
Mata Aluna menelisik berusaha menyelami perubahan ekspresi wajah sekretaris Fang begitu mendengar penerjemah tidak hadir. Dari analisisnya Aluna berpikir mungkin kedatangan penerjemah itu sangat penting sehingga membuat wajah sekretaris Fang terlihat sangat cemas.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba suara sistem terdengar di telinga Aluna.
...[Helen telah merubah jadwal lewat email, sehingga penerjemah tidak bisa datang hari ini.]...
Jadi ini semua karena ulah wanita sialan itu? Tak bisa dibiarkan! Jangan-jangan dia memanfaatkan kesempatan ini agar bisa bekerja lagi dengan Alvin?
***
Di Kediaman Hideon.
Helen kembali ke rumah dengan wajah penuh amarah dan kesal. Bagaimana tidak, impiannya yang dari dulu, musnah sudah ketika Alvin mengatakan tidak akan memperkerjakannya lagi. Amarahnya yang ia tahan saat berada di bar, kini benar-benar memuncak ketika sudah sampai di dalam kamarnya.
"Tidak berguna!!"
Brak!
Helen yang sedang berdiri di depan cermin, menepis dengan kasar semua peralatan riasnya ke lantai. Ia benar-benar dibuat frustrasi. "Aku tidak akan menyerah Alvin!" pekiknya dengan nada tinggi.
Padahal Helen sudah berusaha maksimal, kecantikan, kepintaran sudah ia tunjukan di depan Alvin, agar lelaki itu bisa tertarik. Melakukan berbagai perawatan wajah dan tubuh, bahkan Helen sempat menjalani operasi wajah agar bisa terlihat sempurna. Sayangnya sedikit lagi ketika dia akan memiliki sepenuhnya, lelaki itu lebih dulu menikahi Luna kakak tirinya hanya karena perjodohan konyol kakek Alvin.
Ya, dahulu mereka sempat dekat. Walupun Alvin tak sempat mengatakan cinta, tetapi Helen sangat yakin kalau lelaki itu telah mencintainya, karena yang dia tahu Alvin tak pernah dekat dengan wanita mana pun, selain dirinya.
Sebelum Alvin menikah, seluruh karyawan bahkan teman-teman sejawat Mona menyangka Helen lah yang akan bersanding sebagai istri Alvin, melihat mereka selalu pergi berdua ke mana pun. Namun, impiannya pupus sudah begitu mendengar Alvin sudah menikahi kakaknya dalam waktu yang begitu singkat, bahkan dia sendiri tak ikut menyaksikan pernikahan mereka.
Mendengar keributan di kamar Helen, Mona segera berlari dan masuk ke dalamnya. Begitu dia membuka pintu, matanya langsung di hadapkan oleh beberapa alat rias yang berserakan di lantai. "Ada apa, Nak? Kenapa semuanya berantakan?"
__ADS_1
"Alvin tidak akan menerimaku bekerja lagi dengannya!" seru Helen sembari mengacak-acak rambutnya.
"Itu tidak akan terjadi, Nak. Keputusan selanjutnya ada pada Tuan Anming, lagi pula Luna belum memiliki bukti apa pun. Bersabarlah, aku akan berusaha mengembalikan posisimu lagi." Mona langsung memeluk tubuh Helen, dia benar-benar menyayangi anak semata wayangnya itu.
"Tapi sampai kapan? Apa aku harus menghabisi Luna dahulu, baru aku mendapatkan hubungan baik lagi dengan Alvin?" Helen terlihat tidak sabar.
Di saat Helen sedang merajuk, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari rekan kerjanya yaitu sekretaris Fang. Lelaki yang sedang kebingungan mencari penerjemah itu menghubungi Helen hendak mengabarkan kalau dia sedang membutuhkannya. Sekretaris Fang mengira, Helen bukan dipecat melainkan sedang cuti berbayar selama beberapa pekan.
^^^"Halo, Helen. Bisakah kamu mencarikanku pengganti penerjemah sekarang? Penerjemah yang sudah aku hubungi ternyata berhalangan hadir," ucap sekretaris Fang di telepon.^^^
Mendengar rencananya berhasil, Helen tersenyum penuh kelicikan. Ya, Helen sangat mahir berbahasa Korea, dia sangat yakin dengan tidak hadirnya penerjemah. Alvin akan memohon agar dia kembali bekerja.
