
Pagi itu di kediaman Erick tampak lebih ramai karena kedatangan Via dan Bryan..mereka menginap selama seminggu di sana..Via yang ingin dengan alasan baby yang memintanya.
Semua orang tampak geleng-geleng kepala melihat tingkah Via yang nyeleneh..seperti kebiasaan nya jika pagi maka Bryan dan Via akan melakukan tugas rutin mereka yaitu morning sickness.
Setelah selesai dengan urusan morning sickness nya mereka duduk di ruang keluarga dan bercengkrama dengan sesama anggota sambil sesekali melempar candaan.
"Bryan apa kau tak ke kantor nak?" tanya Nila pada sang menantu.
"Tidak mom.. kebetulan pekerjaan Bryan di kantor juga tidak banyak..nanti Robert juga akan mengantarkan berkas yang butuh tanda tangan Bry ke rumah"
"Begitu..baiklah apa kalian ingin ikut mommy berbelanja?"
"Belanja..Via mau eh baby mau" ucap Via beralasan.
"Baby atau mommy?" ledek Bryan.
"Ihhh baby yang mau by..beneran percaya deh" jelas Via meyakinkan.
"Hahaha sudah tidak apa..mau baby mau mommy ayo kita berbelanja" lerai Nila.
"Baiklah..siapa saja mom yang ikut?" tanya Bryan.
"Daddy,aunty Laura,dan uncle Rey"
"Baiklah..Bry siap-siap dulu mom..ayo baby"
Bryan dan Via bersiap-siap untuk ikut berbelanja dengan para orangtua..tidak apalah sesekali menghilangkan bosan.
*
*
" Bersiaplah untuk melakukan tugas mu nanti" ucap Terry.
"Ya..jangan mengingatkan ku lagi" jawab Marcus ketus.
"Terserah apa katamu..ingat jangan sampai gagal"
"Aku tau sialan"
*
*
"By baju baby nya lucu-lucu ya?"
"Iya bab..apa kau mau membelinya?"
"No by..masih lama"
"Baiklah"
Via mulai memilih dan melihat lagi barang-barang untuk calon anaknya yang begitu imut-imut di matanya..dia jadi tidak sabar untuk memborong semua yang dia lihat.
Di lain sisi seseorang yang tak lain adalah Marcus saat ini tengah bersiap untuk menjalankan rencananya.. jika waktunya sudah pas maka di saat itu juga dia mulai menjalankan perannya.
Dia masih mengamati targetnya siapa lagi jika bukan Bryan dan Via yang saat ini tengah memilih buah-buahan segar.
__ADS_1
Rey dan yang lainnya tengah mengekori istri masing-masing..jika tidak maka bisa di pastikan seluruh mall akan di borong oleh istri mereka.
"Astaga Laura sayang sudah sayang jangan kebanyakan..lagian di rumah hanya Gian yang menyukainya" ucap Rey mencoba memberi pengertian.
"Kenapa kau pelit sekali sih by..apa aku sudah tak berarti lagi di matamu hiks" ucap Laura mendramatisir keadaan.
"Astaga..sabar Rey sabar" batin Rey.
"Bukan begitu sayangku, cintaku,separuh jiwaku..jika kebanyakan di rumah juga tidak ada yang memakannya..Gian paling hanya memakan sedikit jadi sayangkan jika di buang-buang hm?"
"Begitu..kenapa tidak dari tadi sih huh"
"Sabar Rey sabar" batin Rey menyabarkan dirinya sendiri.
Setelah perdebatan kecil itu Rey dan Laura bergabung dengan Erick dan Nila..mereka berburu minyak goreng yang katanya sedang naik daun atau naik ke puncak gunung.
Sedangkan pasangan muda itu hanya memilih dan memilih buah beserta beberapa camilan yang Via sukai.
"By menurutmu apa aku boleh makan yang pedas?"
"Hmm..boleh tapi jangan berlebihan mengerti?"
