
Jamuan makan malam akan segera di mulai. Aluna dan Alvin sengaja datang lebih dahulu menuju restoran yang sudah Aluna reservasi sebelumnya. Mereka tampak serasi, Aluna mengenakan dress panjang warna cream keemasan, sementara Alvin mengenakan jas beserta kemeja warna senada dengan gaun yang dikenakan Aluna.
"Selamat datang, selamat malam Tuan dan Nyonya." Petugas resepsionis menyapa mereka berdua.
"Selamat malam," sahut Aluna, "bisakah Anda membantu kami menunjukan tempat duduk yang sudah kami reservasi?"
Petugas resepsionis mengecek di komputer nomer pesanan yang sudah di reservasi Aluna. "Bolehkah Anda menyebutkan nama pemesannya atas nama siapa, Nyonya?" tanyanya kepada Aluna.
Aluna berjalan mendekati meja resepsionis. "Kami sudah memesan beberapa jam yang lalu atas nama Alvin Wiratama," jawabnya.
Resepsionis kembali mengecek di komputernya. Namun, sayangnya data pemesanan mereka tetap tidak di temukan. "Mohon maaf, dari data yang saya lihat. Tidak ada pemesanan atas nama Alvin Wiratama hari ini. Bagaimana kalau saya pesankan untuk waktu lainnya, Nyonya?"
"Bukankah beberapa jam yang lalu Sekretaris Fang sudah memesannya?" Aluna kembali meyakinkan petugas resepsionis.
Setelah mengecek untuk yang ke dua kalinya, tetap saja data tidak ditemukan.
"Mohon maaf, kami tidak menemukan data pemesanan atas nama Tuan Alvin Wiratama," ucap petugas resepsionis.
"Kalau begitu bolehkah aku memesan langsung sekarang meja eksklusif di restoran ini?" Aluna berujar dengan wajah kecewa.
"Maaf, Nyonya untuk pemesanan meja ekslusif kami sudah terisi penuh. Kalau Anda mau, saya bisa pesankan untuk esok hari."
Melihat perubahan ekspresi Aluna, Alvin langsung mendekatinya. Dia pun bertanya apa yang terjadi kepada Aluna, kenapa wajahnya mendadak murung? Aluna menjawab ada kendala dengan reservasi yang dia buat untuk restoran ini.
"Padahal aku sudah menyuruh sekretaris Fang untung memesan restoran ini beberapa jam yang lalu. Tetapi, dia berkata kalau reservasi dibatalkan. Sepertinya kita harus menanyakan kepada sekretaris Fang sekarang," kata Aluna.
__ADS_1
Alvin langsung menghubungi Asistennya di menit itu juga.
^^^"Halo, Tuan."^^^
"Apa kamu yang membatalkan reservasi di Restoran Hanggang?" Alvin bertanya kepada sekretaris Fang di telepon.
^^^"Betul, Tuan. Nona Helen yang menginstrukanku untuk merubahnya. Bukankah, Nona Helen sudah memberitahukannya langsung kepada Nona Luna kalau reservasi dirubah ke Restoran Namelix?"^^^
Wajah Alvin mendadak masam.
"Helen sudah tidak bekerja lagi padaku! Kenapa kamu mengikuti sarannya?" ketus Alvin menggerutu sekaligus geram.
^^^"Ma-maafkan aku Tuan. Aku pikir saran Nona Helen sangat bagus mengingat dia sering melakukan pertemuan dengan klien Korea."^^^
"Tidak bisa diandalkan!"
Karena reservasi dibatalkan, mereka berdua kembali lagi ke dalam mobil. Percuma saja kalau mereka berada di restoran kalau sudah tidak ada yang bisa mereka pesan, mengingat Restoran Hanggang adalah restoran mewah yang hanya akan melayani tamu yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu.
"Apa kamu tahu restoran Namelix?" tanya Aluna kepada sopir pribadinya.
