
Sesampainya di dalam kedai, pasangan Mahes dan Mala memesan makanan. Untuk di makan di tempat, dan juga untuk acara syukuran.
Setelah itu, keduanya duduk lesehan diluar. Siska dan Doni sendiri lah yang mengantarkan pesanan untuk mereka.
Pemilik kedai itu juga ikut makan bersama dengan Mahes dan Mala. Sambil makan, mereka bercakap-cakap. Terlihat cukup akrab, tidak seperti orang yang pernah menghadapi masalah bersama.
Dalam hidup, memang dibutuhkan suatu keikhlasan dalam menerima takdir yang sudah digariskan oleh sang Kuasa. Agar kita bisa lebih nyaman dan tenang dalam menjalani kehidupan.
Dalam hidup juga dibutuhkan suatu perubahan yang signifikan. Agar kita tidak termasuk hamba-Nya yang merugi.
**
Akhirnya, hari yang dinantikan tiba.
Pada hari Minggu, Mahes dan Mala menggelar sebuah acara syukuran untuk putra pertamanya.
Kesibukan telah terjadi sejak kemarin sore. Kediamannya sudah dihias dengan semenarik mungkin.
**
Sedangkan di kedai, kesibukan juga tengah terjadi sejak dini hari tadi. Siska dan Doni sedang menyiapkan semuanya berdua saja. Karena karyawannya tentu belum datang.
Setelah selesai, pasangan suami-istri itu mengantar makanan itu ke rumah Mala.
Keduanya tampak takjub, ketika melihat kediaman Mala yang dihias dengan begitu indah.
Setelah menekan bel dua kali, pintu rumah utama terbuka. Tampak Mala sendiri yang membukakan pintu untuk tamunya.
"Mbak, kami mu mengantarkan pesanannya." Ucap Doni.
"Oh iya. Silahkan masuk. Saya panggil asisten rumah tangga ku dulu ya, biar mereka juga bantuin. Dan kamu, duduk dulu saja Sis." Pandangan Mala beralih dari Doni ke Siska.
"Tidak apa-apa, mbak. Sekalian olahraga juga kok."
**
__ADS_1
Kini semua makanan telah dimasukkan ke dalam rumah. Siska kembali ke mobil dan mengambil sesuatu. Lalu ia membawanya menuju ke dalam, dan menyerahkannya pada Mala.
"Mbak, titip ini ya, untuk baby Adam." Ucap Siska sambil menyerahkan kotak kado yang cukup besar.
"Ya ampun, Siska. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tidak repot, mbak. Saya ikhlas memberikannya, karena saya suka dengan anak-anak."
Baru saja dibicarakan, Mahes datang sambil menggendong baby Adam. Lalu ia duduk di sofa dengan istrinya.
"Hai, Adam." Sapa Siska dan Doni bersamaan.
Pasangan suami-istri itu menyunggingkan senyum, lalu meraih Adam dari pangkuan papanya. Ia mengayunkan baby Adam sejenak, dan mendudukkan dipangkuannya.
Terlihat bayi itu, meraih kotak kado yang ada diatas meja.
"Oh, kamu mau membuka kado dari om dan Tante ya?" Tanya Mala pada bayi kecilnya, dan bayi laki-laki itu terlihat menganggukkan kepalanya.
"Nanti dong sayang. Kalau om sudah pulang." Kekeh Doni.
"Kalian disini saja, mengikuti acara sampai selesai." Ajak Mahes.
"Ajaklah kesini." Ucap Mala.
"Bolehkah?" Tanya Siska, dan Mala pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kami akan pulang dulu. Dan kembali kesini bersama ibu."
**
Sesampainya di rumah, Siska berjalan cepat menuju ke kamar ibunya. Lalu menyampaikan pesan dari Mala.
"Benarkah? Mala mengundang ibu kesana?"
"Benar Bu. Ayo, segera siap-siap."
__ADS_1
Bu Mirna begitu berbinar, lalu bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju kamar mandi yang ada didalam kamarnya.
Begitu juga Siska yang keluar kamar, dan segera bersiap-siap.
**
Tak lama kemudian, keluarga Siska sudah siap. Siska dan Bu Mirna tampak rapi dengan mengenakan pakaian muslimah.
Sedangkan Doni mengenakan kemeja dan celana panjang. Pria itu melajukan mobilnya menuju kediaman Mala dan Mahes.
Saat ditengah perjalanan, Bu Mirna meminta berhenti sejenak di sebuah supermarket. Ia ingin membelikan kado untuk anaknya Mala.
Setelah mengelilingi toko, akhirnya ia menemukan sesuatu yang pas untuk kado. Kembali mereka melanjutkan perjalanannya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Mala.
Bu Mirna kagum melihat kediaman yang tampak dihias begitu indah. Tamu undangan juga sudah mulai berdatangan.
Mereka pun bersalaman dengan Mahes dan Mala yang berdiri di teras, untuk menyambut para tamu undangan.
"Kamu tampan sekali nak. Ini nenek bawakan kado untukmu." Ucap Bu Mirna, ketika melihat baby Adam duduk anteng dalam stroller.
"Terima kasih, bu. Seharusnya tidak perlu repot membawa seperti ini." Ucap Mala merasa tak enak.
"Ibu tidak merasa direpotkan. Justru ibu malah senang bisa memberikan sesuatu untuk putramu."
Setelah bercakap-cakap sejenak, rombongan Siska ikut berbaur dengan para tamu undangan.
Tamu undangan sudah memenuhi tempat acara. Tak lama kemudian acara itupun dimulai.
Satu persatu acara dilalui dengan hingar bingar dan penuh kegembiraan.
Bu Mirna merasa sangat bersyukur, kini hidup mantan menantunya itu terlihat sungguh sangat bahagia.
Andaikan ia masih menjadi ibu mertua Mala, belum tentu ia bisa melihat Mala segembira itu.
__ADS_1
'Ya Allah, semoga Engkau anugerahi Mala dan keluarganya kebahagiaan selalu. Begitu juga dengan Siska yang telah merawat ku. Dan semoga untuk almarhum anakku, Doni. Engkau tempatkan di surgamu ya Allah.' batin Bu Mirna. Tanpa sadar ia menitikkan air mata. Bergegas ia menghapusnya dan menyunggingkan senyum.
Sekian dulu ya, Mahes dan Mala menemani waktu luang kakak semua. Mohon maaf apabila ada salah kata. Jangan lupa mampir dikarya author yang lain.🙏😘