"Begitu..hmm baiklah aku mau ini satu"
"Boleh baby ambil satu saja"
Setelah membayar di kasir Bryan dan Via memilih duduk di kursi tunggu di dekat toko kebutuhan dapur dan lain-lain.
Via duduk dengan satu cup jus jeruk dan satu piring cake strawberry..bumil lapar jadi dia merengek minta di belikan makanan pengganjal perut.
Di saat mereka tengah asik bercengkrama dari arah samping tampaklah seseorang yang beberapa waktu lalu pernah bersitegang dengan Bryan.
"Via" panggil orang itu yang tak lain adalah Marcus.
Bryan dan Via menoleh ke sumber suara dan ternyata benar si Mar muncul lagi..hiuhhh mengganggu suasana saja.
"Siapa?" tanya Via yang memang lupa.
"Astaga Via kau lupa padaku?"
"Ya"
"Aku Marcus Via teman satu agensimu dulu"
"Tidak kenal"
"Sombong sekali kau"
"Lalu?"
"Sialan"
"Jaga bicaramu brengsek" gertak Bryan tak suka dengan kata-kata Marcus.
"Wah ada suamimu rupanya..kalian memang cocok sama-sama sombong dan angkuh"
Via dan Bryan tak menanggapi mereka acuh selatan tak ada orang lain di sana selain mereka berdua.
__ADS_1
"By kau merinding tidak?"
"Merinding?"
"Iya tadi ada suara tapi tidak ada wujudnya.. angker sekali mall ini"
"Apa maksudmu sialan" geram Marcus mencoba meraih Via namun tertahan oleh tangan di belakang tubuh Marcus.
"Bicara apa kau bocah?" tanya Erick yang melihat anak mantunya di ganggu.
Marcus terkaget-kaget melihat Erick dan Rey ada di sana..sialan..kakinya lemas.. bisa di lempar kolam buaya kalau begini.
"Tu..tu..an..ma..afkan..sa..ya"
"Kau bilang apa tadi pada anakku?" tanya Erick dengan suara dingin penuh intimidasi.
"Saya..tidak..sengaja tu..an"
Puk..puk...
Erick menepuk-nepuk pundak Marcus yang gemeteran dengan perlahan namun mampu membuat Marcus meringis kesakitan.
"Lain kali jika aku melihatmu berada di sekitar anak mantuku kau tak akan bisa lepas dariku..paham anak muda?"
"Paham..tuan"
Marcus sekuat tenaga mencoba berdiri dengan tegap tapi lagi dan lagi gagal karena kakinya terlalu lemas..sialan kenapa hari ini dia begitu sial.
Rencana memancing emosi Bryan dan Via gagal malah bertemu langsung dengan Erick dan Rey..sungguh sial sekali.
Setelah kepergian Marcus kini mereka duduk bersama sambil memesan makanan untuk mengisi perut yang sudah meronta-ronta sejak berburu barang-barang kebutuhan rumah.
Bryan menyuapi Via dengan salad..bumil nya sedang malas melakukan apapun jadi mau tidak mau Bryan lah yang bekerja melayani bumil nya.
"Via jangan begitu nak..kasihan suamimu loh" tegur Nila.
"Apa sih mom..Via sedang malas ini juga maunya baby"
"Astaga jangan di jadikan alasan terus anakmu nanti dia ngambek kamu yang tersiksa loh"
"Nggak lah..baby kan sayang sama mommy iya kan sayang?"
"Huhhh terserahmu lah.. Bryan sabar ya?"
"Tidak apa-apa mom.. Bryan suka melakukannya"
"Menantuku benar-benar idaman setiap anak gadis.. seberuntung itu Via mendapatkan mu nak"
"Mommy terlalu memujiku"
"Mom baby nggak suka mommy muji-muji Daddy nya baby"
"Astaga..sudahlah bisa darah tinggi mommy"
Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan anak dan ibu itu..biarkan saja asal tidak jambak-jambakan saja.
Selesai dengan isi perut mereka memilih kembali ke rumah dan beristirahat karena bumil sudah merengek kelelahan jadi tidak ada yang berani membantah.
__ADS_1