TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Biro


__ADS_3

Waktu semakin dekat, Alvin malah mengacaukan apa yang sedang direncanakan Aluna dengan menyuruh empat orang pengawal untuk menjemputnya. Sekarang mereka sudah berdiri di depan mobil, hendak memasukan dengan paksa Aluna kedalamnya.


"Lepaskan aku!" tegas Aluna, tangannya mencoba lepas dari cengkeraman dua pengawal pria itu. Namun sekeras apapun Aluna mencoba melepaskannya, tetap saja tak bisa ia lepas. Malah membuat lengannya menjadi sakit.


Dua pengawal memegang tangan Aluna, sementara dua orang lainnya hendak mengangkat tubuhnya agar Aluna tak memberontak lagi.


"Apa yang akan kalian lakukan?" Mata Aluna membulat sempurna ketika tubuhnya hendak disentuh dua orang itu. Secepat kilat kaki kanannya menendang salah satu pengawal.


Bug.


Belum sempat diangkat, tendangan kaki Aluna tepat mengenai muka salah satu pengawal Alvin, "Kalau sampai kalian berani mengangkat tubuhku, aku akan menendangnya lebih keras lagi!"


Telapak kaki Aluna masih berada di depan muka pengawal itu, jelas pria yang barusan ditendangnya tak balik melawan, karena bagaimanapun juga Aluna masih tetap majikan mereka.


"Nona, maafkan kami karena bertindak lancang. Tolong kami ikutlah ke Biro Politik Ming sekarang. Kalau kami tak bisa membawa nona, kami bisa dipecat Tuan Alvin."


"Benar, Nona. Kami masih punya keluarga yang harus dihidupi. Berbaik hatilah kepada kami dan kami tak akan memaksa anda lagi, Nona."


Empat orang pengawal itu berlutut memohon kepada Aluna, agar wanita itu dengan sukarela mengikuti apa yang diperintahkan tuannya.


Melihat raut memelas mereka, Aluna sedikit terenyuh. Gadis yang masih kesal itu akhirnya menuruti kemauan mereka masuk ke dalam mobil. Ia benar-benar marah terhadap Alvin, ingin memberi perhitungan terhadap pria angkuh itu.


Mobil melaju meninggalkan rumah Luna, membawa Aluna ikut bersama mereka. Kesal campur marah membuat gadis itu tak berhenti menyumpahi Alvin.


Andaikan aku adalah tyrannosaurus aku ingin memakan hidup-hidup kamu, Alvin! batin Aluna kesal.


Selalu saja usahanya dipersulit pria satu itu. Pria tampan yang begitu menjengkelkan. Bahkan menurut Aluna, ketampanan Alvin semakin memudar setiap kali ia memarahinya. Aluna membayangkan Alvin adalah seorang Monster Godzilla yang menyemburkan api siap mengajaknya bertarung.


"Halo Luna!"


Baru saja Aluna menghubungi Alvin, Pria itu dengan cepat menjawab teleponnya.


"Aku tidak peduli siapa anda. Kenapa selalu saja mempersulit setiap misi ku? Apa sebenarnya yang anda mau? Bukankah anda ingin bukti, Tuan?" teriak Aluna di telepon, kali ini gantian Aluna yang memarahinya.


"Tentu saja, Luna. Aku tidak akan lupa kalau malam ini kamu mengajakku ke Cafe Miracle bukan?" Alvin menjawab di telepon dengan santai. Dia tersenyum karena Luna meneleponnya duluan.

__ADS_1


Aluna mendengus kesal, menghembuskan nafasnya kasar, "Lalu mengapa anda menyuruhku mendatangi Biro Politik Ming? Bukankah kalau aku berhasil menunjukkan bukti itu anda tidak akan menceraikan ku?"


"Tentu saja istriku, Aku tidak akan menceraikan kalau kamu terbukti tidak bersalah," jawab Alvin di telepon. Ternyata ia juga sedang dalam perjalanan menuju Biro Politik Ming.


"Kalau begitu untuk apa aku ke sana kalau masalahnya belum selesai?" tanya Aluna semakin emosi.


"Luna, gugatan yang aku buat sudah dicatat di Biro politik Ming. Hari ini adalah jadwal kita ke sana, kita harus mengikuti semua tahapan prosedurnya." Dengan dinginnya Alvin menjawab di telepon.


"Apa? Jadi an-"


pet.


