
"Bu, sudah. Jangan main gebrak etalase. Kalau rusak kita bisa di suruh untuk ganti rugi. Sayang kan uangnya?" lirih Doni tepat di telinga ibunya.
"Biar saja, ibu tidak takut. Masa ibu beli emas mahal-mahal cuma di beli murah." balas Bu Mirna dengan nada sumbang, karena masih jengkel dengan karyawan toko emas tersebut.
"Ada yang bisa kami bantu?" suara bass seorang laki-laki yang berpenampilan rapi, memakai setelan jas berwarna hitam, menghampiri Bu Mirna dan Doni. Laki-laki itu tampak tegas, dan penuh wibawa.
"Pak, saya dulu beli emas di sini. Dan ini saya mau jual disini juga. Tapi kenapa di potong banyak sekali dari harga sebelumnya? Bapak itu sengaja cari untung yang banyak ya. Biar cepat kaya? Dasar, jadi orang kok mata duitan banget. Saya sumpahin toko emas kamu bangkrut, dan perutmu gendut seperti orang hamil sembilan bulan. Karena makan uang haram." cerocos bu Mirna panjang lebar.
"Memang sudah peraturan seperti itu bu. Kenapa kami kenakan potongan saat penjualan? Karena nilai emas mengalami penyusutan. Kadang warnanya sudah memudar karena setiap hari di pakai. Atau bisa rusak, seperti patah. Surat kuitansinya hilang. Sehingga membuat nilai emasnya berkurang. Jika ibu tidak mau menjual emas di toko ini, kami juga tidak masalah."
"Halah, karyawan dan bos nya sama saja." Bu Mirna mencibir.
Semua pengunjung geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bu Mirna yang tak tahu malu itu. Sedangkan Doni garuk-garuk kepala yang tak gatal, merasakan sikap ibunya yang kelewatan.
"Pokoknya saya minta dibeli dengan harga sama seperti dulu saat saya beli di sini. Titik." Bu Mirna melipat tangan di depan dada dengan sikap angkuhnya. Tak peduli jika tiap pasang mata memperhatikannya sambil mengacungkan handphone, karena tengah merekam aksi itu.
Suara Bu Mirna yang keras bagai kaleng bekas, terdengar oleh satpam yang berjaga di depan. Keduanya segera menghampiri.
"Security, bawa ibu ini. Dia sudah buat keributan di sini." ucap manager sambil menunjuk Bu Mirna.
Dengan sigap security itu membekuk tangan Bu Mirna. Tapi perempuan setengah baya itu justru memberontak dan berteriak kencang.
Pengunjung yang sejak tadi menyaksikan itu berusaha menahan tawa. Dan tetap menyelesaikan perekamannya.
__ADS_1
"Tolong lepaskan ibu saya pak." ucap Doni sambil melepaskan tangan security yang memegangi lengan Bu Mirna. Tapi pegangan security itu justru bertambah kuat.
"Saya akan menyuruh security untuk melepaskan anda. Asal jangan buat keributan di sini." tegas manager.
"Iya pak. Iya." balas Doni cepat.
"Security, lepaskan ibu itu."
Bu Mirna mengibaskan tangannya lalu melipatnya di depan dada dengan angkuh. Padahal manager sudah berbuat baik padanya.
"Ayo Bu, kita pergi dari sini." bisik Doni sambil memegang lengan ibunya. Ia berusaha membimbing ibunya keluar toko.
Mereka berjalan menyusuri deretan toko yang melayani jual beli emas. Satu persatu mereka masuki, dan penawarannya justru lebih murah dari pada toko awal tadi.
"Ya sudah Bu, apa boleh buat. Kita jual ke toko pertama tadi saja."
"Doni, apa serius, sudah tidak ada jalan lain untuk melunasi hutang? Ibu belum rela kalau harus menjual seluruh perhiasan ibu."
Doni menghela nafas kasar. Berulang kali ia harus mendengarkan pertanyaan yang sama, yang keluar dari mulut ibunya.
"Hanya ini Bu, satu-satunya jalan yang paling cepat."
Giliran bu Mirna yang menghela nafas panjang. Lalu keduanya kembali memasuki toko yang pertama tadi.
__ADS_1
Beberapa pengunjung dan karyawan yang tadi melihat pertunjukan tadi, kembali menoleh ke arah bu Mirna dan Doni, saat keduanya memasuki toko.
"Nih mbak, saya jual semua perhiasan saya disini karena kepepet." Bu Mirna menyodorkan seluruh perhiasannya pada karyawan yang tadi melayaninya.
Setelah semua di cek, tak lama kemudian karyawan itu menyodorkan uang pembayaran pada Bu Mirna. Tentunya setelah di hitung dan di teliti dengan seksama.
Bu Mirna kembali menghitungnya, sebelum memasukkan uang itu ke dalam tas. Dan berlalu pergi keluar toko tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih sedikit pun.
Karyawan yang melayaninya tadi hanya bisa geleng-geleng kepala, merasakan kelakuan absturd Bu Mirna.
"Don, mampir jajan dulu yuk. Ibu lapar nih." cicit bu Mirna sembari memegang perutnya yang buncit. Karena memang badannya gempal.
Doni langsung menyetujui permintaan ibunya. Karena perutnya juga terasa lapar.
Tal jauh dari toko emas tadi, ada sebuah kedai makan yang ramai pembeli. Keduanya pun tak ragu untuk melangkahkan kakinya ke kedai itu.
Setelah memesan makanan, keduanya duduk di luar menghadap ruas jalan yang sangat ramai oleh kendaraan yang melintas.
"Don, sebaiknya kamu buka toko emas saja deh. Tuh, dari tadi toko emas yang kita masuki selalu saja ramai pembeli. Biar kita juga bisa cepat kaya. Dan kalau ibu sewaktu-waktu bosan, bisa gonta-ganti perhiasan." bu Mirna menunjuk toko emas tadi dengan menggunakan kipas nya sebentar, lalu kembali mengibaskan kipasnya lagi.
"Iya Bu." balas Doni singkat sambil memainkan handphonenya.
Semua permintaan ibunya hanya boleh di jawab dengan kata 'iya'. Jika tidak ingin beradu mulut dengannya.
__ADS_1
"Don, Don, i_itu bukannya Siska?" Bu Mirna menunjuk seseorang di seberang jalan, yang baru saja keluar dari mobil dengan kipasnya, sedangkan tangan satunya menepuk bahu putranya berulang kali.