Menurut sopir pribadinya, restoran yang ditanyakan Aluna adalah restoran Korea yang terdapat di pelosok. Restorannya pun berdekatan dengan warung pinggir jalan dan sangat kecil, dia ragu untuk mengantar nona mudanya ke sana.
"Kalau begitu aku lihat dulu di Map seperti apa restoran yang dipesan wanita licik itu?" Aluna lalu mencari informasi di handphonenya.
"Benar, restoran yang dimaksud adalah cafe kecil di pinggiran jalan. Aku yakin ini adalah cara liciknya agar klien Korea merasa kecewa dan marah terhadapku." Aluna berkata kepada Alvin. Lelaki itu pun mulai mengerti apa maksud dari kata-kata Aluna, yang menurutnya memang masuk akal.
__ADS_1
Benar-benar wanita yang licik, gerutu Aluna dalam hati.
Alvin mulai memijat pelipisnya, menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia tidak tahu harus membawa Tuan Dae Jung ke mana lagi, sementara sebentar lagi mereka akan sampai ke restoran.
"Aku punya ide," kata Aluna tiba-tiba.
"Apa idemu?" tanya Alvin.
Setelah Aluna memberitahukan idenya, wanita itu lalu menelepon sekretaris Fang untuk mengantar Tuan Dae Jung berjalan-jalan dahulu ke market jual beli bahan-bahan makanan Korea. Dia menyarankan sekretaris Fang agar mengulur jam makan malam dengan membawa Tuan Dae Jung berkeliling market, kebetulan teman Alvin yang ditunjuk sebagai penerjemah pengganti ikut bersamanya.
"Lalu setelah ini apa lagi yang akan kamu lakukan, Luna?" Alvin bertanya lagi.
Aluna tersenyum manis ke arah Alvin, dia lalu menjabarkan ide yang ada di otaknya. "Biarkan sekretaris Fang mengajak jalan-jalan dulu Tuan Dae Jung dan beberapa asistennya. Biarkan mereka memilih sendiri bahan makanan yang cocok dan segar di market jual beli bahan makanan Korea. Setelah itu kita bisa menyuruh koki villa untuk menyiapkan bahan-bahan autentik yang mereka beli. Aku sendiri yang akan memasaknya khusus untuk Tuan Dae Jung malam ini." Aluna berkata panjang lebar menjelaskan kepada Alvin.
Alvin merasa puas dengan ide yang ada di otak Aluna, walaupun dia sendiri sangat ragu kalau Aluna bisa memasak. Karena yang Alvin tahu, Luna adalah anak orang kaya yang manja, tidak pernah sekalipun memasak, apalagi masakan Korea.
"Luna, apa kamu yakin bisa memasak makanan Korea?" Alvin melontarkan pertanyaan lagi kepada Aluna.
Aluna mengangguk menanggapi dengan senyuman. Tentu saja bisa, Aluna di dunia nyata pernah bekerja di restoran Korea sebagai asisten koki. Walaupun hanya beberapa bulan dan bukan sebagai koki utama, dia sedikit paham cara membuat beberapa masakan lokal Korea.
"Aku sudah pernah memasaknya dulu, aku yakin akan berhasil 100% dan janji tidak akan mengecewakanmu." Aluna berkata sambil menunjukkan jari kelingkingnya. "Bukankah, kalau istri presdir yang membuatnya langsung akan menjadi nilai tambah dalam melayani klien?"
Mendengar penjelasan Aluna, Alvin semakin kagum dan yakin istrinya akan berhasil. Alvin merasakan kalau istrinya kali ini banyak membantunya.
"Benar juga katamu, Luna. Tuan Dae Jung pasti akan merasa tersanjung karena mendapat perlakuan istimewa. Terima kasih, Luna sudah membantuku. Aku akan menyuruh koki villa untuk membantumu memasak." Alvin memeluk Aluna sebagai ucapan terimakasihnya.
__ADS_1
Aku tetap jauh lebih pintar darimu, Helen.