
"Baby untuk sementara apa kau mau tinggal di rumah Daddy dulu?"
"Kenapa by..ada apa?"
"Sayang dengarkan aku..dirumah ini ada seorang penghianat..aku tak mau dia melukaimu jika aku tak di sampingmu..tadi aku mengecek kamera tersembunyi di rumah ini yang tidak ada orang yang tau selain aku..aku menemukan bahwa seorang pelayan ternyata adalah mata-mata dari seseorang yang aku sendiri juga belum tau siapa...
Aku tak ingin kau dan twins kenapa-kenapa jadi apa kau mau tinggal di rumah Daddy dulu untuk sementara..setidaknya sebelum aku sendiri yang menghabisi nya kau tak boleh kembali ke rumah ini bila perlu tinggallah di rumah uncle Rey karena di sana jauh lebih aman"
"Hm..baiklah by..untuk sementara aku mau tinggal dengan Daddy dulu tapi bersamamu juga kan?"
Iya sayang aku tak mungkin meninggalkan mu sendirian..nanti twins rindu bagaimana?"
"Baiklah sebaiknya kita berangkat malam ini saja by..selagi pelayan tengah terlelap"
"Kau benar baby..baiklah aku bersiap-siap sebentar dan kau jangan kemana-mana"
"Iya by"
Bryan bersiap mengambil beberapa surat-surat penting dan menguncinya di brankas..kamar Bryan memiliki ruangan rahasia yang Via sendiri tidak tau..ruangan itu ada di dalam ruangan wardrobe.
Di dalam sana berkas-berkas penting milik Bryan termasuk data-data perusahaan dari jaman kakeknya..Bryan tak ingin ada sesuatu yang terjadi maka dari itu dia membuat ruangan tersendiri untuk menyimpan surat-surat penting nya.
Tak berapa lama kemudian Bryan telah kembali dengan sebuah tas ransel yang berisi laptop serta berkas-berkas nya yang tadi Robert bawa.
Tak lupa Bryan mengunci semua kamar termasuk ruang kerjanya semua kunci cadangan nya dia bawa agar tak terjadi yang tidak dia inginkan.
"Baby ayo..aku sudah siap"
"Ayo by"
Bryan menuntun Via dengan perlahan karena pencahayaan yang tak terlalu terang Bryan tak mau Via terpeleset atau tersandung sesuatu maka dari itu dia menuntun dan menggandeng Via agar aman.
Sampailah di luar gerbang..Bryan berpesan dengan penjaga gerbangnya agar tak memberitahukan kepergian nya pada siapapun termasuk para pelayan.
Penjaga gerbang itu menurut saja dia tau tuannya pasti ada sesuatu yang di sembunyikan karena sebelumnya tidak pernah main kucing-kucingan seperti ini.
Setelah kepergian Bryan sang penjaga gerbang kembali bersiaga..dia tetap seperti sebelumnya tak ada perubahan.
*
*
"Baby..baby..hey sayang sudah sampai"
"Enghhh ngantuk by"
"Iya sayang ayo bangun dulu kita masuk..nanti tidur lagi hm..aku nggak bisa gendong kamu sayang..bawaannya lumayan"
"Hmm baiklah"
Via dan Bryan keluar dari mobil..Bryan melihat Via yang benar-benar mengantuk merasa bersalah karena mengganggu waktu tidurnya juga waktu istirahat kedua anaknya.
Setelah masuk kedalam rumah tentunya di bantu pelayan yang sudah bersiap sadari tadi Bryan mengantarkan Via ke kamar yang ada di lantai bawah karena Bryan tak mau Via naik turun tangga.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar Bryan membaringkan Via yang memang sudah sangat mengantuk terlihat ketika dia menyentuh kasur matanya langsung terpejam dan meringkuk di bawah selimut.
*
*
"Jalankan rencana kita hari ini juga"
"......"
"Apaaaa..kemana mereka pergi?"
"....."
"Bodoh..kenapa bisa sampai kecolongan"
"......"
