
"Lhoh, kok mbak Siska balik kesini lagi sih." gumam seorang karyawan yang menyenggol lengan Siska tadi.
"Mir, tolong minggir. Aku mau duduk." ucap Siska.
"Mbak, kakimu kan baru sakit. Kenapa masih nekad kerja? Harusnya kan di rumah saja." balas Mira.
"Selama aku bisa kerja, aku akan tetap kerja Mir."
"Mir, tolong buatkan kami jus sirsak ya." ucap Doni yang baru saja datang menghampiri Siska dan Mira yang tengah saling tatap. Karena setelah mengantar Siska tadi, Doni pergi ke toilet.
"Baik, mas." Mira bangkit dari duduknya dengan ogah-ogahan.
Mira memang adalah seorang karyawan yang diterima setelah Bu Mirna. Ia iri hati dengan Siska, karena menganggapnya mendapat perhatian yang lebih dari bos nya.
Apalagi sekarang ia justru di suruh untuk membuatkan minuman untuk Siska. Maka bertambah pulalah rasa irinya.
Sementara Siska sendiri, setelah kembali ke tempat duduknya, ia bekerja sebagaimana biasanya. Doni yang memperhatikan wajah Siska mengulas senyum tipis.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, mas?" Siska tidak suka di pandang seperti itu oleh atasannya.
"Tidak apa-apa. Biar kamu sadar diri, kalau aku sebenarnya mencintaimu. Tapi kamu tidak pernah memberi peluang untukku."
__ADS_1
Siska menghela nafas berat, jika sudah menyangkut soal hati. Cita-citanya menjadi janda seumur hidup yang bahagia sepertinya bisa goyah karena Doni selalu merayunya.
"Mas, ini ditempat kerja. Jangan bicara seperti itu, aku tidak enak didengarkan oleh teman-teman yang lain."
"Ditempat kerja tidak boleh, di kost mu juga tidak boleh. Itu artinya kamu mengajakku keluar untuk makan malam sekalian melamar ku kan? Okay, aku akan melakukannya."
"Mas!"
"Tolong, Sis. Sebelum kamu menolak ku berulang kali seperti ini, kamu mau ke dokter untuk berkonsultasi. Agar semua jelas dan kamu bisa tenang menerima ku."
"Baiklah, aku akan ke dokter untuk berkonsultasi mas." lirih Siska, setelah terdiam sekian menit.
"Alhamdulillah, semoga hasilnya semua baik-baik saja. Agar kamu juga mau menerima ku. Oh, iya. Mira kenapa lama sekali ya buat minumannya? Aku tinggal ambil handphone ku di mobil ya. Nanti minumannya suruh taruh disini dulu saja. Sama tolong bilang ke dia, selama Bu Mirna tidak masuk, biar dia yang mencuci piring, gelas dan peralatan kotor lainnya ya."
Setelah berkata seperti itu, Doni berlalu pergi keluar. Dan tak berselang lama, Mira datang menghampiri Siska. Ia meletakkan dua gelas jus dengan sedikit keras, hingga tumpah.
"Mira, kenapa kamu meletakkannya dengan keras? Tumpah kan jadinya." Siska mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap gelas, lalu meja yang terkena tumpahannya.
"Kita disini cuma karyawan, tidak usah protes seperti itu."
"Astaghfirullah, Mir. Aku cuma memberitahu mu, jika tidak mau ya sudah. Resiko yang menanggung juga kamu sendiri."
__ADS_1
"Jadi, kamu mau mengadukan hal ini pada mas Doni?" nada suara Mira mulai meninggi.
"Aku bukan tukang adu domba. Tapi mas Doni akan mengetahuinya sendiri cepat atau lambat. Oh iya, mas Doni juga titip pesan untuk ku. Katanya selama Bu Mirna sakit, kamu di suruh mencuci gelas dan piring kotor."
"Apa! Mencuci piring kotor. Pasti kamu kan yang membujuk mas Doni?" Mira menuding wajah Siska dengan tatapan tajam.
"Kenapa hatimu buruk sekali? Selalu berprasangka seperti itu padaku. Memangnya aku ada salah apa sama kamu?"
"Salah kamu adalah, karena kamu tidak mau rolling pekerjaan. Menunggu kasir melulu. Apa kamu sengaja ingin mencuri uang penjualan?"
Siska tak habis pikir dengan tuduhan yang diucapkan Mira padanya. Jangankan mencuri, di beri gaji yang lebih saja, ingin ia kembalikan. Karena sadar diri pekerjaan nya terlalu mudah untuk ia kerjakan, tapi mendapat gaji yang besar.
"Mira kalau tidak mau mengerjakan, ya bilang saja ke mas Doni langsung. Karena dia bos-nya. Dia yang menyuruhmu, bukan aku. Aku hanya sekedar menjalankan perintah. Semisal aku yang disuruh untuk mencuci piring atau membersihkan toilet, aku juga mau. Yang penting semua itu halal untuk aku kerjakan."
Mira menyorot Siska dengan tajam, hingga tangannya terkepal kuat. Lalu memutar badannya dan berlalu ke dapur, sambil menghentakkan kakinya.
'Mira Mira, kenapa kamu seperti aku dulu. Ingin pekerjaan yang enak dan dapat gaji banyak, tapi tidak mau repot. Semoga kami bisa berubah. Agar kita bisa sama-sama memajukan kedai ini.' batin Siska sambil menatap kepergian Mira.
"Sis, kok melamun?" ucap Doni yang mengejutkan Siska.
"Eh, maaf mas." Siska menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Lhoh, kenapa ini minumannya tidak penuh? Doni menunjuk minuman yang ada di hadapan Siska.
Gadis itu bingung, sebenarnya selama ini ia selalu menutupi kesalahan dan kinerja Mira yang buruk. Tapi semakin ditutupi, Mira semakin menjadi jadi.