
"Mom..dad..sudahlah kalian ini seperti anak kecil saja..biarkan kau Sean memilih jalannya sendiri" Rico si bontot
"Yayya kau benar" Nila dan Erick
Mereka mengobrol dengan penuh kehangatan..inilah yang Sean sukai dari keluarganya..selalu hangat di setiap moment..tidak pandang kasta tinggi atau rendah semua di sama ratakan karena mereka pernah berada di titik terendah juga.
Keluarga Wilson selalu mengajarkan cara menghargai orang lain juga kehangatan agar mereka nyaman berada dalam lingkungan keluarga Wilson.
Tidak ada yang memberontak atau membengkok dari jalur yang seharusnya mereka lewati..hanya satu yang sedikit berkelok yaitu Gian..ya bocah itu sedikit berkelok ketika frustasi hingga menghamili bahkan mengasari wanita yang dia cintai karena emosi sesaat.
Namun itu tidak bertahan lama karena ketika dia di tinggalkan oleh orang yang dia cintai dia seperti orang gila..itu cukup membuat Gian sadar bahwa apapun yang terjadi kepala dingin selalu di utamakan.
Baik Rey maupun Erick mereka selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan sehari-hari mulai dari yang tersimple hingga rumit..mereka ingin kelak ketika mereka sudah tiada anak-anaknya sudah berhasil meraih cinta keluarga juga orang lain yang dia cintai juga.
*
*
"Ya sudah mommy pulang dulu son..kau jaga dia baik-baik kalau tidak akan mommy carikan oria lain untuk nya" Nila
"Iya mommy ku yang paling cantik" Sean.
"Son Daddy pulang dulu..jaga dia" Erick
"Ka kami pulang dulu" Rico
"Hati-hati" Sean
Setelah kepergian keluarganya kini tersisa lah dia dan Percy tapi tak begitu lama kemudian Griffin masuk dengan membawa serta makanan untuk nya juga untuk Griffin sendiri.
"Tuan makanlah dulu" Griffin
"Hm..kau juga" Sean.
"Iya tuan" Griffin
Mereka makan dengan tenang..sesekali saling tanya jawab entah apa yang di tanyakan juga apa yang menjadi jawaban hanya mereka berdua yang tau.
Selesai makan Sean memilih berbaring di sebelah Percy sementara Griffin kembali ke apartemennya dan menempatkan 4 orang penjaga untuk mengawasi dan mengamankan ruangan Percy.
Tak lupa Sean sudah mengunci pintu nya agar tak ada yang menggangu nya dengan Percy..dia tak mau terjadi hal serupa cukup sekali dan tak ada kedua kali.
*
*
__ADS_1
# Di Markas Kematian #
"Arghhhhhh ampuuunnnnn sakitttttt"
"Arghhhhhh maafkan sayaaaaa arghhhhhh"
"Ampuuunnn arghhhhhh"
Suara teriakan ketiga pria yang sudah Bernai mengganggu ketenangan salah seorang keluarga Wilson sangat menyayat hati.
Kedua orang yang tengah melukiskan ujung runcing sebuah bilah tajam pada punggung ketiganya terlihat sangat menikmati kegiatannya.
Setetes cairan kental merah langsung merembes keluar dari bekas ukiran yang kedua pria itu gores..kegiatan itu sudah berlangsung lebih dari 1 jam lamanya.
Lukisan abstrak yang kedua pria itu ukir terlihat tak beraturan karena memang tidak ada niatan menjadi pelukis.
"Bagaimana apa masih kurang?" Gio
"Tu..tuan..arkhhh sakitttttt maafkan kami t..tuan..am..punnn"
"Sakit..lalu bagaimana dengan wanita itu?..apa kalian memikirkan kondisi nya juga?.. pernahkah kalian berfikir ada di posisi adikku?..pernahkah kalian berfikir menjadi dirinya?..dimana otak kalian?..hanya karena kalian di pecat dari perusahaan kalian lekas membalaskan dendam yang sama sekali bukan kesalahan nya?..apa kalian pernah berfikir dimana letak kesalahan kalian sendiri hah?" Gio murka.
Ketiganya hanya diam tak berani menjawab ataupun membantah.. Gio benar apa mereka pernah berfikir bagaimana jika mereka dalam posisi Percy dan Sean.