Belum sempat meneruskan kata-katanya Alvin sudah lebih dulu menutup teleponnya.


"Ah, sial! Monster godzila!" umpat Aluna.


Aluna memutar otaknya agar menghindari prosedur perceraian itu. Tak begitu bersemangat Aluna mengambil handphone di sakunya lalu memutar video itu lagi.


Benar-benar sangat mirip, batin Aluna.


Sayangnya saat ini juga, ia harus menuju Biro politik Ming. Entahlah ia sendiri belum terlalu paham apa saja prosedur yang akan dilaluinya nanti.


Sepertinya aku hanya mengandalkan keberuntungan untuk misi hari ini, batin Aluna.


Tak butuh waktu lama, mobil mereka telah sampai di depan Biro Politik Ming. Aluna lalu turun dari mobil, berjalan menuju pintu masuk kantor itu. Tatapannya begitu sangat tajam ketika melihat pria angkuh yang berdiri tidak jauh darinya. Rupanya Alvin sudah sampai lebih dulu, sengaja menunggunya untuk masuk ke dalam bersama.


"Selamat datang Tuan Alvin dan Nona Luna. Kami persilahkan anda mengisi formulir terlebih dahulu." Salah seorang staf kantor menghampiri mereka, mengarahkan mereka agar mengisi beberapa data yang belum dilengkapi.


Aluna langsung memalingkan mukanya, merasa kesal, tidak ingin sampai pandangan mata mereka bertemu, Aluna memilih duduk menjauhinya. Sedangkan Alvin tampak tenang, ia lalu mengambil bolpoin di kemejanya, mengisi beberapa formulir yang disodorkan staf kantor kepadanya.


Suasana Biro politik Ming sedang sangat sibuk. Dua orang staf melayani mereka berdua, menunjukan bagian mana yang harus mereka isi. Saat formulir itu di berikan kepada Luna, gadis itu diam sejenak. Melirik sepintas ke arah Alvin, tersenyum miring berniat mengacaukan pria itu. Terlintas sebuah ide untuk melawan balik Alvin.


"Nona, isi biodata anda disini," ucap staf kantor pria menunjuk sebuah kertas kepada Aluna.


Aluna menyingkirkan kertas itu lalu mulai memainkan drama yang dirancang di otaknya.

__ADS_1


"Tuan! Tolonglah aku, pria ini sangat kejam. Hiks.." Aluna menunjuk Alvin dan mulai mengeluarkan air mata palsunya.


Mendengar seorang wanita menangis meminta pertolongan, beberapa staf lainnya tiba-tiba mengerubungi mereka. Begitu simpatik ketika melihat Aluna mengeluarkan air mata.


"Apa?" Alvin tercengang dengan apa yang di dengarnya, ia begitu kaget ketika beberapa orang mendekatinya, "Luna! Apa yang kamu katakan tadi?"


Aluna tersenyum menang, ia lalu berdiri di tengah-tengah mereka.


"Benar, nyonya, tuan. Pria ini sangat kejam, bisa-bisanya ia ingin menceraikan ku begitu saja, ia juga berniat menelantarkan anak kami...." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Aluna.


Tentu saja itu hanya sandiwara di depan semua staf dan beberapa orang yang sedang ada urusan di kantor itu.


Beberapa orang saling berbisik dan mulai membicarakan Alvin. Mendengar Luna mengatakan itu, tatapan mata Alvin begitu tajam seakan ingin mencabiknya.


Apa yang sudah kamu katakan Luna? Anak? Bahkan aku belum memiliki anak darimu! batin Alvin.


"Tuan! Anda tidak seharusnya memperlakukan seorang wanita seperti itu!" Seorang wanita yang sedang mengurus perceraian mendekati Alvin memarahinya. Rupanya kasus yang menimpanya sama seperti Aluna.


"Tolong aku, Nyonya!" ucap Aluna kembali memohon.


"Tuan, aku kira ketika melihat penampilannya, anda adalah seorang pria terhormat yang tidak akan menelantarkan anaknya. Ternyata anda sama bajingannya dengan suamiku." Seorang ibu disebelahnya menimpali membela Aluna.


Sekarang Alvin dicecar beberapa orang, khususnya wanita. Alvin terus menatap Luna berharap wanita itu menarik kembali kata-katanya.


Luna! Lihat saja nanti, aku akan memberikan perhitungan kepadamu! batin Alvin.


.


.


##


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2