya juga menerawang jauh, memikirkan tingkah Siska yang tidak seperti biasanya. Hingga pikiran buruk soal gadis itu terus melintas di kepalanya.


"Meskipun badannya terlihat aduhai, bukan berarti Siska wanita seperti itu." tegas Doni pada dirinya sendiri.


"Tapi, jika dulu Siska wanita seperti itu, kenapa memangnya? Yang penting sekarang dia baik-baik saja dengan ku."


"Lhololoh, kenapa aku jadi memikirkan karyawan ku sendiri sih? Ini, tidak benar! Lebih baik aku tidur saja." Doni menutup wajahnya dengan bantal. Berharap bisa melupakan Siska.

__ADS_1


__ADS_2