"Pikirkan baik-baik letak kesalahan kalian sendiri..apa kurangnya perusahaan dalam menggaji dan menjamin setiap kemakmuran karyawan nya..setiap tahun akan selalu di berikan bonus yang jumlahnya bahkan bisa di bilang dua kali dari gaji yang kalian terima bukan..apa kalian melupakan itu..tanyakan pada keluarga kalian yang memiliki anak-anak atau orang yang masih menimbah ilmu kami biayai,yang sakit dan melahirkan kami tanggung dan beri cuti sampai sakitnya sembuh atau bayinya bisa di tinggal..andai kakek ku tau kelakuan kalian bertiga sudah bisa di pastikan kalian akan mendekam dalam penjara bukannya di pecat asal kalian tau" Gio
"Maafkan kami tuan..amp..un"
"Kami me..nyesal tua..n"
"Hahahaha menyesal tiada guna saat ini..nikmatilah penderitaan yang kalian ciptakan sendiri.. nikmatilah setiap goresan dan luka yang kalian terima..renungkan kembali apa yang salah dari diri kalian" Arick
"Penjaga" Gio
"Ya tuan"
"Siksa dan jangan biarkan sampai mati karena adikku masih ingin mengambil bagiannya..jangan sampai tangan dan matanya terluka sedikitpun karena itu yang di inginkan oleh adikku..kalian mengerti?" Gio
"Mengerti tuan"
"Bagus..Arick ayo pulang aku lelah" Gio
Selepas kepergian Gio dan Arick..anak buah Gio mulai menyiksa tubuh ketiga orang itu tanpa melukai mata juga tangan mereka sesuai perintah dari atasannya.
*
__ADS_1
*
"Enghhh..aku dimana?" Percy
Percy melihat sekelilingnya dan tampaklah seperti rumah sakit..apa dia di rumah sakit.. bagaimana dengan Sean..apa dia baik-baik saja..lalu apa dia sudah ternoda..tidak..tidak..tidak mungkin..itu tidak mungkin.
"Tidak..hiks..tidak.." Percy
Percy merasakan seperti ada seseorang di sisinya..dia melihat ke sebelahnya dan melihat seorang pria tengah terlelap sambil menenggelamkan wajahnya pada bahu Percy.
Percy yang melihat itu langsung reflek menjerit dia teringat lagi kejadian dimana dia hampir di lecehkan atau malah sudah di lecehkan dia tak tau.
"Arghhhhhh PERGIIII.. arghhhhhh " Percy
Sena terbangun karena mendengar jeritan dari Percy..dia melihat Percy tengah meingkuk dengan badan membelakangi nya.
"Hey Percy you ok!" Sean
"PERGIIII..jangan sentuh akuuuuu..
arghhhhhh" Percy
"Hey ini aku Sean..tenanglah" Sean
Sean merengkuh Percy yang terlihat gemetaran..terlihat sedikit darah dari baju pasien yang Percy kenakan.
"Astaga kau berdarah lagi..tenang Percy jangan begini kau bisa infeksi jika seperti ini ssssttt tenang ya..ini aku Sean" Sean.
Percy perlahan-lahan mulai tenang..dia meringis kesakitan karena perutnya berdenyut seperti di tusuk jarum..dia mengencangkan rengkuhannya pada Sean.
"Ssshhh..sakitttttt" Percy meringis
"Huhh sudah tidak apa..bait aku panggil dokter" Sean.
Sean memanggil dokter untuk memeriksa dan mengecek luka dan kondisi Percy..saat dokter telah tiba tanpa Sean duga ternyata Percy semakin ketakutan..terlihat dari badannya yang gemetar.
"Jangan.. jangan.. mendekat.. PERGIIII PERGIIII" Percy
"Hey tidak apa-apa..aku di sini" Sean.
"PERGIIII.. PERGIIII jangan mendekaattttt arghhhhhh" Percy.
"Tuan sepertinya nona memiliki trauma dengan pria asing..sebaiknya saya panggilkan dokter wanita saja" dokter itu.
"Baiklah dok" Sean.
__ADS_1
"Sean..aku..aku takut hiks.. aku takut..dia..mereka..hiks..mereka ingin..hiks arghhhhhh" Percy
"Hey tenang Percy..ssssttt tenang"