Suami Tak Tahu Diri

Suami Tak Tahu Diri
99. Nama yang sama


__ADS_3

"Sayang, kita mampir ke apotik beli susu hamil yuk. Bagaimana pun juga kamu juga harus banyak mengonsumsi susu, vitamin, buah sayur dan banyak lagi lainnya. Agar kamu dan bayi kita semakin sehat." ajak Mahes. Mala pun menatap suaminya sambil tersenyum.


"Baiklah, aku terserah dengan kamu saja, mas."


Mobil akhirnya berbelok di sebuah apotik.


"Kamu, tunggu disini ya. Karena aku ngga mau kamu terlalu kecapekan. Biar aku saja yang masuk."


"Ya ampun, mas. Kamu terlalu posesif deh. Aku kan bisa jalan sendiri. Hanya sampai kesitu, tidak akan membuatku kecapekan. Tapi terima kasih perhatiannya ya."


"Nah, begitu dong. Ya sudah aku keluar dulu. Kamu tunggu disini."


Mala menganggukkan kepalanya. Dan Mahes pun segera turun.


Mala benar-benar senang sekaligus beruntung, karena memiliki suami yang sangat pengertian. Walaupun sedikit posesif. Tapi itu juga demi kebaikannya.


Tak berapa lama kemudian, Mahes kembali ke mobil sambil membawa satu dus. Yang sudah bisa dipastikan isinya susu. Mala geleng-geleng kepala melihat hal itu.


"Mas, kamu mau nyuruh aku minum susu atau jualan? Kok banyak banget beli susunya." semprot Mala, ketika suaminya sudah masuk ke mobil. Mahes tersenyum dan memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Soalnya varian rasanya, beda-beda. Daripada bingung- bingung lebih baik aku kompliti varian rasanya. Biar kamu tidak bosen juga."


"Ya sudah. Nanti kalau aku tidak habis, kamu bantuin menghabiskan ya. Bukankah anakku anakmu juga."


"Tidak janji ya." balas Mahes sambil meringis. Lalu mengemudikan mobilnya.


**

__ADS_1


Sementara itu, di siang yang sama, namun berbeda tempat. Siska tengah mencari pekerjaan dengan berjalan kaki.


Ia terus menyemangati dirinya sendiri. Bahwa suatu saat akan mendapatkan pekerjaan yang halal. Ia tak patah semangat dan terus berdoa.


Karena terik matahari sudah semakin menyengat. Akhirnya Siska beristirahat terlebih dahulu. Kali ini ia beristirahat di depan masjid.


Melihat orang-orang yang sholat, hatinya tergetar untuk ikut melaksanakan sholat. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya ia hanya melihat dari luar saja.


Setelah sholat dhuhur selesai, satu persatu jama'ah masjid keluar. Kini pandangan Siska beralih pada sebuah kedai ayam goreng crispy, yang ada di seberang jalan. Tapi kedai itu baru buka separuh.


Hati Siska tergelitik untuk mendekat. Akhirnya dengan mengumpulkan semua keberanian, ia melangkah mendekat.


"Permisi. Selamat siang." ucap Siska sambil mengetuk pintu rolling door.


Kepalanya celingak-celinguk menyapu ke setiap sudut ruangan. Dan terlihat laki-laki yang juga sama celingukan mencari asal suara. Mereka pun saling beradu pandang. Laki-laki itu segera mendekat ke arah Siska.


"Em, saya mau melamar kerja, mas. Apa saja saya mau lakukan. Asalkan halal."


"Serius, mbak?"


"Iya." Siska menganggukkan kepalanya cepat.


"Saya ini baru mau buka kedai ayam, mbak. Jadi memang butuh karyawan yang mau melakukan apa saja. Istilahnya serabutan lah. Karena memang baru banget bukanya, saya mungkin hanya bisa menggaji lima puluh ribu."


Air mata Siska luruh seketika. Membuat laki-laki dihadapannya merasa tidak enak. Ia berpikiran jika gaji yang diberikan terlalu kecil.


Padahal Siska menangis karena terharu. Selama sebulan mencari kerja dengan berjalan kaki, akhirnya ada yang bersedia menerimanya.

__ADS_1


"Maaf ya, mbak. Jika mungkin gaji yang saya tawarkan terlalu sedikit. Mungkin mbak bisa cari kerja di tempat lain kalau mau." Siska menggelengkan kepalanya cepat.


"Bagi saya gaji segitu juga sudah banyak, mas. Terima kasih sudah mau menerima saya." Laki-laki dihadapannya tersenyum lega.


"Kapan saya mulai kerja mas?" tanya Siska terdengar bersemangat.


"Besok kembalilah kesini, am delapan pagi. Dan pulang pukul empat sore. Untuk pakaian, bebas."


"Oh, baiklah. Saya pasti akan datang. Kalau boleh tahu, mas sedang apa? Saya bersedia bantuin. Biar besok waktu kerja, saya tidak kaget."


"Baru menyiapkan bumbu-bumbu. Biar besok tidak buru-buru."


"Saya bantu ya, mas. Tidak perlu dibayar untuk hari ini. Saya ikhlas, karena mas sudah menolong saya."


"Em, silahkan kalau begitu." laki-laki itu mempersilahkan Siska masuk.


"Oh iya. Nama mu siapa? Kita belum berkenalan. Kenalkan, saya Doni." laki-laki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Sementara Siska cukup terkejut, dan menatap laki-laki itu serius.


'Kenapa harus ada nama Doni yang banyak di dunia ini?' batin Siska.


"Oh maaf, mbak. Tadi saya lupa belum cuci tangan." laki-laki itu segera menarik tangannya kembali sambil meringis. Tapi Siska justru menyerobot tangannya dengan lebih cepat.


"Nama saya Siska, mas." ucapnya dengan cepat sambil menyunggingkan senyum.


"Maaf, saya tadi hanya sedikit syok saja. Kenapa ada orang yang memiliki nama sama di dunia ini. Termasuk nama saya, yang juga pasti pasaran." imbuh Siska, dan membuat keduanya tergelak.


"

__ADS_1


__ADS_2