
Bryan menuju ke tempat dimana Caitlin di kurung..sesampainya di sana Bryan tersenyum melihat perempuan tak berhati itu tengah menjerit-jerit minta di lepaskan.
"Bagaimana kabarmu jallang?"
Kemuculan Bryan membuat tubuh Caitlin langsung gemetar..dia yang awalnya berteriak dan menjerit kini terdiam dan beringsut mundur ke belakang untuk menghindari Bryan.
"B..Bryan..a..am..pun Bryan"
"Ampun..hahahaha ampun seperti apa yang kau maksud?"
Caitlin terdiam..niatnya ingin membalas dendam pada Bryan kini malah berbalik pada dirinya sial dia salah langkah dan perhitungan.
"Bryan maaf..maafkan aku please"
"Maaf..tiada kata maaf untuk wanita dajjal sepertimu"
"Ampun Bryan..Via juga masih hidup kan jadi tolong lepaskan aku"
Pranggg......
__ADS_1
Meja kaca dekat kursinya pecah karena tinjuan tangan Bryan yang begitu kuat hingga tangannya berdarah namun tak sesakit mendengar ucapan wanita dajjal itu.
"Enak sekali kau minta di lepaskan hahh..kau tau aku hampir kehilangan wanitaku,keluarganya hampir kehilangan nya dan temannya hampir kehilangan dia juga lalu dengan enak dan mudahnya mulutmu bicara begitu..apa kau waras sialan..kau harusnya merenungkan kesalahanmu bukan malah seperti ini,kau tau jika saja wanitaku tak kembali maka kau akan ku buat lebih menderita mendekati kematianmu bersyukurlah karena dia kembali padaku lagi..nikmatilah setiap goresan yang ku berikan untukmu sialan aku tak akan mudah melepaskanmu sebelum kau benar-benar menderita di tanganku..bersiaplah menerima siksaan dariku"
Setelah berkata seperti itu Bryan mengambil sebuah besi yang sudah di panaskan terlebih dahulu oleh anak buahnya..dia menyeringai melihat besi di depannya masih mengepul dan merah membara sepertinya pertunjukkannya sangat menarik.
Bryan mengikuti ajaran Gio dan Gian dalam menyiksa musuh..dia menghilangkan sisi ibanya dengan memikirkan kehidupannya tanpa Via di sisinya..mengingat itu membuat darahnya mendidih kembali.
Dia mengambil besi panas itu dengan sarung tangan dan juga penjepit agar panasnya tak mengenai tangannya..setelah itu besi yang masih membara itu dia dekatkan pada Caitlin yang sebelumnya sudah di pegang oleh anak buah Gio.
"Nikmatilah siksaan pertamaku bedebah"
Bryan menempelkam besi membara itu pada paha dan lengan Caitlin dan membuat Caitlin menjerit dan meronta dalam genggaman anak buah Gio.
"Arkhhhhhhhhhhh"
"Sakittttttt..lepaskannnnn akuuuuuuu aaaaaaaaaaaa"
Caitlin terus berteriak kesakitan hingga tak sadarkan diri..cih baru segitu sudah pingsan..benar-benar menjengkelkan..merusak kesenangannya saja.
__ADS_1
"Siram dengan air"
"Baik tuan"
Anak buah Gio menyiram Caitlin dengan air dingin dan langsung membuat Caitlin tersadar kemudian meringis merasakan sakit yang amat luar biasa hingga bisa membuatnya mati rasa.
"Aku belum puas bermain sialan jadi jangan pingsan karena aku tak akan segan untuk menghancurkan wajah burukmu itu"
Bryan kemudian meraih cambuk kawat berduri yang biasanya di pakai Gian atau Gio dalam mengeksekusi korbannya..Bryan melihat cambuk itu dan tersenyum..dia melirik Caitlin yang kini tengah menangis.
"Apa kau mau mencobanya jallang sialan?"
Caitlin menggelengkan kepalanya dengan tatapam memohon..sungguh jika begini dia lebih memilih mati saja karena tak kuat menahan siksaan Bryan.
Dia kira Bryan hanya bisa menggertaknya saja tapi ternyata dugaannya salah..dia salah mencari lawan..dia terlalu terburu-buru..sekarang menyesal tiada guna..nasi sudah menjadi bubur.
Cetarrr.......
"Arghhhhhh"
__ADS_1
Cetarrr.....
"Arghhhhhh"