"Aku tidak mau tau kau harus bisa mencari kemana mereka pergi..tidak mungkin di rumah orangtuanya karena aku telah membayar seseorang untuk memantau kondisi kediaman taun Erick"
"....."
"Kau harus bisa membuat mereka kembali ke rumah itu dan menjalankan rencananya"
"......"
Sambungan telepon terputus..Terry begitu murka karena di saat dia akan menjalankan rencananya dia malah mendapat kabar bahwa Via dan Bryan pergi dari rumah entah kemana.
Terry melempar semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya..dia marah dan kesal karena rencana yang sudah dia rancang baik-baik harus gagal.
*
*
"Kau yakin Bryan akan melakukan ini?" tanya Erick yang sudah tau mengenai masalah anak dan mantunya
"Yakin dad.. Bry ingin Via aman selama masa kehamilannya dad.. Bry hanya ingin hidup tentram tanpa harus di bayang-bayangi musuh..kali ini Bry sendiri yang akan turun tangan dad"
"Baiklah dad akan bantu melacak siapa yang sudah berani ingin mencelakai putri dan calon cucu Daddy..tenang saja uncle Rey akan membantu mu"
"Terimakasih dad..Bry beruntung memiliki kalian"
"Sama-sama Bry kau juga anak Daddy"
Bryan dan Erick membahas mengenai rencana untuk mengurus siapa pelaku yang berniat ingin mencelakai mereka.
*
*
"Astaga Miley..aduh temanku dimana?"
"Hey jangan berisik kau mau kita ketahuan oleh mereka hah?"
__ADS_1
"Temanku di luar sana dan aku tidak tau bagaimana keadaannya"
"Tenang jangan panik..pikirkan cara bagaimana kita melumpuhkan mereka"
"Sialan..ini semua gara-gara kau"
"Kenapa aku?"
"Kau yang membuatku terjebak di sini huhh"
"Huh terserah kau saja..pegang ini"
Pria itu menyerahkan sebuah pistol pada Percy..mau tidak mau nekat tidak nekat mereka harus bisa melumpuhkan lawan jika tidak ingin banyak korban berserakan.
"Woahhh aku tidak percaya bahwa kau memiliki benda ini"
"Ck..jangan norak.. sudahlah kau bisa menggunakan nya tidak?"
"Hey jangan meremehkan ku tuan..lihatlah aksiku nanti"
"Ck..baiklah buktikan"
"Siapa takut"
Percy dan pria itu keluar dari toilet pria dengan perlahan sambil tetap waspada..melihat ke kanan dan kiri serta memastikan keadaan benar-benar kondusif.
"Hey sebentar..boleh kita berkenalan?"
"Aku rasa tidak perlu"
"Ck..setidaknya aku tau rekan perkelahian ku masa aku harus memanggil mu dengan sebutan hey,woy,kamu..kan tidak lucu"
"Huhh baiklah panggil aku Sean..kau?"
"Sean..nama yang bagus lumayan..oh aku Percy"
"Sudahkan?"
"Astaga begitu datarnya hidupmu tuan Sean"
"Tutup mulutmu dan cepat jalan"
"Ck..baiklah"
Percy berjalan di belakang Sean..dia juga waspada..ada kalanya dia slengean ada kalanya juga dia serius di saat genting seperti saat ini.
Sean mengangkat jarinya dan Percy mengerti kode dari Sean..dia berhenti dan bersiap..benar saja dua orang berjalan masuk kedalam toilet untuk mengecek apakah ada orang lain lagi.
Saat dua orang itu masuk Sean dan Percy bersembunyi di balik pintu toilet..di rasa keadaan cukup baik kini Sean dan Percy sama-sama menyerang dan saling adu otot tak terkecuali Percy.
Percy dengan lihai menghajar satu orang yang terlihat menjengkelkan dimata nya.. Sean juga memperhatikan Percy yang tengah menghajar musuhnya bagaikan menghajar sebuah bantal.
"Gadis yang pintar juga menarik" batin Sean.
__ADS_1