
Bryan dan Via sudah berencana untuk mempersiapkan pernikahan mereka jauh-jauh hari sebelumnya.
Bryan sudah berdiskusi dengan Via tentang pernikahan mereka nanti..tentang konsep dan tema yang akan mereka bawakan nanti..Bryan ingin Via yang memilih konsepnya sendiri karena baginya pilihan Via juga pilihannya.
Erick dan Nila hanya ikut saja karena mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan ini pada sang anak yang akan menjalani biduk rumah tangganya sendiri.
"Jadi sudah berapa persen persiapan pernikahan kalian?" tanya Erick yang tengah duduk di depan mereka.
"Sudah berjalan hampir 70% dad" jawab Bryan mantap yang memang memantau sendiri persiapan pernikahannya.
"Bagus,Daddy bangga padamu Bryan"
"Terimakasih dad..oh ya masalah baju apa daddy dan yang lainnya mau seragaman saja atau punya keinginan sendiri mungkin?" tanya Bryan.
"Kita seragam saja Bry..samakan dengan pakain kalian" jawab Erick mantap.
"Baiklah biar nanti Bryan aturkan semuanya"
Obrolan mereka masih berlanjut masalah pernikahan..Via senang akhirnya dia bisa bersama pria yang dia cintai tapi ada rasa sedih juga ketika harus meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh.
Via tak menyesal memilih jalan hidupnya sendiri dia yang akan menjalaninya dia harus kuat bagaimanapun nantinya Bryan lah panutan dan pijakan nya.
__ADS_1
*
*
"Bodoh..tidak berguna..apa saja yang kau lakukan mengurus satu orang saja kau tidak bisa hahh"
"Aku sudah berusaha tapi memang dia yang tidak bisa di goda..aku sudah berusaha semampuku"
"Cih..ku pikir kau bisa menangani satu orang itu tapi ternyata mengecewakan..kerjasama kita batal kau cari jalan sendiri untuk mendapatkan hartanya karena aku akan mencari jalanku sendiri"
"Petter..kau tidak bisa seenaknya sendiri"
"Kenapa tidak bisa hm?"
"Hm..baiklah satu kali lagi jika kau gagal maka selamat tinggal honey"
"Ba..baik..lah"
"Sekarang layani aku..mood ku memburuk karenamu"
"Baiklah..dengan senang hati"
__ADS_1
Dan pertempuran panas pun terjadi di siang yang panas sepanas sepasang manusia yang kini tengah bergulat di atas ranjang itu.
*
*
Annie saat ini tengah berbaring di ranjang tapi bukan ranjang pada umumnya..rumah sakit..ya saat ini Annie berbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai macam selang di tubuhnya.
Gadis itu berbaring dengan begitu lemahnya sambil sesekali meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya..di sampingnya terlihat seorang perempuan yang juga usianya hampir sama dengan Annie.
"Annie apa kau butuh sesuatu?" tanya perempuan itu.
"Tidak" sahut Annie dengan lemah.
"Kau bodoh hiks..kenapa kau memaksakan diri begitu Annie hiks..kau tau kondisi tubuhmu belum cukup untuk mengeluarkan banyak tenaga tapi kau dengan bodohnya__hiks..hiks..huhuhuu"
Perempuan itu semakin terisak di sisi ranjang Annie..dia begitu marah dan sedih pada keadaan kenapa takdir begitu jahat pada sahabatnya.
Sementara Annie..dia hanya tersenyum mendengar omelan sahabatnya..dia senang di perhatikan dan di perdulikan sahabatnya..rasanya tidak ingin meninggalkan sahabatnya tapi apalah daya takdir telah mempermainkannya.
Sudah hampir 1 tahun Annie menjalani pengobatan tapi hasilnya hanya bertahan beberapa waktu satu-satunya jalan agar gadis itu sembuh adalah operasi tapi sampai saat ini belum ada yang cocok dengannya.
__ADS_1
"Jika memang waktuku tak banyak lagi maka berikanlah sedikit kebahagiaan di sisa hidupku ini tuhan".