"Apa kamu yakin dia tidak hadir? Kalau begitu, di manakah sekarang Tuan Alvin? Apa dia menanyakanku?" tanya Helen.
^^^"Tuan Alvin tengah sibuk bersama beberapa atasan perusahaan lainnya, sedang menunggu beberapa klien korea. Helen, sebenarnya aku tak ingin mengganggu cutimu. Namun, waktuku tinggal lima belas menit lagi. Tuan Dae Jung sebentar lagi akan sampai, bisakah kamu membantuku sekarang?" tanya sekretaris Fang.^^^
"Kalau begitu, tunggu aku di sana. Aku akan datang secepatnya," balas Helen, wajahnya mendadak sumringah.
Helen dengan percaya diri menuju perusahaan Alvin. Dia sangat yakin, dalam suasana terdesak seperti sekarang, Alvin tidak akan menolaknya lagi. Helen yakin, dengan ia bisa berbahasa Korea tanpa penerjemah pun dia bisa menghadapi Tuan Dae Jung yang lebih suka berbahasa Korea ketika membicarakan bisnis. Wanita itu juga yakin, kalau dia berhasil mengambil hati Tuan Dae Jung agar mau bekerja sama dengan Alvin, maka suami Luna itu akan mengajaknya bekerja lagi.
***
Di Perusaan Alvin.
"Tuan, ada hal penting yang harus aku bicarakan sekarang," ucap Sekretaris Fang berbisik.
Kemudian mereka berdua menepi di sudut ruangan. Sementara Aluna hanya memperhatikan dari jauh. Dia sendiri tidak berani mendekati Alvin, masih menerka-nerka masalah yang sedang dihadapi suaminya itu.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Alvin.
"Tuan, maafkan aku." Terlihat wajah sekretaris Fang yang menunduk ketakutan.
"Cepat katakan! Waktuku tidak banyak," ucap Alvin sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tuan, penerjemah yang sudah aku hubungi tidak bisa datang. Dia mengatakan kalau aku salah memberikan jadwal. Padahal aku yakin, waktu yang aku kirimkan sama persis dengan jadwal hari ini. Tuan kalau tidak percaya, aku bisa tunjukan di ruangan," kata sekretaris Fang dengan tubuh gemetar.
"Apa?" ekspresi wajah Alvin langsung berubah merah padam. "Jangan main-main! Tuan Dae Jung akan hadir dalam waktu sepuluh menit lagi. Dalam keadaan terdesak seperti ini, kamu malah bertindak ceroboh!" ketus Alvin marah.
"Maafkan aku, Tuan! Tetapi, aku yakin kalau jadwal yang aku kirim adalah sama."
"Kalau sama, kenapa penerjemah tidak hadir?" tanya Alvin terlihat gusar. Lelaki itu sempat berpikir menghubungi temannya yang bisa berbahasa Korea. Namun, melihat waktu tinggal beberapa menit lagi, mana mungkin temannya itu akan datang tepat waktu, sementara kehadiran Tuan Dae Jung tidak bisa diundur. Pikiran Alvin langsung kalut detik itu juga.
"Aku tidak peduli! Cari penerjemah sampai dapat sebelum Tuan Dae Jung datang sebentar lagi! Atau--" ketus Alvin.
Sementara, Aluna yang masih berdiri di tempat yang tidak jauh dari Alvin, sedang berbicara dengan sistem.
"Miss K, kenapa Alvin secemas itu begitu mendengar penerjemah tidak datang? Apa Alvin tidak bisa berbahasa Korea?" tanya Aluna kepada sistem.
Kalung sistem yang ditepuk, langsung berkedip.
...[Alvin tidak terlalu menyukai Korea, sehingga dia tidak ingin mempelajari bahasanya, tetapi walaupun dia tak menyukainya, Alvin sangat tahu etika Korea.]...
Aluna baru paham mengapa wajah suaminya bisa terlihat lebih cemas dibandingkan sekretaris Fang. Itu karena dia tidak mau kliennya sampai tidak jadi bekerja sama dengannya, hanya karena bahasa.
"Miss K, kalau Alvin tidak bisa berbahasa Korea, lalu bahasa apa yang sudah Alvin kuasai?" tanya Aluna lagi kepada sistem.
__ADS_1
Kalung sistem langsung berkedip memancarkan sensor berwarna merahnya.
...[Alvin menguasai tiga bahasa, yaitu: Bahasa inggris, jerman dan prancis.]...